POJOKSATU.id - Presiden RI, Jokowi, punya mimpi besar untuk Indonesia.
Yaitu, downstreaming atau peningkatan nilai tambah dari komoditas 'harta karun' kita.
Jadi, gini loh, Sobat. Selama ini, kita tuh udah ekspor bahan mentah sejak era VOC Belanda, udah lebih dari 400 tahun.
Menurut Presiden Jokowi, ini nggak memberikan nilai tambah buat Indonesia.
Pada tahun 70-an dan 80-an juga pernah terjadi hal serupa. Komoditas yang kita miliki nggak memberikan nilai tambah buat pendapatan negara.
Makanya, pemerintah sekarang lagi gencar-gencarnya melakukan program downstreaming biar bisa memberikan nilai tambah buat pendapatan negara.
Presiden Jokowi memberi contoh nyata. Pendapatan negara kita meningkat pesat setelah kebijakan penghentian ekspor bijih nikel.
Baca Juga: Komoditas Pangan Naik Jelang Idul Adha, Defri Noval Pasaribu: Pemerintah Abai Atasi Lonjakan Harga
Dari roadmap Kementerian Investasi/BKPM yang dirilis September 2023, ada proyeksi investasi downstream sampai 2040 untuk 8 sektor prioritas dan 21 komoditas.
Total investasi yang dibutuhkan untuk downstreaming ini mencapai US$ 545.3 miliar.
Meski jalannya berat, Presiden Jokowi tegas bilang bahwa Pemerintah Indonesia nggak akan mundur untuk melanjutkan program downstreaming meski beberapa negara dan organisasi internasional 'menyerang' kebijakan RI.
Baca Juga: Kondisi Harga Komoditas di Luwu Utara Relatif Stabil
Pemerintah juga nggak akan berhenti melakukan kebijakan menuju industrialisasi dan downstreaming komoditas mentah.
Kebijakan ini bakal memberikan nilai tambah yang besar buat negara kita.
Downstreaming nikel akhirnya membawa manfaat yang lebih besar buat Indonesia, bahkan mencapai IDR 510 triliun.
Sebelum downstreaming ini berjalan, Indonesia cuma bisa dapet nilai ekspor sebesar IDR 17 triliun.***


.webp)
