POJOKSATU.id - Unggahan di media sosial Facebook yang menyatakan bahwa vaksin demam berdarah dengue berbahaya karena dapat menyebabkan Antibody-Dependent Enhancement (ADE) adalah tidak benar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan izin untuk vaksin demam berdarah dengue seperti Dengvaxia dan Qdenga.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) juga telah memberikan izin edar untuk vaksin Dengvaxia sejak 31 Agustus 2023 lalu, namun masyarakat belum yang tahu tentang vaksin ini.

Hingga saat ini, BPOM belum menemukan efek samping yang merugikan dari penggunaan vaksin Dengvaxia. Oleh karena itu, klaim bahwa vaksin ini berbahaya tidak memiliki dasar fakta.

Badan POM RI telah melakukan re-evaluasi keamanan dan manfaat tersebut dengan memperhatikan hasil studi terbaru dari data keamanan penggunaan vaksin Dengvaxia di Indonesia dan hasil evaluasi yang dilakukan oleh WHO serta rekomendasi IDAI.

Baca Juga: Implementasi Wolbachia, Warga Ujung Berung Ternak Nyamuk Cegah Penyebaran DBD

Setelah dilakukan penilaian ulang, ditemukan bahwa pemberian vaksin Dengvaxia pada orang yang belum pernah terkena virus dengue sebelumnya (seronegatif) bisa menyebabkan risiko demam berdarah dengue yang lebih parah.

Termasuk risikokemungkinan perlu rawat inap yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan mereka yang seronegatif dan tidak mendapat vaksin (plasebo).

Di samping itu, pada anak-anak yang berusia ≥ 9 tahun, manfaat vaksin pada mereka yang seronegatif lebih terbatas dibandingkan dengan yang sudah pernah terinfeksi dengue.

Vaksin Dengvaxia tetap memberikan manfaat pada mereka yang sudah terinfeksi virus dengue sebelumnya (seropositif) dalam rentang usia 9-16 tahun.

Badan POM RI tetap memantau dan menindaklanjuti pemberitaan ini. Jika masyarakat memerlukan informasi lebih lanjut dapat menghubungi contact center HALO BPOM RI di nomor telepon 1-500-533 atau sms 0-8121-9999-533.

Demam berdarah marak terjadi saat musim hujan. Hal ini karena curah hujan yang tinggi memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dengan baik.

Vaksin demam berdarah menjadi salah satu cara untuk menekan angka kasus demam berdarah sekaligus mencegahnya.

Dalam lima tahun terakhir, Indonesia telah mengalami peningkatan kasus DBD jika dibandingkan dengan data dua dekade yang lalu.

Baca Juga: HOAKS! Inovasi Wolbachia Untuk Pengendalian Wabah DBD dan Misi Bill Gates Sebagai Bapak LGBT Sedunia, Cek Faktanya!

Data Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa kasus DBD meningkat secara signifikan dari tahun 2021 (sekitar 73.500 kasus dengan 705 kematian) dan 2022 (sekitar 131.200 kasus dengan 1.183 kematian).

Demam berdarah (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Penyakit DBD memiliki beberapa gejala, seperti demam tinggi, ruam di kulit, nyeri tulang atau otot, dan sakit kepala di bagian belakang mata. Pada kasus yang parah, penyakit ini bisa memicu perdarahan yang dapat mengancam nyawa.

Orang yang sudah pernah terkena DBD juga bisa mengalami re-infeksi atau infeksi berulang, terkadang infeksi DBD berulang ini bisa menimbulkan gejala yang lebih lebih parah.

Ya, vaksin demam berdarah (DBD) telah tersedia di Indonesia. Vaksin ini bernama Tetravalent Dengue Vaccine (TDV).

Vaksin ini mengandung virus dengue 1 sampai 4 yang dilemahkan. TDV dapat membentuk kekebalan tubuh terhadap 4 tipe virus dengue yang beredar.

Vaksin dengue dapat diberikan dua dosis mulai usia enam tahun hingga 45 tahun sebagai pencegahan demam berdarah.

Baca Juga: Waspada DBD, Relawan Ganjar Gelar Fogging di Tangerang

BPOM telah mengeluarkan izin edar untuk Vaksin Dengue dengan nama QDENGA, produksi Takeda – Jerman yang mampu memberikan perlindungan jangka panjang setelah melengkapi 2 dosis dalam 3 bulan. Harga merk ini Rp 735 ribu per dosis per orang.

Vaksin demam berdarah yang ada saat ini memang dapat menurunkan risiko infeksi virus dengue di negara-negara dengan angka kasus demam berdarah tinggi.

Namun, hal ini hanya dapat tercapai jika vaksin digunakan dengan benar.

Pemberian vaksin demam berdarah hanya disarankan ketika manfaatnya lebih besar dari risikonya.

Oleh karena itu, Anda perlu konsultasi ke dokter lebih dulu jika ingin mendapatkan vaksinasi demam berdarah untuk memastikan bahwa Anda cocok menerima vaksin tersebut. ***