POJOKSATU.id - Ibu dan anak tewas di Cinere, Depok, tidak bisa langsung dinyatakan bunuh diri.
Kasus ibu dan anak tewas di Cinere, Depok, saat ini ditangani Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.
Ibu dan anak tewas di Cenere itu ditemukan sudah dalam kondisi tinggal kerangka.
Diduga, ibu dan anak berinisial GAH (65) dan DAM (38) itu meninggal lebih dari sebulan yang lalu.
Banyak yang menduga bahwa ibu dan anak tewas di Cinere itu adalah kasus bunuh diri.
Hal itu lantaran ditemukan adanya pesan terakhir berjudul 'to you whome ever' di laptop korban.
Baca Juga: Tak Pernah Publikasikan Sosok Kekasih, Hana Hanifah Umumkan Menikah
Selain itu, juga ditemukan adanya secara kertas di meja dapur.
Di atas kertas tersebut, tertulis 2 nama lengkap nomor telepon untuk dihubungi.
Akan tetapi, hal itu tetap tidak bisa membuat kasus ibu dan anak tewas di Cinere itu adalah kasus bunuh diri.
Sebaliknya, polisi tetap harus mengusut satu per satu penyebab kematian ibu dan anak tersebut.
Itu pun juga harus didasarkan pada hasil penyelidikan yang komprehensif.
Demikian pendapat pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel, kepada wartawan, dikutip Pojoksatu.id, Minggu 10 September 2023.
Kenapa Reza Indragiri berpendapat demikian?
Setidaknya ada 3 fakta yang diutarakan Reza Indragiri Amriel.
Pertama, dalam peristiwa ini yang menghebohkan warga permahan Bukit Indah Cinere itu, korban berjumlah lebih dari 1 orang.
Kedua, peristiwanya terjadi di 1 tempat kejadian perkara atau TKP atau di rumah korban yang bernomor 39.
Ketiga, dimungkinkan, kedua korban meninggal dalam 1 waktu yang sama.
"Makanya, penyebab kematian jenazah harus disisir satu persatu," jelas Reza.
Dengan menelisik kematian ibu dan anak, maka penyidik bisa secara spesifik dapat membuat kesimpulan.
Apa yang menyebabkan sang ibu meninggal dunia, dan apa pula yang menyebabkan sang anak meninggal dunia dan lain sebagainya.
"Jadi, tidak bisa pukul rata pasti karena bunuh diri atau akibat kecelakaan," jelasnya lagi.
Reza pun mencontohkan kasus di Kalideres yang cukup menghebohkan pula beberapa waktu lalu.
"Kasus ini mirip dengan kasus Kalideres yang mati lebih dari satu orang, maka perlu dicari tahu penyebab kematian masing-masing jenazah," papar dia.
Saat itu, ada 1 orang yang meninggal dunia krena menelan zat tertentu.
Akan tetapi ternyata aksi itu didahului dengan pengkondisian korban kedua.
Dengan hasil penyelidikan tersebut, diketahui bahwa teryata kasus di Kalideres itu bukan kas bunuh diri.
"Maka, lebih tepat jika ini disebut pembunuhan. Karena pengkondisian oleh pihak lain, dipengaruhi pihak lain. Ini mendekati pembunuhan, bukan bunuh diri," tegasnya.
Baca Juga: Total Hadiah China Open 2023 Setara dengan Isi Rekening Viktor Axelsen Sepanjang Karirnya
Sebelumnya, polisi menemukan pesan terakhir to you whom ever ibu dan anak tewas di Cinere, Depok dari laptop.
Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Heryadi menjelaskan, to you whom ever itu adalah nama sebuah file dalam laptop dimaksud.
Sementara isi file tersebut adalah tulisan yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Baca Juga: Rincian Hadiah China Open 2023, Jojo Menang Banyak Walau Cuma Sampai Semifinal
Jika diterjemahkan, tulisan ini memiliki makna yang mendalam dan seakan berkaitan dengan kematian ibu dan anak yang ditemukan tinggal kerangka itu.
"Jadi, disana tertulis siapapun yang membaca tulisan ini mungkin pada saat melihat tulisan ini saya dan ibu saya sudah meninggal dunia," jelas Kombes Hengki Haryadi, Jumat 8 September 2023.
Kendati demikian, penyidik Ditrekrimum Polda Metro Jaya masih belum menyimpulkan isi tulisan dalam pesan to yo whom ever tersebut.
Saat ini, penyidik masih menerjemahkan tulisan tersebut dan melakukan analisa.
Baca Juga: Wow, Fuji dan Asnawi Kedapatan Malam Mingguan Bareng dan Dinner Berdua, Jadian Nih?
Selain itu, penyidik juga masih belum bisa memastikan siapa penulis pesan terakhir to you whome ever tersebut.
Sebab bisa saja tulisan itu bukan dibuat oleh ibu dan anak tewas di Cinere.
Bisa saja tulisan itu dibuat oleh orang lain, selain kedua korban.
Baca Juga: Pernyataan Tegas Sekjen PDIP untuk Ketua DPC Gerindra Semarang, Singgung soal Barbarian
"Biar nanti alat bukti yang akan mengarahkan kira-kira apa yang terjadi," tegas Hengki.
"Apakah ini matinya alami, natural. Apakah accident, kecelakaan. Apakah suicide, bunuh diri. Atau homicide, pembunuhan. Apakah gabungan dari berbagai analisis ini," sambung dia.
Selain itu, penyidik juga menemukan selembar kertas di meja dapur bertuliskan 2 nama dan 2 nomor telepon.
Baca Juga: Mata Air
2 nama berinisial S dan K itu juga sudah dimintai keterangan oleh penyidik.
"Kurang lebih 10 saksi sudah kita proses (periksa), dari keluarga dari lingkungan dan juga dari masyarakat," terang Kasubdit 4 Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Samian.
Tidak menutup kemungkinan, penyidik akan kembali melakukan olah TKP agar bisa menyimpulkan penyebab kematian ibu dan anak tersebut.***




