POJOKSATU.id, JAKARTA-- Pembantaian Rawagede dilakukan tentara Belanda terhadap penduduk di Kampung Rawagede, sekarang Desa Balongsari, Karawang, Jabar. Kejadian tragis ini pada 9 Desember 1947.
Ketika tentara Belanda menyerang Bekasi, ribuan warga mengungsi ke daerah Rawagede. Tentara Belanda lalu menyerang Rawagede didasari mencari seorang pejuang Republik bernama Kapten Lukas Kustarjo.
Kapten Lukas ini dianggap Belanda sebagai ‘Begundal’ yang harus dicari karena sering menyerang pos-pos militer Belanda.
Pembantaian ini terjadi dua tahun usai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dimana tentara Belanda masih terus berusaha menguasai kembali wilayah Indonesia dengan melancarkan Agresi Militer Belanda pertama pada 21 Juli 1947 hingga 5 Agustus 1947.
Setelah tentara Belanda datang bersama tentara Sekutu, mereka berhasil menguasai wilayah Jawa Barat.
Akibatnya, Tentara Republik Indonesia (TRI) banyak yang memilih mundur ke pedesaan dan bergabung bersama rakyat setempat untuk membangun pertahanan menghadapi serangan Belanda.
Beberapa pasukan TRI bermarkas di Desa Rawagede dan dipimpin oleh Kapten Lukas Kustarjo.
Sejak lama, Kapten Lukas memang sudah menjadi incaran Belanda karena ia berkali-kali telah menyerang pos-pos militer Belanda.
Alasan Desa Rawagede dijadikan sebagai markas pertahanan oleh TRI adalah karena berada di tengah segi tiga konsentrasi tentara Belanda yang bermarkas di Karawang, Cikampek, dan Rengasdengklok.
Rawagede merupakan desa yang pro-republik. Letaknya strategis.
Apesnya, markas pejuang di Desa Rawagede diketahui oleh antek-antek Belanda.
Suatu waktu, saat Kapten Lukas sedang menelusuri perjalanan menuju Sukatani, Bekasi, perjalanan mereka tercium oleh mata-mata Belanda.
Mereka segera melapor ke pihak militer Belanda bahwa Kapten Lukas telah menyusup ke Rawagede.
Tanpa pikir panjang, tentara militer Belanda segera mempersiapkan rencana penyerangan mendadak terhadap Kapten Lukas dan prajuritnya.
Setelah semua siap, tentara Belanda yang dipimpin oleh Mayor Wajiman langsung menyerbu Desa Rawagede pada pagi hari tanggal 9 Desember 1947.
Dalam penyerangan ini, Mayor Wajiman berusaha mencari keberadaan Kapten Lukas sembari terus melakukan serangan.
Kapten Lukas Kustaryo merupakan komandan kompi Siliwangi, kemudian menjadi Komandan Batalyon Tajimalela/Brigade II Divisi Siliwangi.
Di wilayah Rawagede juga berkeliaran berbagai laskar, bukan hanya pejuang Indonesia namun juga gerombolan pengacau dan perampok.
Tentara Belanda di bawah pimpinan Mayor Wajiman mengepung Dusun Rawagede dan menggeledah setiap rumah.
Namun mereka tidak menemukan sepucuk senjata pun.
Mereka kemudian memaksa seluruh penduduk keluar rumah masing-masing dan mengumpulkan di tempat yang lapang.
Penduduk laki-laki diperintahkan untuk berdiri berjejer, kemudian mereka ditanya tentang keberadaan para pejuang Republik.
Namun tidak satu pun rakyat yang mengatakan tempat persembunyian para pejuang tersebut.
Pemimpin tentara Belanda kemudian memerintahkan untuk menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja belasan tahun.
Dalam sekejap, eksekusi demi eksekusi berlangsung dari satu tempat ke tempat lainnya. Setelah itu, aksi mereka dilanjutkan dengan melakukan penggeledahan di daerah-daerah pelosok.
Keesokan harinya, seluruh penduduk desa yang masih hidup memberanikan diri keluar dari rumah mereka.
Begitu keluar, mereka langsung melihat banyak mayat bergelimpangan. Jumlah korban yang tewas akibat Pembantaian Rawagede diperkirakan mencapai 431 orang.
Kapten Lukas Kustarjo
Pria ini bertubuh kecil, namun kiprahnya sangat merepotkan pemerintahan Belanda di Indonesia. Pria Magetan kelahiran 1920 ini bernama Lukas Kustaryo.
Saat zaman pendudukan Jepang, Lukas masuk dalam pasukan PETA dan ditempatkan di Brigade III/Kian Santang, Purwakarta, yang saat itu dipimpin Letkol Sidik Brotoatmodjo.
Lukas Kemudian menjadi Komadan Kompi Batalyon I Sudarsono/Kompi Siliwangi atau yang dikenal sebagai Kompi Siliwangi Karawang-Bekasi.
Lukas Kustaryo meninggal dunia pada tanggal 8 Juni 1997 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cipanas.***




