POJOKSATU.id, JAKARTA— Wacana reshuffle kabinet Prabowo-Gibran kembali menguat usai Lebaran 1446 Hijriah yang baru beberapa hari dilewati.
Pengamat politik, Andi Yusran, membeberkan tiga parameter penting kenapa reshuffle kabinet harus segera dilakukan oleh Presiden Prabowo.
Tiga parameter itu antara lain defisit APBN, merosotnya penerimaan pajak serta menurunnya produktifitas sektor riil di Indonesia saat ini.
"Defisit APBN, merosotnya penerimaan pajak serta menurunnya produktifitas sektor riil adalah parameter pentingnya reshuffle kabinet," tegas Andi Yusran, Jumat (4/4/2025).
Baca Juga: Kebelet Buang Air Besar, Penumpang Bus Sinarjaya Tertinggal di Rest Area KM 140 Tol Cipali
Menurutnya, Prabowo perlu segera melakukan perombakan jajaran menteri atau reshuffle, khususnya yang membidangi sektor ekonomi.
Selain reshuffle, Andi juga menyoroti struktur kabinet yang dinilai terlalu gemuk. Menurutnya, kabinet dengan jumlah menteri yang besar tidak serta-merta meningkatkan kinerja pemerintahan.
"Kabinet tambun justru menjadi beban bagi keuangan negara," tegas analis politik Universitas Nasional itu.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah menteri dari Kabinet Presiden Prabowo juga dikritik karena kebijakan yang tidak efektif serta cara berkomunikasi yang justru menimbulkan polemik di masyarakat.
Baca Juga: Bu Cinta Atalia Praratya Disarankan Laporkan Ridwan Kamil ke Polisi Soal Pasal Perzinahan
Sementara itu, Co Founder Forum Intelektual Muda, Muhammad Sutisna menilai kinerja kementerian yang mengurusi masalah-masalah seperti perdagangan, investasi dan energi kurang piawai dalam mengatasi gejolak perekonomian saat ini
“Presiden Prabowo Subianto harus mengganti menteri-menteri (terkait) dengan orang yang lebih pas dalam mengatasi krisis ini,” ucap Sutisna dalam keterangannya, Kamis, 3 April 2025.
Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan pokok turut menjadi persoalan serius yang terus dirasakan masyarakat.
Lanjut dia, situasi ini menjadi sangat dilematis ketika pendapatan masyarakat terus menurun di saat harga kebutuhan pokok malah naik.
"Harga bahan pokok seperti minyak goreng, cabai, bawang, hingga telur terus mengalami lonjakan, membuat banyak orang harus memutar otak agar tetap bisa memenuhi kebutuhan dengan anggaran terbatas," beber Alumni Universitas Indonesia ini.
Menurutnya, IHSG tercatat merosot 0,78 persen dan mayoritas sektor masih bergerak melemah, di mana hal itu disebabkan oleh kebingungan pasar yang melihat adanya tumpang tindih jabatan di Pemerintahan Prabowo-Gibran, salah satunya Rosan Roeslani.
"Tentu alangkah baiknya bagi Rosan agar bisa fokus di BPI Danantara, maka Presiden Prabowo harus menunjuk Menteri Investasi yang baru,” imbuhnya.***




