POJOKSATU.id - Presiden terpilih Prabowo Subianto telah memanggil sejumlah calon menteri untuk pemerintahan periode 2024-2029 pada Senin, 14 Oktober 2024.

Sebanyak 49 individu diundang ke kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, dengan proses pemanggilan berlangsung dari pukul 14.30 hingga 22.00 WIB.

Daftar calon menteri tersebut mencakup berbagai latar belakang, termasuk mantan pejabat di era Presiden Joko Widodo, profesional, serta tokoh politik.

Salah satu nama yang muncul adalah Prof. Rachmat Pambudy, yang dikenal karena pengabdiannya di bidang pertanian sejak lama. Ia pernah masuk dalam bursa calon Menteri Pertanian berkat dedikasinya dalam sektor ini.

Baca Juga: Wajah Baru menteri, Agus Andrianto, Pernah Menangani Kasus Ahok dan Ferdy Sambo, Kini Ditunjuk Prabowo Jadi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan

Namun, Prabowo memutuskan untuk memberikan jabatan sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bapenas dalam Kabinet Prabowo Gibran.

Sejak tahun 1988, Rachmat telah terlibat dalam dunia pertanian dengan mendirikan Unit for Socio and Economic Study and Evaluation (USESE) Foundation, serta menjadi pendiri dan komisaris beberapa perusahaan agribisnis.

Pengalamannya semakin luas ketika menjabat sebagai Tenaga Ahli Menteri Pertanian pada tahun 2000 dan kemudian sebagai Staf Ahli Menteri hingga 2004.

Selain itu, ia juga pernah menjadi anggota Dewan Pengawas PERUM BULOG dari 2003 hingga 2007.

Baca Juga: Wajah Baru Menteri, Hanif Faisol Nurofiq Mencuat di Program Revolusi Hijau, Dipanggil Prabowo Subianto Jadi Menteri Kehutanan

Setelah masa kerjanya di Kementerian Pertanian berakhir, Rachmat fokus pada pengembangan organisasi petani melalui Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Di organisasi ini, ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dan kemudian menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina sejak 2015, berperan aktif dalam pengembangan agribisnis di berbagai daerah, terutama wilayah timur Indonesia.

Karier akademisnya di IPB University juga cukup gemilang. Pada tahun 2008, ia menjabat sebagai Kepala Bagian Bisnis dan Kewirausahaan di Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Ia bahkan sempat masuk bursa calon rektor IPB University pada tahun 2007.

Sebagai alumni Fakultas Peternakan IPB, ia meraih gelar sarjana pada tahun 1983, melanjutkan ke jenjang master di bidang Komunikasi Pembangunan pada 1988, dan memperoleh gelar doktor di bidang Penyuluhan Pembangunan pada tahun 1999.

Baca Juga: Wajah Baru Menteri, Dudy Purwagandhi, Pernah Jadi Wakil Bendahara Tim Kampanye Nasional Jokowi Ma'ruf, Kini Ditunjuk Jadi Menteri Perhubungan

Selain berkarier di akademisi, Rachmat terlibat aktif sebagai peneliti di Pusat Studi Pembangunan dan Jonggol Animal Science Teaching and Research Unit (JASTRU) di IPB.

Kepeduliannya terhadap pertanian juga diwujudkan melalui kiprahnya di Komite Pemantau dan Pengawasan Pertanian Indonesia (KP3I) yang ia dirikan pada tahun 2016.

Kecintaannya pada agribisnis terlihat dari berbagai peran yang ia emban, termasuk sebagai Komisaris Independen PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) Tbk sejak 2018.

Dalam kapasitas tersebut, ia mendorong agar minyak sawit Indonesia dapat bersaing di pasar global.

Di sektor gula, Rachmat dijuluki "Bapaknya Petani Tebu Blora" karena komitmennya meningkatkan kualitas hidup petani di Blora, Jawa Tengah, saat menjabat sebagai Direktur Utama PT Gendis Multi Manis Bulog pada tahun 2018.

Baca Juga: Wajah Baru Menteri, Profil Raden Dodi Priyono, Tak Banyak Diketahui Tapi Berpengalaman Luas, Paling Tepat Jadi Menteri PUPR

Rachmat dikenal inovatif, salah satunya dengan pengembangan konsep MBS (Masak, Bersih, Segar) di Pabrik Gula GMM Blora, yang bertujuan meningkatkan kualitas gula di Indonesia.

Selain itu, ia juga berperan dalam kebijakan pertanian pasca-reformasi, termasuk terlibat dalam Dewan Gula Indonesia (DGI).

Di bidang akademis, Rachmat resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Ilmu Penyuluhan Pembangunan di IPB University pada 2022 melalui orasi ilmiah bertema "Transformasi dari Petani menjadi Wiratani (Agripreneur): Strategi Kebangkitan Ekonomi Inklusif Indonesia."

Baca Juga: Wajah Baru Menteri, Profil Raden Dodi Priyono, Tak Banyak Diketahui Tapi Berpengalaman Luas, Paling Tepat Jadi Menteri PUPR

Bagi Rachmat, agribisnis bukan sekadar profesi, tetapi perjalanan hidup yang telah ia tekuni selama puluhan tahun.

Dukungan dari keluarganya, termasuk sang istri, Mardiana Estilistiati, yang merupakan putri mantan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, juga turut membentuk jalur kariernya.

Meski pernah menutup usaha peternakan puyuh karena alasan etika, Rachmat tetap konsisten menggeluti bidang pertanian sebagai wujud dedikasi untuk memajukan sektor pembangunan di Indonesia. ***


#Ikuti aplikasi berita [Pojok Satu] di Play Store dan App Store: [Android] dan [iOS] untuk mendapatkan informasi terbaru.