POJOKSATU.id, JAKARTA-- Litbang Kompas merilis hasil survei elektabilitas kandidat capres 2024. Anies Baswedan kalah di semua kategori dari Prabowo dan Ganjar.
Prabowo Subianto memperoleh 52,9%, sedangkan Ganjar Pranowo 47,1%. Pada Januari 2023, elektabilitas Prabowo 43,3% versus Ganjar 56,7%, kemudian pada Mei Prabowo 51,1% versus Ganjar 48,9%.
Survei Litbang Kompas ini dilakukan pada periode 27 Juli - 7 Agustus 2023 menggunakan metode wawancara tatap muka terhadap sejumlah 1.364 responden di 38 Provinsi yang tersebar di 331 desa/kelurahan di Indonesia.
Baca Juga: Pesona Nicholas Saputra dalam Balutan Busana Adat di HUT RI ke-78
Adapun, margin of error survei kurang lebih sebesar 2,65% dan tingkat kepercayaan 95%.
"Perolehan kali ini semakin memperlebar jarak keterpilihan Prabowo dengan Ganjar yang sebelumya 2,2% pada bulan Mei 2023, menjadi 5,8%,” kata peneliti Litbang Kompas, Yohan Wahyu, Senin, 21 Agustus 2023.
Sementara itu, jika Prabowo Subianto dihadapkan head to head dengan Anies Baswedan, Prabowo unggul dengaan perolehan 65,2% dan Anies hanya mendapat 34,8%.
Namun pada Januari 2023, elektabitas Prabowo 57,3% dan Anies 42,7% kemudian Mei 2023 Prabowo 62% dan Anies 38%.
Selain itu, kata Yohan Wahyu, dari survei lainnya seperti penyelesaian persoalan persatuan dan kesatuan, Prabowo Subianto juga unggul mendapat 37,1 persen,Ganjar 27 persen, dan Anies 16,6 persen.
Dari hasil survei tersebut, sosok Prabowo Subianto dianggap mampu menyelesaikan persoalan stabilitas politik.
Di mana dari hasil surveinya pada isu menyelesaikan persoalan stabilitas politik, Prabowo mendapat 34,3 persen, Ganjar mendapat 28,3 persen, sedangkan Anies 17,1 persen.
Adapun pada isu penegakan hukum Prabowo mendapat 40,7 persen, Ganjar 24,7 persen, dan Anies 14,9 persen.
Dan dalam hal penyelesaian kasus korupsi, Prabowo meraih 31,7 persen, Ganjar 29,5 persen, dan Anies 16,2 persen.
”Dari empat persoalan yang secara umum masuk dalam ruang lingkup politik dan hukum kerap diasosiasikan dengan hadirnya pemimpin yang kuat, tegas, dan berani," ujarnya.
"Survei ini juga merekam, sosok pemimpin berlatar belakang militer menempati latar belakang yang paling dominan dikehendaki publik sebagai pemimpin,” terang Yohan.***



