POJOKSATU.ID – Baru-baru ini kasus dugaan pungutan liar (pungli) dengan modus iuran pembangunan di SMAN 9 Tambun Selatan kian memanas.
Seperti diketahui, dugaan pungli ini mencuat di media sosial usai ratusan siswa SMAN 9 Tambun Selatan menggelar aksi demo.
Yang mana, aksi demo tersebut bertujuan untuk menuntut pihak sekolah agar memberikan pertanggungjawaban.
Menyikapi hal ini, pihak SMAN 9 Tambun Selatan sontak memberikan tanggapan usai didemo ratusan murid.
Sebagaimana dikutip Pojoksatu.id dari akun media sosial platform X milik @bambang314 pada Rabu (4/6/2025).
Dalam unggahannya, tanggapan tersebut disampaikan langsung oleh Sahri Ramadan selaku Humas SMAN 9 Tambun Selatan.
Sahri menuturkan dengan jelas bahwa pihak sekolah memang benar melakukan penagihan iuran kepada para orang tua murid.
Yang mana, iuran tersebut tidak lain disebutkan akan digunakan sebagai dana pembangunan fasislitas sekolah.
Sahri juga menambahkan iuran yang dikenakan kepada wali murid itu tidak bersifat wajib, melainkan kesukarelaan.
Baca Juga: Sosok Kurniawati, Kepsek SMAN 9 Tambun Selatan Didemo Ratusan Siswa Usai Diduga Pungli
“Memang ada sumbangan akademik dalam akademik. Tapi itu sifatnya tidak wajib bagi siapa saja yang ingin menyumbang,” jelasnya.
Namun, pengakuan Sahri ini justru dibantah oleh para murid SMAN 9 Tambun Selatan lantaran dinilai hanya membual.
Sebab, pernyataan pihak sekolah yang akan memperbaiki fasilitas SMAN 9 Tambun Selatan ini tidak sesuai dengan fakta lapangan.
Baca Juga: Resmi Berlaku 2025: Gaji dan Tunjangan ASN Naik, CPNS dan PPPK Formasi 2024 Diuntungkan!
Dikarenaakan, para murid mengaku bahwa fasilitas yang ada di lingkungan sekolah sama sekali tidak ada pembaharuan.
Sebagaimana yang ditanggapi langsung oleh salah satu murid kelas XI SMAN 9 Tambun Selatan berinisial RP.
Dalam pengakuannya, RP mengungkapkan dugaan pungli itu mencuat usai tidak adanya pembaharuan kondisi fisik sekolah.
Padahal, orang tua RP kerap kali membayar iuran pembangunan sesuai instruksi sekolah sebesar Rp500 ribu.
“Katanya untuk gedung. Tapi sampai sekarang masih begini-gini saja. Orangtua saya sudah bayar setiap tahun Rp500 ribu,” ucapnya. ***



