POJOKSATU.id, MEDAN—Sosok dokter di RSUD Pirngadi Medan bernama dr Ramadhani Soeroso menjadi viral karena mengungkap dua pasiennya meninggal gara-gara tak ada obat di RS tersebut.
dr Ramadhani Soeroso bahkan menyinggung nama Wali Kota Medan Bobby Nasution yang juga menantu Jokowi ini dalam video viral itu.
Dokter Ramadhani menyebut beberapa orang pasiennya meninggal dunia karena ketiadaan obat di RSUD Pirngadi Medan.
dr Ramadhani Soeroso merupakan spesialis paru konsultan onkologi toraks.
“Ada pasien aku exit, klen tau kenapa. Karena nggak ada obat. Aku kadang-kadang pusing juga aku,” katan dokter ini dilihat dari akun @rekam.medan, Selasa (3/9).
Baca Juga: ASN Batal Pindah September ke IKN Gara-gara Hal Ini, Jokowi dan Azwar Anas Beri Penjelasan
Dia mengaku sangat kecewa karena beberapa orang pasiennya meninggal dunia akibat ketiadaan obat di RSUD milik Kota Medan itu.
“Tolonglah pak diberesin ini, pening kali kepalaku sudah dua pasienku eksit. Bikin malu aja, ini rumah sakit gini masa nggak ada obat,” ungkapnya menyinggung Walikota Medan Bobby Nasution.
Dalam video itu, dia berpesan kepada Bobby Nasution agar membenahi rumah sakit milik Pemko Medan tersebut.
Ia bahkan mengaku beberapa kali dia dan beberapa orang coas dokter harus membeli obat untuk pasien mereka.
Baca Juga: Ketiban Durian Runtuh, Franz Sihaloho Dilantik Jadi Anggota Dewan Meski Hanya Dapat 94 Suara
Hal itu karena mereka merasa terpanggil untuk membantu pasien mereka. Karena itu, ia kembali meminta agar manajemen mempergunakan anggaran untuk penyediaan obat.
“Tolonglah ya diberesin, banyak pasien kami yang sampai WA WA saya. Jadi tolong diberesi, kalau ada obat dipesanlah, duit itu kemana aja,” tegasnya.
Sementara itu manajemen RSUD dr Pirngadi Medan memberikan klarifikasi terkait unggahan viral dokter Ramadhani Soeroso tersebut.
Kepala Tim Hukum dan Humas RSUD dr Pirngadi Medan, Gibson Girsang, menegaskan bahwa kematian pasien tersebut tidak disebabkan oleh ketiadaan obat.
"Kami telah melakukan penelusuran dan membentuk tim audit medis untuk menginvestigasi kasus ini. Namun, hasilnya belum keluar. Yang bisa kami pastikan saat ini, penyebab kematian pasien bukan karena obat kosong," kata Gibson, Selasa (3/9).
Namun Girsang mengakui bahwa ada keterlambatan dalam distribusi obat, namun dia menegaskan bahwa obat yang diperlukan telah dipesan dan tiba di rumah sakit pada 2 Agustus 2024 meskipun distribusinya mengalami sedikit penundaan.
Pihak rumah sakit juga menyampaikan bahwa pasien yang meninggal tersebut berada dalam kondisi yang sangat berat saat dirujuk ke RSUD dr Pirngadi Medan.
"Kadang-kadang pasien datang sudah dalam kondisi yang sangat berat, bahkan setelah dirujuk dari rumah sakit lain. Kami berusaha sebaik mungkin, tapi memang kondisinya sudah parah," ujar Girsang.
Kementerian Kesehatan RI dan BPJS Kesehatan disebutnya juga telah turun langsung ke rumah sakit untuk menindaklanjuti persoalan ini. Termasuk mau memastikan kebenaran soal kekosongan obat.***




