POJOKSATU.id — Sukatani, band punk asal Purbalingga, Jawa Tengah, menjadi sorotan publik usai merilis pernyataan permintaan maaf kepada Kapolri terkait lagu mereka yang berjudul "Bayar Bayar Bayar".

Lagu ini mendadak viral dan mendapat respons luas dari masyarakat karena liriknya yang dianggap merepresentasikan keresahan publik.

Namun, popularitasnya juga menimbulkan polemik, lantaran diduga membuat sejumlah pihak merasa tidak nyaman, termasuk oknum aparat kepolisian.

Hal ini disebabkan oleh liriknya yang secara gamblang mengkritik institusi tersebut.

Tak berselang lama setelah lagu ini ramai diperbincangkan, Sukatani mengunggah permintaan maaf melalui media sosial mereka.

Baca Juga: Buntut Lirik Lagu Nyeleneh, Masuk Polisi Bayar, Masuk Penjara Bayar, Begini Nasib Band Sukatani Usai Minta Maaf

Yang menarik, dua personel utama band ini, Muhammad Syifa Al Luthfi alias Alectroguy (gitaris) dan Novi Citra Indriyati alias Twister Angel (vokalis), muncul tanpa mengenakan balaclava yang selama ini menjadi ciri khas mereka dalam setiap penampilan.

Kemunculan mereka tanpa penutup wajah memunculkan spekulasi di kalangan warganet dan komunitas musik underground.

Banyak yang menduga bahwa permintaan maaf tersebut dilakukan di bawah tekanan atau intimidasi.

Baca Juga: Sosok Novi Citra Indriyati, Vokalis Sukatani Band Berporfesi Guru Diduga Dipecat Imbas Lagu ‘Bayar Bayar Bayar’ Beredar

Dugaan ini memicu solidaritas dari berbagai pihak, termasuk musisi dan netizen, yang kemudian menggaungkan tagar # KamiBersamaSukatani di media sosial.

Kode 1312 

Tak hanya tagar solidaritas, warganet juga menyertakan angka "1312" dalam unggahan mereka. Lantas, apa sebenarnya arti dari kode ini?

Angka 1312 merupakan representasi numerik dari akronim "ACAB", 1 adalah numerik A, 3 numerik C, 1 numerik A dan 2 numerik dari B, sehingga membentuk akronim ACAB.

ACAB berarti " All Cops Are Bastards " atau dalam bahasa Indonesia, "Semua Polisi adalah Bajingan".

Baca Juga: Usai Minta Maaf pada Kapolri, Sukatani Band Sempat Dinyatakan Hilang saat Pulang ke Purbalingga

Kode ini telah lama digunakan dalam berbagai gerakan protes untuk menyuarakan kritik terhadap tindakan aparat yang dianggap sewenang-wenang.

Penggunaan kode ini pertama kali muncul di Inggris pada era 1940-an, saat aksi mogok kerja dilakukan oleh para pekerja yang mengalami ketidakadilan.

Istilah ACAB menjadi simbol perlawanan terhadap kondisi kerja yang buruk serta kebijakan represif dari kepolisian.

Di Indonesia, istilah ini kembali populer setelah tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022.

Saat itu, coretan 1312 dan ACAB banyak ditemukan di berbagai tempat sebagai bentuk protes terhadap dugaan tindakan brutal aparat yang mengakibatkan banyak korban jiwa.

Hingga kini, simbol 1312 tetap menjadi bagian dari perlawanan global terhadap ketidakadilan dan tuntutan akan reformasi di tubuh kepolisian.

Baca Juga: Profil Sukatani Band, Grup Musik Punk Asal Purbalingga Minta Maaf ke Kapolri Gegara Kritik Keburukan Oknum Polisi

Profil Band Sukatani

Mengutip Instagram Dugtrax Records, Sukatani merupakan duo musik asal Purbalingga, Jawa Tengah, yang dikenal dengan gaya bermusik post-punk dengan pengaruh new wave.

Lirik-lirik lagu mereka sarat akan kritik sosial yang disampaikan dengan dialek khas Banyumasan.

Album mereka yang berjudul Gelap Gempita berisi banyak lagu dengan tema kritik sosial dan politik. Salah satu lagu mereka, "Gelap Gempita", mengangkat isu tentang kerakusan akan kekuasaan.

Baca Juga: Kronologi Kasus Sukatani Band, Grup Musik Asal Purbalingga Minta Maaf ke Kapolri Gegara Rilis Lagu ‘Bayar Bayar Bayar’

"Di dalam otak mereka Hanyalah kekuasaan, Di dalam hati mereka Tak ada kepuasan, Di dalam cara mereka Terpampang kedzaliman," demikian penggalan lirik dari lagu tersebut.

Selain aktif di dunia musik, Sukatani juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan lingkungan hidup.

Album Gelap Gempita sendiri dirilis pada 24 Juli 2023 dan mendapat sambutan positif dari penggemar musik independen di Indonesia. ***