POJOKSATU.id, JAKARTA— Mayjen (Purn) TB Hasanuddin, anggota Komisi I DPR RI dari PDI Perjuangan menyesalkan insiden ledakan pemusnahan amunisi di Kabupaten Garut, Jabar.

Insiden ledakan amunisi ini menewaskan 4 prajurit TNI dan 9 warga sipil di lokasi pemusnahan di dekat pantai di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Garut, Senin pagi (12/5/2025).

TB Hasanuddin turut berbela sungkawa atas insiden tersebut. Dia menyebut penyebab ledakan amunisi memakan korban karena kesalahan prediksi petugas.

"Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga para korban mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, husnul khotimah," ujar TB Hasanuddin dalam keterangan resminya, Senin 12 Mei 2025.

Baca Juga: Teman Satu Letting Kapuspen TNI, Ini Sosok Kepala Puspalad Kolonel Antonius Hermawan Gugur di Garut

Hasanuddin menjelaskan bahwa amunisi yang diledakkan adalah amunisi kedaluwarsa, yang secara teknis sudah tidak stabil.

“Amunisi kedaluwarsa itu tidak semuanya akan meledak serentak ketika diledakkan. Ada yang meledak langsung, tapi ada juga yang meledak belakangan karena sifatnya yang tidak lagi normal," jelasnya dilansir RMOL.

Peledakan pertama sebenarnya dirancang untuk menghancurkan seluruh amunisi, dan petugas meyakini bahwa semua telah hancur. Namun, karena sifat amunisi kedaluwarsa yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi, terjadi ledakan susulan yang menyebabkan korban jiwa.

Baca Juga: 40 Latihan Soal IPAS Kelas 6 SD dan Kunci Jawaban, Materi SUPER LENGKAP Hadapi Ujian Sekolah 2025

"Ini akibat dari kesalahan prediksi petugas. Dikiranya satu ledakan cukup, ternyata ada amunisi yang meledak belakangan dan menimbulkan korban," tegas TB Hasanuddin.

Jangan Sampai Terulang

Dia meminta agar kejadian tersebut harus menjadi pembelajaran serius, meskipun dalam pelaksanaannya sebenarnya sudah mengikuti prosedur standar.

Menurutnya, dari sisi lokasi, tempat peledakan yang berada di wilayah pantai sebenarnya sudah aman dan sesuai ketentuan.

Namun, ia menekankan bahwa masyarakat tidak seharusnya bisa mengakses area tersebut.

Ke depannya, pembatasan wilayah harus dilakukan dengan pengawasan yang lebih ketat untuk mencegah warga sipil berada di area berbahaya.

Dia juga menegaskan pentingnya menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga untuk menyempurnakan prosedur peledakan amunisi.

“Terutama yang bersifat kedaluwarsa, agar kejadian serupa tidak terulang,” tegas TB Hasanuddin.***