POJOKSATU.id, JAKARTA— Tentara Belanda bernama Raymond Westerling ini dikenal sebagai tentara paling kejam bagi bangsa Indonesia.

Raymond Westerling dengan pangkat terakhir Kapten meninggalkan jejak kelam bagi rakyat Indonesia di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Jawa Barat.

Raymond Westerling adalah bekas Komandan Pasukan Khusus Belanda Depot Speciale Troepen (DST) atau Korps Speciaale Troepen (KST).

Namanya lebih dikenal sebagai pemimpin algojo atas penghilangan nyawa ribuan orang-orang pro Republik di Sulawesi Selatan yang disebut memakan korban 40.000 jiwa.

Baca Juga: Anies Baswedan Datangi Forum Pemred Radar Bogor Group di Graha Pena, Terima Aspirasi yang Disepakati Bersama

Dalam Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar (2010), dijelaskan Belanda hendak mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT) dengan Makassar sebagai ibu kotanya.

Maka pada akhir tahun 1946, 120 orang dari pasukan khusus DST dengan komandannya Westerling, dikirim ke Makassar.

Mereka tiba dengan kapal pada 5 Desember 1946. Mereka ditugasi menumpas pemberontak di Sulsel versi penjajah kolonial.

Pemberontak ini adalah kelompok nasionalis yang mendukung kemerdekaan RI.

Baca Juga: Rekap Hasil Final Hongkong Open 2023: Indonesia Juara Umum

Westerling mencari para pendukung kemerdekaan yang melawan Belanda. Ia menanyakan siapa saja yang ikut pemimpin pejuang kemerdekaan bernama Wolter Monginsidi.

Di hadapan penduduk, mereka yang dicurigai dan dituduh, ditembak mati di tempat. Kekejaman itu mengawali operasi Westerling selama tiga bulan ke depan.

Para pria dan pemuda diminta mengakui keterlibatan mereka dalam perlawanan terhadap Belanda.

Di depan keluarga, mereka disiksa sebelum akhirnya ditembaki. Rumah-rumah dibakar dan diledakkan dengan granat.

Kemudian pada 1 Februari 1947, DST dan KNIL menggelar operasinya di Galung Lombok. Sebanyak 364 orang tewas.

Baca Juga: Banjir Kritikan atas Keputusannya Melanjutkan Acara Talkshow-nya, Drew Barrrymore Akhirnya Minta Maaf

Operasi Westerling berlangsung selama lebih dari tiga bulan dari 5 Desember 1946 hingga 21 Februari 1947.

Sedikitnya 40.000 orang gugur baik warga sipil dan pejuang republik di tangan Westerling dan pasukannya.

Selain di Sulawesi Selatan, Raymond Westerling juga meninggalkan jejak kelam di tanah Priangan atau Jawa Barat.

Tahun 1947-1948 adalah hari-hari kelam di wilayah Takokak Cianjur. Nyaris dua kali dalam seminggu, orang-orang yang dituduh kaum Republik dibawa ke wilayah terpencil yang berada di selatan Cianjur.

Bukan untuk dipenjarakan atau diasingkan, tetapi untuk dihilangkan nyawanya di hutan-hutan dan puncak-puncak gunung.

Baca Juga: Polemik Penyaluran Program Sembako dan BPNT di Rengasdengklok Karawang, Begini Klarifikasi TKSK

Setelah Persetujuan Renville, anggota pasukan KST atau DST ditugaskan juga untuk melakukan patroli dan pembersihan, antara lain di Jawa Barat.

Sama seperti di Sulawesi Selatan, banyak anak buah Westerling melakukan pembunuhan sewenang-wenang terhadap penduduk di Jawa Barat.

Perbuatan ini telah menimbulkan protes di kalangan tentara KL (Koninklijke Leger) dari Belanda, yang semuanya terdiri pemuda wajib militer dan sukarelawan Belanda.

Pada 17 April 1948, Mayor RF Schill, komandan pasukan 1-11 RI di Tasikmalaya, membuat laporan kepada atasannya, Kolonel MHPJ Paulissen di mana Schill mengadukan ulah pasukan elit KST yang dilakukan pada 13 dan 16 April 1948.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Dapat Dukungan Jadi Presiden 2024 dari Forum Alumni Perguruan Tinggi se-Indonesia

Di dua tempat di Tasikmalaya dan Ciamis, pasukan KST telah membantai 10 orang penduduk tanpa alasan yang jelas, dan kemudian mayat mereka dibiarkan tergeletak di tengah jalan.

Pengaduan ini mengakibatkan dilakukannya penyelidikan terhadap pasukan khusus pimpinan Westerling.

Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata banyak kasus-kasus pelanggaran HAM yang kemudian mencuat ke permukaan.

Bahkan pers mulai menuding bahwa kekejaman Westerling tidak ada bedanya dengan polisi rahasia Jerman semasa Hitler.

Baca Juga: Jonatan Christie Juara Hongkong Open 2023, Tekuk Penakluk Ginting di Final

Untuk menghindari tuntutan ke pengadilan militer, pemerintah Belanda memilih untuk memberhentikan Westerling pada 16 November 1948.


Profil Raymond Westerling

Westerling merupakan anak kedua dari Paul Westerling (Belanda) dan Sophia Moutzou (Yunani). Westerling lahir pada 31 Agustus 1919 dan meninggal pada 26 November 1987 di usia 68.

Westerling dijuluki ‘Si Turki’ karena lahir di Istanbul, Turki. Dia mendapatkan pelatihan khusus di Skotlandia.

Dia masuk dinas militer pada 26 Agustus 1941 di Kanada. Pada 27 Desember 1941 dia tiba di Inggris dan bertugas di Brigade Prinses Irene di Wolverhampton, dekat Birmingham.

Westerling termasuk 48 orang Belanda sebagai angkatan pertama yang memperoleh latihan khusus di Commando Basic Training Centre di Achnacarry, di Pantai Skotlandia yang tandus, dingin dan tak berpenghuni.

Mereka dipersiapkan untuk menjadi komandan pasukan Belanda di Indonesia.

Setelah aksinya berhenti diusut dan berhenti dari dunia militer, Westerling hidup di Belanda dan beberapa kali harus berganti pekerjaan.

Raymond Westerling sempat menulis buku dan pada akhirnya memiliki sebuah toko barang antik di Amsterdam Belanda.***