POJOKSATU.id, BANDUNG—Hanya selang beberapa hari terjadi kejadian mengejutkan yang dilakukan dua oknum dokter di Jawa Barat.
Kejadian viral pertama pada pekan lalu atau Rabu (9/4), dokter PPDS Unpad Priguna Anugerah Pratama yang bekerja di RS Hasan Sadikin Bandung memperkosa keluarga pasien.
Kejadian pemerkosaan terjadi 18 Maret 2025 lalu, namun menjadi perhatian publik pada pekan lalu.
Belum usai itu, tetiba muncul lagi kasus viral, seorang dokter kandungan Iril Syafril SpOG atau Muhammad Syafril Firdaus melakukan pelecehan pada pasien ibu hamil saat proses USG.
Baca Juga: Jangan Asal Belok! Ini 3 Teknik Menikung Aman Saat Naik Motor
Menyikapi ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat bersuara. Ketua IDI Jabar, Moh Luthfi, menegaskan pihaknya mengecam keras pelanggaran etika, disiplin profesi, maupun hukum yang dilakukan oleh tenaga medis.
Dalam kasus yang mencuat baru-baru ini, Luthfi menyebut ada pelanggaran SOP dan etika profesi yang sangat bertentangan dengan marwah kedokteran.
Luthfi juga mengungkapkan, sebelum diambil sumpah dokter, ada tahap seleksi yang di dalamnya harus melalui tes Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) yang bertujuan untuk menilai kecenderungan kepribadian seseorang, termasuk kemungkinan penyimpangan.
Namun, ia menilai pemeriksaan MMPI belum cukup jika hanya dilakukan satu kali.
Karena itu, Luthfi mendorong fakultas kedokteran untuk bisa melakukan tes MMPI secara berkala untuk mempersempit kemungkinan penyimpangan yang dilakukan tenaga medis.
Tes Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) adalah tes psikologi yang digunakan untuk mengevaluasi kepribadian dan kondisi psikologis seseorang.
Tes ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan mental.
Mungkin saja saat perekrutan itu kondisinya baik-baik saja dan tidak terdeteksi adanya penyimpangan yang berat sehingga MMPI lolos.
Baca Juga: Ijazah Jokowi Kembali Dipertanyakan, Tapi Ini Respons Tegas Sang Presiden
"Jadi kami merekomendasikan kepada institusi pendidikan untuk melakukan MMPI secara berkala selain pengawasan etika yang dilakukan,” kata Ketua IDI Jabar,Rabu (16/4/2025).
“Jadi proses pendidikan kedokteran selain memperhatikan kompetensi juga harus memperhatikan etika profesinya," katanya dilansir detikcom.
Ia menilai fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan sisi personal pelaku, tetapi juga merupakan tantangan bagi organisasi profesi dalam pengawasan etik dan moral dokter.
Menurutnya, dari sisi organisasi, mereka sudah melakukan pembinaan secara etika dan disiplin organisasi, yaitu melalui beberapa skema seperti keharusan pemberian materi kedokteran pada saat kegiatan ilmiah seperti simposium, workshop, pelatihan, termasuk saat akan lulus.
Pelaksanaan MMPI berkala dapat membuka ruang intervensi lebih dini bila ditemukan indikasi yang mengkhawatirkan.
Selain mendorong institusi pendidikan kedokteran untuk lebih intens dalam pengawasan etik dan kepribadian, IDI Jabar juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
Menurutnya IDI Jabar membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aduan jika menemukan adanya penyimpangan prosedur yang dilakukan oknum dokter dan tenaga medis lainnya di Jawa Barat.***




