POJOKSATU.ID- Para peneliti BRIN berhasil menemukan spesies baru keong darat di Pulau Bacan, Maluku Utara yang diberi nama Diancta batubacan sp. November
Penemuan ini menambah diketahui daftar spesies keong darat yang di pulau tersebut dari 47 menjadi 56 spesies. Hal ini terungkap dari Siaran Pers BRIN 29 April 2025.
Selain spesies baru, ditemukan juga 9 catatan sebaran baru keong darat di kawasan Wallacea ini.
Pulau Bacan, salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku Utara, kembali menjadi sorotan para peneliti.
Hal ini setelah ekspedisi yang dilakukan oleh tim dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN pada tahun 2022 berhasil mengungkap kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa.
Ekspedisi yang dipimpin oleh Ayu Savitri Nurinsiyah ini menemukan 27 spesies keong darat dari 11 famili berbeda, dengan Trochomorpha ternatana menjadi spesies yang paling melimpah.
Yang lebih menggembirakan lagi, tim berhasil mengidentifikasi satu spesies baru yang diberi nama Diancta batubacan sp. nov serta 9 catatan sebaran baru untuk keong darat.
“Penemuan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa Pulau Bacan menjadi rumah yang baik bagi keanekaragaman hayati Indonesia termasuk keong darat, dan masih banyak keanekaragaman hayati disana yang belum sepenuhnya terungkap,” ungkap peneliti di BRIN ini.
Sejarah Penelitian Keong Darat di Pulau Bacan
Penelitian tentang biota di Pulau Bacan sebenarnya telah dimulai sejak eksplorasi Alfred Russel Wallace pada tahun 1858-1859.
Koleksi Wallace kemudian dikaji oleh Pfeiffer (1861), yang mendeskripsikan beberapa spesies keong darat di pulau tersebut.
Sejak saat itu, setidaknya telah dilakukan 15 penelitian yang mencatat keberadaan keong darat di Pulau Bacan dalam rentang waktu 1861 hingga 1963.
Namun, ekspedisi terbaru BRIN menunjukkan bahwa masih banyak kekayaan hayati yang belum terungkap di kawasan Wallacea ini.
Habitat Keong Darat di Pulau Bacan
Penelitian yang dilakukan di lima lokasi berbeda di Pulau Bacan menunjukkan bahwa jumlah spesies keong darat paling banyak ditemukan pada kawasan karst yang memiliki tutupan hutan, lebih tinggi dibandingkan dengan lahan pertanian.
“Ini menegaskan bahwa hutan karst memiliki peran penting dalam mendukung populasi keong darat,” jelas Ayu.
Temuan ini menjadi bukti pentingnya menjaga kelestarian hutan karst di Indonesia sebagai habitat berbagai spesies endemik.
Kepunahan Masih Menjadi Ancaman
Meskipun penelitian ini memberikan kabar baik tentang keanekaragaman hayati Indonesia, beberapa spesies keong darat di pulau ini menghadapi ancaman kepunahan akibat degradasi habitat dan perubahan iklim.
Dari 56 spesies keong darat yang kini tercatat di Pulau Bacan, 13 spesies di antaranya hanya ditemukan di pulau tersebut. Hal ini terungkap dari siaran pers tersebut.
"Keanekaragaman hayati itu seperti potongan puzzle yang membentuk gambar indah. Kalau kepingan-kepingannya hilang, maka gambar indah itu tidak akan sempurna.
“Oleh karena itu, penting kita kenali dan jaga keanekaragaman hayati Indonesia beserta habitatnya,” kata Ayu.
Koleksi Spesimen Ilmiah di Museum Zoologicum Bogoriense
Seluruh spesimen keong darat yang ditemukan dalam ekspedisi ini—sebanyak 555 spesimen—kini disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah, BRIN, Cibinong.
Koleksi ini menjadi bahan kajian penting bagi para peneliti yang ingin mempelajari keanekaragaman hayati Indonesia.
Hasil penelitian ini pun telah dipublikasikan dalam jurnal ZooKeys dengan judul “Siput Tanah Pulau Bacan, Indonesia” pada tahun 2025.
Berikut publikasi dari penelitian di jurnal ZooKeys:
Ayu Savitri Nurinsiyah dkk., Siput darat Pulau Bacan, Indonesia, ZooKeys 1233: 207-243 (2025), DOI: 10.3897/zookeys.1233.143563
Temuan Sebelumnya di Maluku Utara
Penemuan spesies baru di Pulau Bacan ini menambah daftar temuan serupa di kawasan Maluku Utara.
Sebelumnya, Ayu dan tim peneliti PRBE juga menemukan spesies baru keong darat di Pulau Moti, Maluku Utara yang diberi nama Palaina motiensis.
“Masih banyak keanekaragaman hayati keong darat di Maluku Utara dan Wallacea yang menunggu untuk diungkap,” Ayu tambah sekaligus menekankan pentingnya penelitian berkelanjutan di kawasan megabiodiversitas Indonesia.
Pentingnya Konservasi Keong Darat
Keong darat memiliki peran penting dalam ekosistem hutan, termasuk dalam proses dekomposisi dan siklus nutrisi. Keberadaan mereka juga dapat menjadi indikator kesehatan lingkungan.
Temuan 56 spesies keong darat di Pulau Bacan ini menjadi pengingat akan kekayaan hayati Indonesia yang perlu terus dilestarikan.
Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan landasan yang kuat bagi upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya di kawasan Wallacea yang dikenal sebagai hotspot keanekaragaman global.***



