POJOKSATU.id, JAKARTA—Tidak saja ijazah bapaknya Jokowi yang bermasalah, ijazah anaknya Gibran Rakabuming Raka juga dipertanyakan publik saat maju sebagai Walikota Solo.

Nurmadi H Sumarta, pemerhati sosial dan ekonomi dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta mempertanyakan bagaimana proses pendaftaran Jokowi dan Gibran saat di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

UNS Surakarta merupakan PTN yang berlokasi di Kota Surakarta atau Solo, satu lokasi dengan kediaman Jokowi dan Gibran selama ini.

Nurmadi juga ikut menanggapi pernyataan politikus senior PDIP Beathor Suryadi atau Bambang Suryadi soal dokumen ijazah Jokowi yang dicetak di Pasar Pramuka Jakarta.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Anak Penjual Jerami, Raih Beasiswa UGM 2025 Kuliah Gratis, Ini Tips Lolosnya

Beathor menuding ijazah UGM Joko Widodo alias Jokowi dicetak ulang di Pasar Pramuka, Jakarta Pusat, menjelang pencalonannya sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012.

"Lalu bagaimana dulu proses pendaftaran, seleksi dokumen di KPU dan proses demokrasi berjalan," kata Nurmadi melalui keterangan tertulisnya, Rabu (25/6/2025).

Tak cuma itu, Nurmadi juga menyoroti status ijazah Wapres Gibran Rakabuming Raka.

"Sempat saat Walikota Solo tercatat lulusan S2 dari Australia. Namun dalam keterangan Kementrian Pendidikan ternyata setara SMK. Status ini juga perlu kejelasan," kata Nurmadi.

Baca Juga: Perkembangan Sidang Ijazah Mantan Presiden Jokowi di PN Sleman, Pihak UGM Beri Tanggapan 1 Juli Nanti

Menurut Nurmadi, hal ini menyangkut masalah kebenaran, integritas dan kejujuran.

"Pemimpin itu mestinya menjadi teladan dan segala hal," kata Nurmadi.

Ijazah Gibran Dipertanyakan

Sebelumnya, pakar telematika Roy Suryo mengatakan, dalam riwayat pendidikan yang dimuat website Pemkot Solo, tertulis bahwa Gibran menempuh S2 di University of Technology Sydney (UTS Insearch), Sydney, Australia. Gibran lulus pada 2010.

"Ternyata dia hanya menempuh program selama enam bulan, dan dia tidak lulus," kata Roy Suryo dalam keterangannya, Senin 28 April 2025.

Lucunya, sambung Roy Suryo, sertifikasi tidak lulus dari UTS Insearch itu kemudian dikomparasikan lewat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, ternyata hanya setara SMK.

Baca Juga: Telkom Dorong UMKM Disabilitas Jadi Pahlawan Ekonomi Lewat Program Expandable Heroes

Diketahui, sebelum Pilpres 2024 lalu, beredar surat yang mengungkap Gibran telah menyelesaikan pendidikan "Grade 12" di UTS Insearch, Sydney dengan memiliki pengetahuan setara tamat sekolah menengah kejuruan atau SMK dengan peminatan akutansi dan keuangan.

Surat penyetaraan itu dikeluarkan pada 6 Agustus 2019.

Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi menyatakan pendidikan terakhir Gibran setara dengan sarjana.

Selain pernah studi di UTS Insearch, Gibran juga melanjutkan pendidikannya ke Management Development of Singapore atau MDIS pada 2007 dan lulus pada 2010.

"Sebetulnya, penyetaraan ijazah hanya digunakan untuk melanjutkan studi pada jenjang yang lebih tinggi. Kalau di luar negeri, hal tersebut dilakukan oleh universitas yang akan menerima mahasiswa lulusan universitas dari negara lain,”kata Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nizam kepada Tempo pada Sabtu, 18 November 2023.

“Dalam Undang-Undang Pendidikan Tinggi pun, penyetaraan ijazah diatur untuk keperluan melanjutkan studi," katanya lagi.***