POJOKSATU.id, BLORA—Firasat tak biasa ditunjukkan Endang Murtini (60) salah satu korban kecelakaan di jalan lama Tawangmangu-Magetan tepatnya di Desa Gondosuli, Sabtu pagi (17/5).

Endang Murtini kerap memeluk anak sulungnya lama-lama yang bernama Choirul Anwar (39) setiap hari sebelum kejadian nahas itu terjadi.

Endang menjadi salah satu dari lima korban meninggal minibus Elf nopol S-7338-AA yang mengalami rem blong dan menabrak pembatas jembatan di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jateng.

Baca Juga: Buntut Kasus Pencabulan Oknum Guru Ngaji di Ponpes Aceh Selatan: Pelaku Sodomi Korban dari SD Hingga SMP

Endang Murtini merupakan warga Perumahan Mutiara, Blok B6-10, Balun, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jateng. Endang sudah dimakamkan Minggu (18/5) siang di kampungnya.

Choirul Anwar menceritakan hari-hari terakhir yang tak biasa bersama ibunya, namun baru diketahuinya hal itu sebagai firasat sesudah ibunya meninggal dunia.

Choirul mengaku memiliki firasat tak biasa sebelum ibunya meninggal, selama beberapa hari, ibunya kerap memeluk dan menunjukkan perhatian lebih dari biasanya.

Ia tidak menyangka perlakuan itu menjadi tanda perpisahan dari ibunya.

"Saya merasa itu firasat, meskipun saat itu belum menyadarinya," katanya, Minggu (18/5).

Baca Juga: 3 Anggota Keluarga Sumarsono Dimakamkan Berjajar Minggu Dinihari, Korban Kecelakaan di Tawangmangu

"Ibu selalu ingin dekat dengan saya, terus dada saya berdebar nggak karuan," katanya lagi.

Choirul mengenang ibunya sebagai sosok yang sangat penyayang dan dermawan.

Menurutnya, sang ibu tidak pernah marah meski pernah dibohongi oleh orang lain.

Ibunya sering mengatakan agar uang kita yang ditipu atau diambil orang agar dianggap sedekah.

Di mata Choirul, Endang selalu berusaha memenuhi kebutuhan mereka anak-anaknya dengan baik.

Baca Juga: Kronologi Kasus Oknum Guru Ngaji di Ponpes Aceh Selatan Ditangkap Polisi Usai Sodomi Dua Bocah

"Ibu orang yang luar biasa, selalu berusaha wujudkan keinginan anak-anaknya," ucap Choirul.

Ia juga mengingat pesan terakhir sang ibu yang memintanya menjaga adik-adiknya dan ayahnya.

"Jaga adik-adikmu, sama bapak, kamu yang paling dewasa dan mapan," katanya menirukan pesan ibu.

Meski kehilangan besar, Choirul tampak tabah menerima tamu yang datang melayat. Dia ikhlas melepas kepergian ibunya.

Jenazah ibunya tiba di rumah duka di Desa Cepu, Minggu (18/5) pukul 01.00 WIB dan dimakamkan pagi harinya pukul 10.00 WIB.

 Ada lima korban meninggal di kecelakaan Tawangmangu antara lain Endang Murtini (60) warga Cepu, Jateng, sementara empat korban lainnya merupakan warga Desa Padangan, Bojonegoro, Jatim yaitu Sri Mulyani (58), Atik (49), anak balitanya usia 5 tahun Salma, dan adik Atik bernama Ana Rubi (45).***