POJOKSATU.id, JAKARTA—Buntut perseteruan dengan Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dan Letjen (Purn) Sutiyoso, mantan Kepala BIN Jenderal (Purn) AM Hendropriyono sampai buka suara membela Hercules.
Hendropriyono sampai mengungkit jasa Hercules Rosario Marshal pada perang TimorTimur atau perang Timtim yang terjadi pada kurun 1970-an hingga 1990-an.
Menurut AM Hendropriyono, dalam operasi Timtim kala itu, Hercules terkena serangan hingga berakibat pada kondisi fisiknya. Mata kanannya cacat, begitupun tangan kanan hingga sikunya hilang, kakinya juga cacat.
Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) tahun 2001-2004 juga meminta agar Hercules berbenah diri agar image-nya di masayarakat tidak buruk.
AM Hendropriyono berkomentar terkait ramainya pembicaraan publik mengenai Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules Rosario Marshall yang berseteru dengan Sutiyoso dan Gatot Nurmantyo.
Dia pun mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak terus menerus membully Hercules.
Dikutip dari YouTube Prof Rhenald Kasali yang tayang pada Minggu (4/5/2025), Abdullah Mahmud Hendropriyono atau AM Hendropriyono bercerita bahwa Hercules dan para prajurit TNI yang terlibat dalam perang Timor Timur adalah korban dari konspirasi global.
Mereka terpaksa terlibat dalam perang di Timor Timur karena diotaki oleh Amerika Serikat.
“Dia (Hercules) dan para prajurit kita adalah korban dari konspirasi global. Yang nyuruh kita ke Timor Timur dulu siapa? Amerika. Dia mau balas kekalahannya di Vietnam," katanya.
Baca Juga: Istri Ceritakan Bagaimana Proses Hercules Masuk Islam, Saat Usia Pernikahan Mereka Sudah 15 Tahun
Menurut Hendropriyono, pada tahun 1974 Amerika Serikat kalah di perang Vietnam, lalu tahun 1975 Amerika Serikat mau masuk ke Timor Timur dengan memanfaatkan Indonesia.
“Dia (Amerika) yang suruh, dikasih mobil, juga utility banyak sekali. Kita enggak punya mobil," ujar Hendropriyono.
Mobil-mobil untuk keperluan militer yang diangkut dari Vietnam ke Indonesia setelah Amerika Serikat kalah perang.
Ia meyakini bahwa atasan-atasannya kala itu juga diperintah oleh Amerika Serikat untuk menyerbu Timor Timur.
Baca Juga: Hercules Rosario Marshal Kawan Dekat Prabowo Kini Resmi Dukung Ridwan Kamil di Jakarta
"Saya yakin bos-bos saya dulu karena saya kan masih kapten dulu kan, pasti juga disuruh sampai begitu hebat. Dan dulu sebelum kita nyerbu itu banyak yel-yel dan slogan 'Viva Amerika', 'Viva United States'," ujarnya lagi.
Indonesia yang didukung oleh Amerika kemudian menyerbu Timor Timur, yang kala itu sudah ditinggalkan Portugal.
Dimana Portugal waktu itu juga dikuasai perwira-perwira revolusioner yang kiri.
“Jadi memang waktunya sangat tepat sehingga tidak terlalu sulit untuk menguasai. Tapi, tahun 1998 kita diusir, diseret, diancam pelanggaran HAM. Artinya dia yang mulai, dia yang mengakhiri kita dikambing congekan," ujar pria yang dikenal sebagai Tokoh Intelijen Indonesia ini.
Menurut Hendropriyono, Hercules bukan bekas teroris, tetapi bekas pahlawan yang sebenarnya harus dibina secara sistemik.
Ia melanjutkan saat konflik pecah sehingga Timor Leste menjadi negara merdeka, banyak orang yang pindah ke sana berganti kewarganegaraan. Namun, Hercules Rosario Marshal tetap setia kepada Republik Indonesia.***




