POJOKSATU.id - Meskipun telah lama berlalu sejak masa kecilnya di Mojokerto, Ir Soekarno, ketika menjabat sebagai Presiden RI, kembali mengunjungi kota tersebut.
Jejaknya yang kembali terukir di sejumlah tempat membawa ingatan akan masa lalu yang pernah ia jalani di kota itu.
Sejarawan setempat menceritakan bahwa setelah proklamasi kemerdekaan, Soekarno beberapa kali mengunjungi Mojokerto.
Kehadirannya di kota itu, menurut cerita, terjadi pada tahun 1946, ketika Surabaya jatuh ke tangan musuh dan ibu kota karesidenan dipindahkan ke Mojokerto.
Soekarno datang untuk bertemu dengan para pejuang dan mendukung perjuangan kemerdekaan.
Meskipun detail waktu kedatangannya tidak dapat dipastikan, kehadiran Soekarno di Mojokerto menciptakan momen bersejarah yang diingat oleh masyarakat setempat.
Dan, tidak hanya sekali, Soekarno kembali ke Mojokerto pada tahun 1950, kali ini dalam perjalanan menuju rumah keluarganya di Blitar, tetapi disambut dengan demonstrasi di stasiun setibanya di kota itu.
Dalam situasi tersebut, Soekarno, didampingi oleh Fatmawati, menghadapi massa yang menuntut pembubaran Negara Djawa Timur (NDT).
Dengan bijak, Soekarno meminta rakyat untuk bersabar, menjanjikan bahwa dia akan segera membuat keputusan terkait NDT.
Namun, dalam momen itu, yang menarik adalah peran yang diambil oleh Fatmawati.
Berbeda dari biasanya, Fatmawati yang menyampaikan orasi, menekankan pentingnya peran perempuan dalam mengisi masa kemerdekaan, menunjukkan kesadaran akan keberagaman gender dalam perjuangan nasional.***



