Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan, Doktor Bidang Kesejahteraan Buruh
POJOKSATU.id, Jakarta — Di tengah panasnya matahari yang menyengat kawasan Monumen Nasional (Monas), sekitar 200 ribu buruh berkumpul memperingati Hari Buruh Internasional, Rabu (1/5).
Dalam suasana penuh semangat itu, Menteri Pertahanan sekaligus presiden terpilih, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato yang menggetarkan.
Prabowo secara tegas menyebut para peserta bukan sekadar individu, tetapi sebuah komunitas yang terikat dalam satu jiwa perjuangan.
Ia menyoroti bagaimana istilah "buruh" kini mulai digantikan oleh kata "pekerja", yang menurutnya telah kehilangan makna ideologis.
“Kalian adalah manusia dengan ruh, bukan sekadar tenaga kerja,” ucapnya.
Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung usia dan pengalamannya yang membuatnya sadar akan besarnya kekayaan alam Indonesia yang telah dirampok oleh segelintir elite, menyebabkan kemiskinan yang terus melanda rakyat, termasuk kaum buruh.
Ia mengaku telah berkonsultasi dengan Mahkamah Agung terkait langkah hukum untuk merebut kembali kekayaan tersebut.
Ia mengingatkan agar buruh tidak kehilangan idealisme dan malah membela pihak yang justru menindas.
“Saya tak ingin berjuang sendirian,” tegasnya.
Untuk menjamin kesejahteraan buruh, Prabowo mengusung dua program utama: peningkatan daya beli melalui kenaikan upah dan pengurangan pajak, serta perluasan jaminan dan bantuan sosial yang tepat sasaran.
Ia juga akan membentuk Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional dan Satgas PHK untuk mengawal hak-hak buruh dan memberi masukan langsung kepada pemerintah.
Puncak pidato ditandai dengan sumpah Prabowo di hadapan massa.
“Demi Allah SWT, saya akan bersama kaum buruh dan rakyat miskin sampai mati,” serunya yang disambut sorak dan tepuk tangan meriah.
“Hidup Buruh!” tutupnya, menyulut semangat ribuan orang yang hadir.




