POJOKSATU.ID- Sejumlah Komponen Pemuda dan Aktivis Mahasiswa menggelar Bedah Buku Hitam Prabowo Subianto: Catatan Kelam Reformasi 98 dan Masa Depan Demokrasi Indonesia. Bedah buku ini digelar di Kafe Pagi Tepi Pantai, Komplek Universitas Padang.

Anehnya kegiatan bedah buku ini tidak berjalan mulus, karena ada sekelompok pemuda diduga penyusup memprotes dan berkomentar agar kegiatan bedah buku tersebut diberhentikan.

Alasannya karena bagian dari kampanye terselubung dan kampanye hitam yang merugikan pasangan calon paslon tertentu.

Baca Juga: Ngeri! lima Kendaraan Terlibat Kecelakaan di Puncak Bogor, Sejumlah Bangunan Hancur

"Kegiatan yang diwarnai tengkar argumen dan perbedaan pandangan tersebut direspon dan ditantang," kata  Penulis Buku Hitam Prabowo Subianto Azwar Furgudyama kepada wartawan, Selasa (23/1/2024).

Azwar Furgudyama yang juga putra asli kelahiran tanah minang tersebut dengan suara lantang menegaskan, pihaknya menantang untuk pihak-pihak yang merasa dirugikan dari buku ini, agar membantah sejumlah data dan fakta terhadap keterlibatan Prabwo pada penculikan aktivis 98.

Walaupun diprotes oleh sekelompok orang agar kegiatan diskusi tersebut diberhentikan, namun panitia penyelenggara tetap melangsungkan kegiatan di maksud hingga selesai.

Baca Juga: Blak- blakan Ustaz Ini Sebut, Para Oligarki Siapkan 50 Triliun Beli Indonesia Tapi Hancurkan Anies Butuh 300 Triliun, Singgung 9 Naga

Azwar menantang, kegiatan diskusi ini bertujuan untuk memberitahukan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa dalam memilih pemimpin harus melihat rekam jejaknya.

"Publik harus tahu bahwa Prabowo Subianto secara faktual dan tidak bisa dibantah oleh sejarah di negara ini adalah orang satu-satunya petinggi militer pada tahun 1998 yang dipecat dari dinas kemiliteran oleh Dewan Kehormatan Perwira. Itu yang masyarakat Indonesia hari ini harus tau," jelas Azwar.

Karena itu, kata Azwar, buku yang dikarangnya itu bukan bermaksud untuk kampanye hitam kepada sosok tertentu.Namun, ini merupakan fakta sejarah yang belum terungkap dan diselesaikan.

Baca Juga: Unik Ada Caleg Nasdem di Cirebon, Kampanye Pijit Terapi Telor

Apalagi, kata Azwar, pada Pemilu 2014 dan 2019 dirinya mendukung Jokowi. Tujuan dukungan tersebut, agar mengalahkan Prabowo sebagai pelanggar HAM yang menculik kawan-kawannya di tahun 98.

"Kita semua bertanggungjawab untuk menyelamatkan bangsa ini dari kepeminpinan yang otoriter dan feodal sebagai warisan orde baru. Apalagi pada hari ini, wakilnya pelanggar konstitusi atau etik," tutur Azwar.

Sementara itu, Sarah Azmi Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Sumatera Barat (PBHI) menjelaskan, pihaknya sangat konsen pada isu HAM.

Baca Juga: MOHON MAAF JIKA KECEWA, Hanya Guru dengan 4 Kriteria Ini yang jadi Calon Mahasiswa PPG Daljab 2024

Sarah mengatakan, banyaknya kasus pelanggaran HAM di Sumatera Barat dipicu oleh Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan tidak mempertimbangkan kemanusian dan HAM.

Bahkan, kata Sarah, pada konteks pelanggaran HAM Berat Masa lalu, sejauh ini Negara seolah-olah membiarkan pelaku pelanggar HAM dan kekuasan masih membiarkannya untuk menjadi orang nomor satu di republik ini.

"Kami mengajak kepada generasi muda agar sama-sama mengawal kasus pelanggaran HAM Berat Masa lalu dan pelanggaran HAM pada hari ini," jelas Sara.

Baca Juga: Sebut Bakal Pilih Capres yang Pandai Mengaji, Kartika Putri Dikritik Netizen

Sementara itu, Muhammad Jamil Pengamat Politik dan Kebijakan Publik menjelaskan, akhir-akhir ini harus diakui ketakutan itu terjadi juga di kalangan akademis.

Buku Hitam Prabowo ini, kata Jamil, buku ini tidak bermasalah. Karena memang berbasis data-data dan sejumlah informasi penting yang sangat akurat.

Maka, buku ini layak untuk dibaca oleh publik. Karena sejauh ini, Buku Hitam ini belum ada yang membantah.

"Demokrasi kita ini telah diperkosa oleh segelintir orang," jelas Jamil. ***