POJOKSATU.id, PADANG— Kepergian Nia Kurnia Sari (18) menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarganya di Korong Pasa Surau, Nagari Guguak, Kecamatan 2X11 Kayu Tanam, Padangpariaman, Sumbar.

Betapa tidak, kepergian Nia Kurnia yang mendadak membuat keluarganya begitu terpukul karena September ini sebenarnya dia akan masuk kuliah, semua tes dan persyaratan telah usai.

Nia Kurnia rela berjualan gorengan demi hendak membeli laptop untuk keperluan kuliahnya.

Di tengah kesedihan keluarga ini, ayah Nia Kurnia Sari, Asril, bersedia berbagi cerita dengan wartawan, Selasa (10/9).

Dia mengungkap bahwa anaknya merupakan sosok yang baik dan pekerja keras. Nia ingin kuliah selepas tamat dari sekolah Institut Nasional Safi’i (INS) Kayu Tanam.

Baca Juga: Hong Kong Open 2024: 9 Wakil Indonesia Lolos 16 Besar, Cek Daftar Lengkapnya di Sini

Nia rela banting tulang menjual gorengan untuk biaya masuk perguruan tinggi.

Keinginan itulah yang membuat Nia Kurnia sangat bersemangat menjajakan gorengan dari rumah ke rumah di sekitar Nagari Guguak.

Gorengan yang dia jual itu bukan dibuat sendiri melainkan gorengan yang dibuat oleh orang lain dan Nia yang menjajakan. Uang hasil gorengan ini ditabung Nia untuk rencana membeli laptop.

Menurutnya, hal yang membuat Nia tambah bersemangat mengumpulkan uang karena adanya bantuan Rp 1,5 juta untuk biaya masuk kuliah.

Saat mendengar anaknya hilang, Asril langsung pulang ke rumah. Sehari-hari Asril berdakwah ke luar kota, sehingga jarang di rumah.

Baca Juga: Jabar Kondusif Jelang Pilkada 2024: Bey Machmudin Tekankan Pentingnya Penegakan Hukum dan Netralitas Petugas

Saat peristiwa itu terjadi, dia sedang berada di Medan. Mendengar Nia hilang, dia langsung pulang ke rumah.

Begitu sampai rumah, justru kabar duka yang dia terima. Asril begitu sedih, apalagi Nia meninggal dalam kondisi tak wajar.

Hal senada diutarakan Rini Mahyuni (19) kakak kandung korban. Keluarga sangat merasa kehilangan atas peristiwa yang menimpa adiknya itu.

“Nia ini orangnya baik. Sering membantu orang tua. Orangnya ceria, kami pihak keluarga ingin pelaku pembunuhan segera ditemukan dan dihukum seberatnya. Kami tidak terima. Hukum mati,” kata Rini.

Rini masih mengingat sebelum adiknya ditemukan tewas. Saat itu Jumat (6/9), adiknya pamit untuk berjualan gorengan keliling.

Namun hingga pukul 22.00 WIB, Nia tak kunjung pulang. Padahal biasanya setelah Magrib Nia sudah kembali ke rumah.

Baca Juga: Anjing Pelacak Ciumi Jilbab Nia Kurnia Sari Lalu Lari ke Irigasi Sawah, Ketemu Bukti Baru

“Jam 10 malam, saat ibu pulang ngantar jemput adik ngaji, Nia belum juga pulang, ibu minta aku nyari Nia ke tempat biasanya dia berjualan. Malam itu cuaca tidak baik. Aku bersama keluarga mencoba mencari dan memanggil manggil Nia di lokasi TKP, karena di situ gelap tanpa penerangan,” kata Rini.

Hilangnya Nia menyebar dari mulut ke mulut dan warga berduyun duyun ikut mencari hingga tengah malam. Namun, Nia tetap tidak ketemu.

Barulah pada Minggu (8/9), keberadaan Nia mendapat titik terang. Nia dilaporkan ditemukan dalam kondisi mengenaskan, dikubur di dalam lubang sempit tanpa busana.

Menurut Rini, adiknya selama ini dikenal baik, rajin dan gigih membantu ekonomi keluarga tidak pernah memiliki musuh ataupun bersikap aneh yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Nia juga dikenal ramah dan supel dalam bergaul.

Di sekolah, dia juga berprestasi di bidang akademik maupun ekstra kurikuler bela diri. Bahkan rencananya bulan ini Nia akan mulai kuliah.

“Padahal rencananya bulan ini dia mulai masuk kuliah, semua tes dan persyaratannya juga sudah selesai, sekarang Nia hanya mencari tambahan uang untuk beli laptop. Tapi takdir berkata lain, adik saya sudah meninggal,” kata Rini, kakak Nia Kurnia Sari. ***