POJOKSATU.id — Gunung Merapi memang dikenal sebagai gunung yang tidak pernah benar-benar tidur. Gunung ini kembali memperlihatkan peningkatan aktivitas vulkanik yang patut diwaspadai.

Dalam kurun waktu 24 jam pada Sabtu, 12 April 2025, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat sebanyak 23 kali guguran lava pijar meluncur dari puncak Merapi.

Aliran lava ini mengarah ke sejumlah jalur sungai seperti Kali Bebeng, Kali Krasak, Kali Putih, hingga Kalisat, dengan jarak luncur terjauh mencapai dua kilometer.

Meskipun dari kejauhan Merapi terlihat tenang, terkadang diselimuti kabut yang mengaburkan puncaknya, aktivitas di dalam gunung justru menunjukkan gejala yang berbeda.

Baca Juga: Gunung Gede Meningkat Aktivitas Kegempaannya, Masyarakat Diminta Waspada

Data seismik mencatat pergerakan magma yang aktif, di antaranya 154 kali gempa guguran, 120 gempa hybrid, dan satu gempa tektonik jauh.

Selain itu, asap putih bertekanan lemah terpantau keluar dari kawah dengan ketinggian mencapai 75 meter.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa potensi ancaman dari Merapi tetap tinggi, terutama untuk guguran lava dan awan panas yang mengarah ke sisi barat daya.

Sejak 5 November 2020, status Gunung Merapi telah ditetapkan pada Level III (Siaga) dan hingga kini belum mengalami perubahan.

Zona bahaya mencakup wilayah dalam radius 7 kilometer dari puncak, terutama di sekitar aliran Sungai Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng.

Baca Juga: Regional Liga Honor of Kings 2025 DIMULAI, Simak Daftar Tim, Jadwal, dan Hadiah Total Miliaran, PERSAINGAN SENGIT Menuju World Cup Dimulai!

Sementara itu di sektor tenggara, risiko bahaya meluas hingga ke aliran Sungai Woro dan Gendol dengan jarak maksimum lima kilometer.

Kondisi cuaca di sekitar Merapi juga turut memengaruhi situasi. Suhu udara berkisar antara 18 hingga 24,3 derajat Celsius dengan kelembapan nyaris mencapai 100 persen.

Selain itu, intensitas curah hujan yang mencapai 22 milimeter per hari turut meningkatkan risiko terbentuknya lahar dingin di sepanjang aliran sungai berhulu dari Merapi.

Baca Juga: FIFA Saksikan LANGSUNG Transformasi Liga 1 Persija vs Persebaya, The Jakmania dan Bonek BERSATU, Jadi Bukti Sepak Bola Indonesia Bangkit

Meski aktivitas vulkanik terus meningkat, kehidupan masyarakat di lereng Merapi tetap berjalan seperti biasa.

Di Desa Turgo misalnya, seorang petani cabai bernama Pak Mulyono tetap setia menggarap lahannya yang hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari puncak Merapi.

Ia mengaku sudah terbiasa dengan kondisi Merapi yang sewaktu-waktu ‘batuk’ dan lebih mengandalkan informasi dari radio serta relawan untuk berjaga-jaga.

“Merapi memang sering batuk, tapi kami sudah tahu harus bagaimana. Yang penting dengar kabar dari radio dan para relawan,” ujarnya sembari memeriksa tanaman cabai yang mulai berbunga di kebunnya.

Baca Juga: HARI INI, Penentuan JUARA DUNIA ESL Snapdragon Mobile Masters 2025, Tim MLBB Indonesia SIAP TEMPUR, Cek Jadwal dan LINK Live Streaming RESMI di Sini!

Sementara itu, anak-anak di SD Negeri Kinahrejo tetap mengikuti pelajaran seperti biasa, meski terkadang harus mengenakan masker karena angin membawa aroma belerang dari puncak gunung.

Di pos-pos pemantauan, para relawan tengah siaga memantau data seismik dan kondisi cuaca untuk memastikan peringatan dini bisa segera diberikan jika situasi memburuk. ***