POJOKSATU.id - Ende merupakan kota kecil di lereng perbukitan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Namun di sana Bung Karno merenung dan membingkai Pancasila, yang kini menjadi dasar negara Indonesia.
Buah perenungan Bung Karno saat masa pembuangannya selama empat tahun antara 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938 di kota kecil itu, telah melahirkan Pancasila.
"Dalam segala hal maka Ende, di Pulau Bunga yang terpencil itu, bagiku menjadi ujung dunia. Pulau Muting, Banda atau tempat yang jelek seperti itu, ke tempat-tempat mana rakyat kita diasingkan, tidak akan lebih baik daripada ini," ucap Bung Karno sebagaimana ditulis oleh Cindy Adams dalam bukunya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Sejarah lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945 di sidang BPUPKI, memang tak bisa dipisahkan dari Ende.
Bung Karno dikisahkan sering duduk di bawah pohon sukun merenungkan dan mengabstraksikan pikiran-pikiran hingga melahirkan rumusan sila-sila Pancasila.
Pengasingan Bung Karno ke Ende dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, De Jonge yang terbit pada 28 Desember 1933.
Bung Karno segera menyampaikan isi surat tersebut kepada Inggit Garnasih, istri tercintanya.
Lalu ibu Inggit dengan yakin menjawab “aku akan ikut denganmu walau sampai ke dasar lautan”.
Namun ibu Inggit juga kebingunan.
“Kus Ende itu di mana?” tanya Inggit kepada Bung Karno yang dipanggilnya dengan nama asli Bung Karno yaitu Koesno Sosrodihardjo.
Pertanyaan itu menunjukan bahwa Ende saat itu bukanlah tempat yang familiar untuk keluarga ini.
Pada 6 Januari 1934, Bung Karno bersama Inggit, Ratna Djuami (anak angkat), serta mertuanya Ibu Amsi, bertolak dari Surabaya menuju Pelabuhan Ende dengan kapal barang KM van Riebeeck.
Baca Juga: Kasus Terus Bertambah, Ini 5 Cara Mencegah Penularan Cacar Monyet
Selama kurang lebih delapan hari pelayaran, pada 14 Januari 1934, Bung Karno dan keluarga tiba di Pelabuhan Ende.
Selama di Ende, Bung Karno dan keluarga dibawa ke Kampung Ambuaga, Ende menghuni rumah milik seorang saudagar lokal, Abdullah Ambuwaru.
Di rumah berukuran 12 x 9 meter persegi itu Bung Karno menjalani hari-harinya selama hampir empat tahun lamanya.
Di belakang rumah Bung Karno ada sumur yang dalamnya 12 meter, digunakan oleh Bung Karno untuk minum, mandi, mencuci dan wudhu untuk sembahyang.
Beberapa puluh meter dari rumahnya ke arah pantai selatan, terdapat tanah lapang yang kala itu ditumbuhi sebatang pohon sukun.
Di tempat ini nyaris setiap sore selepas shalat Ashar, Bung Karno duduk merenung, kadangkala hingga tengah malam, bahkan sampai subuh.
Dari perenungannya, Bung Karno merumuskan sila-sila Pancasila yang kemudian menjadi dasar Negara Republik Indonesia.
Hari Libur Nasional
Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila menetapkan, bahwa tanggal 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila.
Dalam Keppres tersebut juga menetapkan pada setiap tanggal 1 Juni sebagai hari libur nasional.
Ditetapkannya tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila dikarenakan pada tanggal 1 Juni 1945, kata Pancasila pertama kali disebut oleh Soekarno, dalam Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Decuritsu Junbi Cosakai.
Penetapan tersebut juga bertujuan agar pemerintah, masyarakat, dan seluruh komponen bangsa memperingati Pancasila sebagai ideologi Bangsa Indonesia setiap tanggal 1 Juni.***




