POJOKSATU.id, JAKARTA—Kunjungan Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo atau Didit Prabowo ke kediaman mantan presiden RI ke-5 sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarno Putri, kembali menimbulkan banyak spekulasi.
Pasalnya, kunjungan Didit di hari Lebaran Idul Fitri 1446, 31 Maret silam membuat publik bertanya-tanya tentang manuver politik Prabowo sebagai Presiden RI.
Kendati demikian, sanggahan atau setidaknya jawaban dari pihak PDIP masih diplomatis dan menganggap hal tersebut biasa saja.
Baca Juga: Rencana Pertemuan Prabowo-Mega, AHY Ngaku Belum Tahu Tapi Berharap Kerukunan Para Tokoh Bangsa
Pasalnya kedekatan Prabowo dan Megawati sudah berlangsung lama dan kunjungan sang putra tak lebih dari salam persahabatan sebagai sesama tokoh bangsa.
Setelah dikomentari ketua DPP PDIP, kini putri dari Megawati yang kini menjabat sebagai ketua DPR RI, Puan Maharani ikut buka suara.
Menurutnya, kunjungan Didit ke rumah Megawati adalah dalam rangka terus menyambung silaturahmi.
Didit mewakilkan Prabowo untuk mengirim salam kepada Megawati begitupun sebaliknya kata Puan.
"Ya, ibu (Megawati) menyampaikan salam kepada Pak Prabowo, semoga sehat selalu, dan semoga setelah lebaran suasana akan semakin baik dan semuanya berjalan dengan baik untuk bangsa dan negara," kata Puan dikutip pojoksatu.id dari Antara.
Baca Juga: Karawang Kirim Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa Myanmar
Kunjungan Didit sendiri ditengarai dilakukan secara pribadi karena kediaman Mega tidak mengadakan open house atau acara gelar griya saat lebaran tahun ini.
Sebenarnya, baik Prabowo dan Mega diketahui ingin segera melakukan pertemuan sebagai kedua tokoh yang menjadi ketua partai.
Namun, menurut Puan belum ada waktu yang pas untuk mengadakan pertemuan dan saat ini baru bisa diwakilkan oleh Didit untuk menyampaikan salam.
Yang jelas, Puan mengatakan bahwa nantinya pertemuan dua tokoh tersebut bakal segera terwujud.
Saat kunjungan Didit diketahui banyak yang berspekulasi bahwa Prabowo ingin merangkul PDIP secara bertahap.
PDIP yang memiliki kursi mayoritas di parlemen, bisa jadi target untuk diajak bergabung ke pemerintahan Prabowo yang terlanjur semakin kuat, nyaris tanpa oposisi.***



