POJOKSATU.id, JAKARTA -- Di sebuah ruang penuh kehangatan dan rasa persaudaraan, para tokoh bahasa, sastra, dan literasi berkumpul dalam acara "Pak Menteri Ngariung Bersama Tokoh Bahasa, Sastrawan, dan Literasi."

Acara ini menjadi ruang berharga bagi para sastrawan berbagi harapan, kegelisahan, dan impian kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti serta anggota Komisi X DPR RI.

Dalam suasana yang akrab, para sastrawan ini menyampaikan suara hati yang selama ini mereka pendam tentang pentingnya akses pada karya sastra dan harapan akan masa depan literasi di Indonesia.

Menteri Abdul Mu'ti menyambut mereka dengan penuh antusias, menyampaikan rasa bangga dan kebahagiaannya.

Baca Juga: Real Sociedad vs Barcelona: Jadwal Tayang, Link Streaming, Preview hingga Prediksi Skor

“Saya merasa sangat beruntung bisa bertemu langsung dengan orang-orang yang karyanya mampu menghidupkan imajinasi, menumbuhkan mimpi, dan memberi pengaruh besar pada kehidupan saya,” katanya, Jumat malam (8/11).

Di tengah sambutannya, ia menegaskan bahwa kemajuan sebuah bangsa bukan hanya tergantung pada ekonomi semata, melainkan juga pada kekuatan karya sastra yang mampu membuka cakrawala generasi muda.

Di antara peserta yang hadir, Feby Indirani, seorang penulis muda, dengan suara tenang namun penuh semangat, mengungkapkan kesulitannya melihat rendahnya minat baca di kalangan anak-anak muda.

Menurutnya, akses yang terbatas pada buku menjadi salah satu penyebab utama.

“Harga buku-buku sastra itu mahal, dan banyak penerbit di daerah yang kesulitan mencetak karena bahan baku kertas masih harus didatangkan dari Jawa,” katanya lirih.

Baca Juga: Seleksi PPPK Guru 2024, Tes Kompetensi untuk Guru SD atau PGSD, Download Link File PDF CONTOH SOAL DAN JAWABAN, Terus Berlatih

Ia berharap pemerintah dapat membantu dengan memperbaiki distribusi bahan baku, agar harga buku menjadi lebih terjangkau dan buku-buku sastra bisa dinikmati oleh semua anak Indonesia.

Sastrawan lain, Pipit Senja, menyampaikan impiannya agar pemerintah memberikan penghargaan khusus bagi tokoh sastra dan literasi.

Pipit bercerita bahwa di negara-negara lain, sastrawan mendapat apresiasi besar.

“Di negara tetangga, sastrawan itu dianggap pahlawan. Mungkin pemerintah kita bisa memberikan penghargaan berupa museum sastra atau majalah sastra, atau sekadar dukungan publikasi bagi mereka yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia sastra,” ungkapnya.

Dalam kata-katanya, terpancar harapan sederhana agar sastrawan di Indonesia diakui dan dihargai dengan cara yang layak.

Baca Juga: Lima fakta Inisial AL Diduga Sosok Penting Jaringan Judol di Kominfo yang Dibongkar Ferry Irwandi

Ahmadun Yosi Herfanda, sastrawan yang sudah lama berkecimpung di dunia literasi, menyuarakan keresahannya tentang kesulitan para sastrawan dalam mempublikasikan karya mereka.

Banyak media sastra yang kini terpaksa tutup karena kekurangan dana.

“Karya-karya kami seolah tak punya rumah lagi,” katanya.

“Kami hanya ingin karya kami bisa dibaca oleh orang-orang, itulah mimpi kami sebagai sastrawan,” ujarnya dengan haru.

Ia berharap pemerintah mau mendukung media-media sastra yang ada, atau bahkan menciptakan media sastra yang dikelola pemerintah untuk memberikan ruang pada suara-suara kreatif.

Dalam suasana haru dan penuh keakraban, Menteri Mu'ti menutup acara dengan membacakan puisi karya Taufiq Ismail, yang menggema dengan harapan akan masa depan sastra Indonesia.

Di sela-sela bait puisi itu, tergambar keinginan besar para tokoh sastra agar karya mereka tetap hidup dan menyentuh hati banyak orang, terutama generasi muda.

Di akhir acara, ada rasa hangat yang menyelimuti seluruh ruangan kehangatan yang lahir dari sebuah kebersamaan, dari suara hati yang sama.

Bagi para sastrawan, acara ini bukan hanya sekedar diskusi, melainkan pertemuan yang menggugah semangat dan memberikan harapan baru.

Dengan dukungan pemerintah dan DPR, sastra Indonesia diharapkan akan terus hidup, menginspirasi, dan menumbuhkan generasi muda yang mencintai negerinya dan berani bermimpi besar.***