POJOKSATU.ID- Kasus antara guru SD di Sulawesi Tenggara bernama Supriyani dengan orang tua siswa yang merupakan anggota kepolisian kini tengah viral dan mencuri perhatian publik.
Guru SD tersebut dituduh melakukan kekerasan hingga membuat siswa kelas 1 SD mendapat luka goresan di pahanya.
Namun, berdasarkan pengakuan Supriyani dan rekan sesama guru di SDN 4 Baito, tak ada kekerasan yang dilakukan hingga membuat korban terluka.
Supriyani hanya menegur karena siswa tersebut bertingkah nakal.
Namun, ayah siswa tersebut yang merupakan seorang polisi dan istrinya tak mempercayai ucapan Supriyani.
Baca Juga: Kemenkeu Satu
Hingga akhirnya, keduanya melaporkan Supriyani ke Polda setempat.
Sejak mendapat panggilan dari Polda pada tanggal 15 Oktober 2024, Supriyani harus mendekam di balik jeruji lapas perempuan.
Kabar ini membuat rekannya sesama guru di Kecamatan Baito mogok mengajar dan akhirnya berita penahanan Supriyani viral di media sosial.
Banyak warganet yang mendukung agar Supriyani dibebaskan karena tuduhan tersebut terdapat banyak kejanggalan.
Terlebih, warganet mencurigai ada pihak yang tidak profesional dalam melakukan tugas, lantaran ayah korban berprofesi sebagi polisi.
Selain itu, ada juga kabar mengenai permintaan uang damai sebesar Rp50 juta dari orang tua siswa kepada Supriyani dalam proses mediasi.
Namun, permintaan tersebut ditolak Supriyani hingga akhirnya membuatnya harus mendekam di penjara.
Usai berita penahanan guru SD sudah mengabdi selama 16 tahun sebagai honorer ini viral, Pengadilan Negeri Andoolo menangguhkan penahanan Supriyani pada hari Selasa, 22 Oktober 2024.
Tangis Supriyani pecah ketika ia bisa menghirup udara bebas dan kembali dapat melihat buah hatinya yang masih kecil.
Ia mengaku selama dirinya mengabdi, baru kali ini ada yang memfitnahnya hingga ia mendekam di penjara.
Kisah yang menimpa Supriyani di negeri tercinta kita ini, ternyata berbanding terbalik dengan perlakuan negara yang pernah menjajah Indonesia.
Jepang sangat menghargai dan melindungi para guru tanpa menunggu viral terlebih dahulu.
Ketika Hiroshima dan Nagasaki luluh lantah saat Perang Dunia ke-2 oleh Amerika, respon pertama kali dari Kaisar Jepang Hirohito adalah menanyakan jumlah guru yang selamat.
Respon Kaisar Hirohito membuat para Jenderal heran, karena menduga pemimpin tertinggi Jepang tersebut akan menanyakan jumlah tentara yang selamat.
Para Jenderal lantas mengatakan bahwa mereka dengan para tentara bisa melindungi negara dan pemimpinnya, meskipun tanpa kehadiran guru.
Menanggapi perkataan itu, Kaisar Hirohito menjelaskan bahwa tentara memang bisa membuat Jepang kuat.
Akan tetapi, para tentara tak memiliki pengetahuan luas seperti guru yang akan sangat berguna di masa depan, di mana zaman akan berkembang.
Kaisar Hirohito menambahkan bahwa Jepang tidak akan menjadi negara maju tanpa kehadiran guru yang bisa mendidik generasi muda.
Setelah itu, Kaisar Hirohito mengumpulkan sekitar 45.000 guru yang tersisa di Jepang dan memberi arahan.
Perlahan tapi pasti, kini Jepang menjadi negara maju dan bangkit dari keterpurukan.
Namun, nasib guru SD di Sulawesi Tenggara ini tampaknya tak seberuntung di negara Jepang, ia malah difitnah dan dipenjara, gara-gara menegur siswanya yang nakal. ***


.webp)

