POJOKSATU.id - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, mengajak generasi muda menanam pohon, terutama di lahan- lahan terbuka.

Hal itu dilakukan demi menjaga keseimbangan alam, sekaligus upaya konkrit dan strategis mengatasi triple planetary crisis.

Yakni perubahan iklim, polusi dan ancaman kehilangan keanekaragaman hayati dimana ketiganya saling terkait dan sangat mendesak untuk diatasi.

"Makanya saya minta setiap bulan dilakukan penanaman pohon setentak seluruh Indonesia. Saat ini kita lakukan di kawasan Puncak, Ciajur," ujar Siti di sela penanaman ribuan pohon di Desa Pakuon, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Rabu 7 Februari 2024.

Baca Juga: Suka Traveling dan Peduli Lingkungan-Hutan? Kuliah di Prodi Manajemen Hutan IPB University Bisa Jadi Pilihan

Menurutnya, setiap ada lahan atau area terbuka harus dilakukan penanaman pohon. Terlabih di daerah penyangga Jabodetabek yang dirasa cukup penting.

"Puncak dari dulu kan tempat orang healing, maka jangan sampai surut ini fungsi kawasan Puncak," kata dia.

Berdasarkan pengamatannya di kawasan Puncak, sudah cukup banyak area yang sudah ditanami pohon. Akan tetapi masih dibutuhkan penataan dan dipercantik lagi.

Ini perlu dilakukan agar kawasan Puncak bukan saja tetap asri, tapi juga sangat mendukung untuk pariwisata.

Baca Juga: Miliki Kepedulian Tinggi Terhadap Lingkungan, Pertamina Patra Niaga Regional JBB Raih 8 Penghargaan IGA 2024

"Jadi semua harus dipercantik, dibuat lebih manis. Tapi jangan lupa konteks lingkungan tetap diutamakan. Apalagi Puncak kan daerah lereng, jadi tidak boleh sembarangan," ujar dia.

Siti mengaku, dirinya kerap kali sport jantung ketika memasuki bulan Januari dan puncak musim hujan setiap tahunnya.

"Karena kalau sudah mulai hujan, yang longsor duluan, banjir duluan, itu selalu Jawa Barat. Makanya kami di Kementerian (KLHK) tiap hari ngontrol curah hujan dan daerah-daerah," ungkap dia.

"Puncak ini kan materialnya di beberapa bagian rawan longsor. Syukur sampai Februari ini nggak ada apa-apa," sambung dia.

Nah, peran dan andil generasi muda dalam menjaga lingkungan terbuki cukup besar. Terutama generasi milenial dan Gen Z yang jumlahnya sangat besar.

"Sekarang mereka sudah punya kesadaran sendiri karena persepsi tentang lingkungan sudah sangat kuat," tuturnya.

Karena itu, tinggal pemerintah bisa menyalurkan dan memfasilitasi generasi muda.

"Sekarang KLHK sudah mengembangkan Green Ambassador yang merupakan green leaders yang muncul dan diproses aktivis lingkungan dan bisa juga muncul dari kader konservasi,"

Baca Juga: Mahasiswa KKN Tematik Inovasi IPB University Bersama Dinas Lingkungan Hidup Cianjur Jalankan Aksi Penghijauan di Desa Cibarengkok

"Saya sedang memikirkan juga, mungkin bisa muncul dari para tokoh yang peduli lingkungan," tandas Siti.

Sementara, tokoh Green Leader Indonesia, Ananda Tohpati menilai, permasalahan di Puncak saat ini sudah semakin kompleks.

Hal itu dibarengi dengan tingginya hunian masyarakat yang dibarengi produksi sampah yang juga bertambah.

"Jadi semakin banyak penduduk, pohon makin berkurang. Semakin banyak penduduk, sampah semakin banyak," kata dia.

Baca Juga: Bentuk Kontribusi Nyata, Platform Digital Ini Dukung Kelestarian Lingkungan di Hutan Ujung Menteng

Di sisi lain, Puncak juga jadi jujugan masyarakat yang didominasi oleh generasi muda untuk berwisata atau sekedar healing.

"Inilah yang harus dibangkitkan lagi, bahwa kesadaran lingkungan itu sangat penting," ujar dia.

"Peduli lingkungan tidak usah jauh-jauh. Lakukan saja yang ada di depan mata kita," lanjut Ananda.

Karena itu ia berharap generasi muda bisa ikut berperan aktif dan memiliki kepedulian tinggi pentingnya kelestarian alam dan lingkungan.

"Menurut saya sederhana. Cintailah alam, maka alam akan mencintai kita. Itu saja," tutup Ananda Tohpati.***