POJOKSATU.id - Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengusulkan Mohammad Tabrani sebagai pahlawan nasional.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat perjuangan Mohammad Tabrani dalam menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangatlah gigih.
Maka dari itu, pada peringatan Hari Pahlawan Nasional tahun ini, Presiden RI Joko Widodo akan memberikan gelar pahlawan nasional kepada Mohammad Tabrani.
Tanpa perjuangan Mohammad Tabrani, mungkin saat ini bahasa persatuan bukanlah bahasa Indonesia. Hal itu tercermin dari perjuangan Mohammad Tabrani di kongres pemuda I yang gigih mengusulkan agar bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan dan terwujud serta disepakati setelah kongres pemuda II.
Baca Juga: Inilah Para Sosok dengan Gelar Pahlawan Nasional yang Ditetapkan Presiden, Ada Raja Sampai Ulama
Selain menjadi pahlawan nasional, sebagai bentuk penghormatan pihak Kemendikbud juga telah mengubah nama gedung di Kantor Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan dari nama Samudra menjadi Mohammad Tabrani.
Mohammad Tabrani Soerjowitjirto, lahir pada 10 Oktober 1904 dan wafat pada 12 Januari 1984. Ia dikenal sebagai seorang jurnalis dan politikus berdarah madura yang memegang peran penting dalam mengusulkan penggunaan bahasa Indonesia.
Mohammad Tabrani berjuang melawan kolonialisme, diskriminasi ras, dan perbedaan etnis.
Bahkan ketika disebut "negro" saat baru tiba di Belanda pada tahun 1927, Tabrani tetap gigih dalam perjuangannya.
Bagi Tabrani, bahasa Indonesia memegang peran penting sebagai alat komunikasi yang mampu menyatukan berbagai kelompok di Indonesia.
Konsep ini membentuk dasar pemikiran nasional yang berbeda dari organisasi pemuda pada masa itu yang lebih memprioritaskan kepentingan suku atau daerah.
Baca Juga: Menyambut Hari Pahlawan, Ini Pedoman Lengkap Upacara Bendera 10 November 2023
Sebelum Sumpah Pemuda, Tabrani dan Sutan Sjahrir memiliki perbedaan pandangan dengan Mohammad Yamin mengenai pemilihan bahasa persatuan.
Yamin mendukung bahasa Melayu, sementara Tabrani bersikeras bahwa bahasa Indonesia harus mencerminkan identitas dan darah Indonesia.
Akhirnya, gagasan Tabrani diadopsi dalam sidang kedua tahun 1928 dan ia dijuluki sebagai Bapak Bahasa Indonesia.
Sejak masa remaja, Tabrani telah menunjukkan kesadarannya terhadap persatuan Indonesia.
Ketika masih bersekolah di OSVIA, ia menulis di majalah Jong Java. "Apa gunanya Jawa Raya, jika bagian lain Hindia masih jauh tertinggal dalam banyak hal?" tanya Tabrani dalam majalah Jong Java, edisi 1 dan 15 Oktober 1924.
Mohamad Tabrani merupakan kettua Kongres Pemuda Indonesia pertama.
Setelah berhasil menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia Pertama dari Belanda, ia mengemukakan pandangannya yang mendukung program imigrasi, terutama dengan mengirimkan para nasionalis Indonesia ke daerah lain untuk memperluas dan memperkuat gerakan kemerdekaan.
Selain sebagai politikus, karier Tabrani juga melejit sebagai seorang jurnalis.
Ia mengambil alih posisi Soetan Palindih sebagai redaktur muda yang cemerlang di redaksi Hindia Baroe, surat kabar Indonesia yang didirikan oleh Haji Agus Salim.
Sejak Mei 1930, ia memimpin majalah mingguan Revue Politik. Dengan kata lain, Tabrani tidak hanya berperan dalam memajukan bahasa Indonesia, tetapi juga aktif dalam mengembangkan bahasa tersebut terutama melalui media massa.
Tabrani juga menerbitkan sebuah buku tipis berjudul "Ons Wapen: De Nationaal Indonesische Pers en Hare Organisatie" (Senjata Kita: Pers Nasional Indonesia dan Organisasinya) pada tahun 1929.
Buku ini berisi uraian ilmiah tentang bidang persuratkabaran dan tantangannya di Indonesia pada masa kolonial.***



