POJOKSATU.ID- Sejumlah mitra penyedia makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta mengaku belum dibayar oleh penyelenggara sejak awal tahun ini.
Salah satu mitra, PT Dapur Mitra MBG, bahkan melaporkan yayasan pelaksana program tersebut ke Polda Metro Jaya dengan dugaan penggelapan dana. Total tunggakan yang dialami para mitra diperkirakan mencapai hampir Rp 1 miliar.
Program MBG adalah inisiatif sosial yang diklaim bertujuan memberikan makanan sehat kepada masyarakat kurang mampu, terutama anak-anak. Namun, di balik tujuan mulia tersebut, sejumlah pihak yang berperan langsung dalam distribusi makanan kini mengaku menjadi korban ketidakjelasan pembayaran.
Hasbi, Direktur PT Dapur Mitra MBG, mengatakan bahwa perusahaannya telah menjalankan kewajiban menyediakan makanan untuk program tersebut sejak Januari 2024. Namun, sampai Maret 2024, pihaknya belum menerima pembayaran sama sekali dari pihak yayasan penyelenggara.
“Dari Januari sampai Maret kami kirimkan makanan rutin setiap hari, sesuai dengan kontrak kerja. Tapi tidak ada pembayaran. Total kerugian kami mendekati Rp 1 miliar,” ujar Hasbi kepada wartawan, Rabu (16/4/2025).
Hasbi menuturkan bahwa program tersebut awalnya dikemas sebagai kolaborasi sosial yang menggandeng berbagai UMKM untuk menyediakan makanan bergizi secara cuma-cuma. Ia menerima tawaran kerja sama dengan semangat kontribusi sosial. Namun, sejak proses pembayaran mandek, perusahaannya terpaksa menghentikan pengiriman makanan dan menempuh jalur hukum.
“Kami sudah coba mediasi dan menanyakan baik-baik, tapi tidak pernah ada jawaban pasti. Bahkan, permintaan penjadwalan pembayaran pun tidak digubris. Akhirnya kami laporkan,” kata dia.
Laporan ke polisi dilakukan di Polda Metro Jaya, disertai dengan bukti kontrak, rekapitulasi distribusi makanan, serta bukti komunikasi antara pihak mitra dan penyelenggara. Kuasa hukum PT Dapur Mitra MBG, Hady Sanjaya, menyebut laporan tersebut resmi diterima kepolisian dan saat ini dalam proses penyelidikan awal.
“Ini bukan sekadar wanprestasi biasa. Ada dugaan penipuan dan penggelapan karena dari awal pihak yayasan menjanjikan anggaran dari donatur besar, tapi ternyata tidak ada realisasinya,” kata Hady.
Tak hanya PT Dapur Mitra MBG, mitra lainnya juga mengeluhkan hal serupa. Berdasarkan data yang dihimpun dari lapangan, lebih dari lima penyedia jasa katering mengaku belum dibayar meski sudah menyalurkan makanan ke berbagai titik di wilayah Jakarta Selatan, termasuk Kalibata.
Salah satu pelaku UMKM yang enggan disebut namanya mengaku mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Ia berharap aparat penegak hukum segera menindaklanjuti laporan dari para mitra agar kejelasan dana program MBG ini bisa segera terungkap.
“Saya pakai dana pribadi, bahkan sempat berutang untuk beli bahan baku. Tapi ternyata yayasannya tidak membayar. Kami ditinggal begitu saja,” ujarnya.
Sementara itu laporan polisi dilayangkan pada Jumat (12/4/2025) lalu. Salah satu alasan kuat pelaporan adalah tidak adanya transparansi keuangan dari pihak yayasan. Bahkan hingga saat ini, tidak ada penjelasan resmi dari pihak penyelenggara mengenai sumber dana program maupun alasan keterlambatan pembayaran.
Yayasan yang dimaksud diketahui sempat mengklaim bahwa program ini didukung oleh donatur dan perusahaan swasta. Namun, ketika ditagih soal pembayaran kepada mitra, pihak yayasan tidak bisa menunjukkan dokumen sumber pendanaan yang dimaksud.
“Dari awal kami percaya karena katanya program ini didukung oleh sponsor besar. Tapi sekarang kami bingung, karena ternyata tidak ada dana yang jelas,” kata Hasbi.
Pihak kepolisian belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun membenarkan bahwa laporan telah diterima dan sedang diproses oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.
“Laporan masuk dan sedang dipelajari. Nanti akan ada pemanggilan saksi-saksi dari pihak pelapor dan terlapor,” ujar seorang penyidik yang enggan disebut namanya.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat penerima manfaat program MBG. Salah satu warga Kalibata, Ani (38), mengatakan bahwa anaknya sempat menerima makanan gratis dari program tersebut selama dua bulan. Ia menyayangkan jika program ini harus terhenti karena masalah internal.
“Anak saya suka banget makanannya, sehat dan bersih. Sayang sekali kalau programnya berhenti karena konflik,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, pihak yayasan belum memberikan tanggapan resmi meskipun telah dihubungi oleh media.***



