POJOKSATU.id, TANGSEL – Seorang ibu rumah tangga berusia 63 tahun tewas usai berjam-jam mengantre untuk mendapatkan gas elpiji 3 kilogram (kg). Korban lebih dulu pingsan.

Korban bernama Yonih, warga Pamulang Barat, Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), berusaha mencari gas sejak pagi tanpa hasil lalu menunggu berjam-jam antri di agen resmi.

Kejadian tragis ini imbas kebijakan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang melarang warung-warung menjual gas elpiji 3 kg.

“Dia mencari gas sejak pagi tanpa hasil, lalu menunggu berjam-jam di agen,” kata Raya, saudari kandung Yonih, dilansir dari tangselxpress, Selasa (4/2).

Baca Juga: Kebijakan Penjualan Gas Elpiji 3 Kg Bahlil Susahkan Rakyat, Bertentangan dengan Komitmen Prabowo

Menurut keterangan Raya, kakaknya juga ikut mengantre namun diduga karena kelelahan, ia pingsan.

Setelah kejadian itu, ia dibawa ke sebuah tempat laundry, kemudian diteruskan ke rumah sakit Pamulang. Sayangnya, tim medis menyatakan bahwa Yonih telah tiada.

Kesaksian sama disampaikan salah seorang warga bernama Ramadhan. Korban diduga kelelahan setelah sejak pagi muter-muter dan berjam-jam mengantri demi gas 3 kg.

“Dia nyari gas muter dari pagi gak dapat, dia antri di agen berjam-jam,” katanya Ramadhan, Senin 3 Februari 2025.

Baca Juga: Gerebek Pesta Gay d Hotel Kuningan, Polisi Temukan Obat Anti HIV, Alat Kontrasepsi Hingga Sabun Mandi

Ramadhan menambahkan, sebelum meninggal, korban terlihat sedang duduk di rumah setelah capek memburu gas melon tersebut.

“Sempat dibawa ke RS buat mastiin ternyata (korban) memang sudah meninggal,” jelasnya.

Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk mengatasi kelangkaan gas LPG 3 kilogram ini.

“Pemerintah kalau bikin kebijakan tolong dikaji, kan bisa bikin kebijakan sambil berjalan dan perlahan. Jangan langsung eksekusi blass gas hilang dari pasaran,” tandas Ramadhan.***