POJOKSATU.Id - Era digital merupakan masa dimana teknologi digital termasuk internet dan perangkat seluler telah merevolusi berbagai bidang yang telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia.
Teknologi digital memegang peran penting dalam mengubah cara kita berinteraksi dan berperilaku. Teknologi digital telah merambah berbagai bidang, mendorong perubahan budaya dan operasional yang lebih adaptif.
Digitalisasi menjadi langkah awal penting dalam transformasi digital. Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia telah mencapai kemajuan berarti dalam transformasi digital, namun tantangan signifikan masih menghadang pemerintahan baru untuk terus memacu inovasi digital.
Upaya transformasi digital meliputi pembangunan infrastruktur digital, peningkatan kapasitas SDM, digitalisasi layanan publik, hingga perlindungan masyarakat di era teknologi.
Di sisi lain era kemajuan teknologi dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan produktivitas, dan berpotensi mengurangi pengangguran.
Namun, untuk mencapai hal ini perlu melakukan pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan teknologi, investasi dalam pendidikan dan pelatihan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan digital yang relevan.
Menyoroti Peran Pemerintah Indonesia dalam Mencetak Talenta Digital Melalui Program Digital Talent Scholarship (DTS).
Pemerintah Indonesia terus berupaya mencetak talenta digital melalui program Digital Talent Scholarship (DTS). Dikutip dari pernyataan BPSDM Komdigi dalam sdmdigital.id, program ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, profesionalisme SDM bidang teknologi informasi dan komunikasi, dan memenuhi kebutuhan tenaga terampil di era Industri 4.0.
Program yang telah berjalan sejak 2018 ini menawarkan berbagai akademi. Dilansir dari diskominfo.kalteng.go.id Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kementerian Kominfo Hary Budiarto menyampaikan, terdapat delapan akademi yang bisa diikuti masyarakat dalam program Digital Talent Scholarship diantaranya adalah Fresh Graduate Academy (FGA), Vocational School Graduate Academy (VSGA), Talent Scouting Academy (TSA), Professional Academy (ProA), Government Transformation Academy (GTA).
Dampak Transformasi Digital pada Sektor Pekerjaan di Indonesia dan Lapangan Kerja Baru
Transformasi digital tentu memiliki dampak yang signifikan, terutama pada sektor pekerjaan di Indonesia.
Contohnya pada aktivitas pekerjaan yang melibatkan pengumpulan dan analisis data hanya dengan memanfaatkan teknologi digital memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih tepat dan cepat.
Selain itu, transformasi digital juga dapat menciptakan jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada. Mengutip dari jurnal Analisis Digitalisasi Industri dan Penciptaan
Kesempatan Kerja dan Pengangguran. Dhyanasaridewi, I. G. A. D, (2020) menyatakan hal ini adalah dampak digitalisasi terhadap struktur pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan.
Digitalisasi tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga menghilangkan atau mengurangi sejumlah pekerjaan yang ada, sehingga profesi seperti media sosial spesialis, data analis, dan ahli keamanan siber menjadi profesi yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang teknologi digital dengan tingkat keterampilan atau kompetensi yang dibutuhkan pada masa transformasi digital.
Dilansir dari The Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF), pesatnya perkembangan transformasi digital saat ini diperkirakan bahwa gelombang transformasi digital yang sedang berlangsung akan menghasilkan 170 juta pekerjaan baru pada periode 2025-2030.
Namun, laporan yang sama juga menyoroti adanya 92 juta pekerjaan yang berpotensi hilang akibat otomatisasi dan perubahan teknologi. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa transformasi digital bukanlah proses tanpa tantangan.
Pergeseran ini akan membutuhkan adaptasi dari para pekerja dan pelaku industri. Sedangkan secara keseluruhan proyeksi peningkatan bersih akan mencapai 78 juta pekerjaan dan menjadi hal yang hasil yang positif dari transformasi digital yang lebih banyak peluang daripada yang dihilangkannya.
Strategi BPSDM dalam Mengembangkan Talenta Digital
Dalam mengembangkan talenta digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengejar pertumbuhan talenta digital di Indonesia dengan kembali menghadirkan program Digital Talent Scholarship (DTS).
Dalam acara "Kick Off Program Badan Pengembangan SDM (BPSDM) Kemkomdigi 2025" Angga Raka Prabowo selaku Wakil Menteri Komunikasi dan Digital menyatakan, tahun 2025 DTS akan menargetkan 100 ribu lulusan dari pelatihan artificial intelligence, cyber security, komputasi awan, dan coding.
Tidak hanya itu program ini menggandeng mitra dari perusahaan teknologi seperti Microsoft, CISCO, Google, Indosat, Alibaba, hingga Amazon Web Service agar pelatihan yang diberikan selaras dengan kebutuhan industri.
Selain menghadirkan program DTS, BPSDM Kemkomdigi juga aktif dalam upaya penyerapan talenta digital melalui berbagai kegiatan seperti bootcamp, program magang, dan job fair. Setelah berkolaborasi dengan berbagai pihak, BPSDM Kemkomdigi juga melaksanakan survei Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025.
Hasil survei akan digunakan untuk melihat kondisi masyarakat dalam mengadopsi teknologi digital terutama di daerah yang belum siap melakukan transformasi digital, sehingga program pengembangan SDM digital dapat dirancang lebih efektif.
Tantangan yang dihadapi BPSDM Dalam Memenuhi Kebutuhan 12 juta Talenta digital
Kebutuhan talenta digital di Indonesia terus meningkat sejalan dengan perkembangan teknologi.
Menurut Hary Budiarto, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kominfo, Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024 memproyeksikan kebutuhan 12 juta talenta digital pada tahun 2030.
Namun sayang kapasitas pendidikan formal di Indonesia hanya mampu menghasilkan sekitar 9 juta talenta digital, sehingga masih terdapat kekurangan 3 juta talenta yang perlu dipenuhi.
Selain pendidikan formal yang belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan industri, tantangan lain dalam pemenuhan kebutuhan 12 juta talenta digital adalah akses terhadap infrastruktur yang terbatas yang dapat menghambat upaya peningkatan keterampilan ini, terutama di daerah-daerah tertentu yang kurang terhubung dengan teknologi digital.
Untuk mengatasi kesenjangan keterampilan ini perlu diperluas akses pelatihan digital secara merata. Kolaborasi dengan mitra dari berbagai sektor memungkinkan penyediaan pelatihan online berkualitas dan terjangkau, serta sertifikasi yang diakui industri.
Kegiatan penyelenggaraan pelatihan dan pengembangan talenta digital merupakan komponen penting bagi organisasi dalam upaya peningkatan kompetensi pada optimalisasi kinerja karyawan. Hartati. N. P. P H dan Giovanni. A, (2022).
Selain itu, pemberian sertifikasi yang diakui oleh industri setelah menyelesaikan pelatihan akan meningkatkan daya saing peserta di pasar kerja, membuka peluang karir yang lebih luas dan tentunya upaya ini juga perlu didukung dengan penyediaan infrastruktur yang memadai, terutama di daerah-daerah terpencil yang belum terhubung.



