POJOKSATU.id - Kasus uang palsu di UIN Alauddin Makassar semakin kompleks setelah terungkap motif pendanaan Pilkada 2024.

Kapolda Sulsel Irjen Pol Yudhiawan mengungkapkan sindikat ini sempat menawarkan dana ke pasangan calon di Kabupaten Barru dan partai politik, namun ditolak setelah diketahui uangnya palsu.

Teknologi yang digunakan terbilang canggih. AA (42) yang ditangkap di Kelurahan Anabannua, Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo, dibayar Rp3 juta untuk membuat benang pengaman.

"Peran AA membuat benang pengaman yang ditanam dalam kertas, lengkap dengan hologram dan teks mikroskopis menyerupai uang asli yang bisa dideteksi mesin penghitung uang," jelas Kasat Reskrim Polres Wajo, Iptu Alvin Aji Kurniawan.

Baca Juga: Polda Metro Ungkap Peredaran Uang Palsu Senilai Rp 22 Miliar di Jakbar, Karyawannya Dijanjikan Gaji Rp 500 Juta

Setelah rencana pendanaan Pilkada gagal, sindikat mengubah strategi dengan menjual uang palsu ke masyarakat.

"Mereka jual dengan perbandingan dua uang palsu dibayar satu uang asli," ungkap Kapolda. Peredaran meluas hingga Sulawesi Barat, terbukti dengan penangkapan lima tersangka di Mamuju.

Tiga tokoh kunci dalam kasus ini adalah AI (Andi Ibrahim) Kepala perpustakaan, S (masih dicari) dan ASS (pengusaha pemilik rumah tempat produksi awal).

Anggota Komisi III DPR RI, Rudianto Lallo, menyoroti pentingnya mengungkap aktor intelektual.

Baca Juga: Terlibat Peredaran Uang Palsu, Pria Asal Jakarta Diciduk Polres Salatiga, Begini Modusnya

"Kami mendesak polisi mengungkap pemodal besar. Kalau hanya pelaku lapangan pasti ada yang menyuruh. Mungkin ada keterbatasan biaya, ini yang biasa dibiayai orang besar," tegasnya.

Polisi masih memburu tiga DPO dan menyatakan jumlah tersangka kemungkinan bertambah.

"DPO ini akan kita tangkap dan kasus akan tuntas," tegas Kapolda Yudhiawan. ***