POJOKSATU.id, JAKARTA-- Bandar Udara Adisucipto dulu dinamakan Maguwo, sesuai dengan nama desa tempatnya berada kapanewon Maguwoharjo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pangkalan udara Maguwo dibangun sejak tahun 1940 lalu dipergunakan oleh Militaire Luchtvaart pada tahun 1942.
Pada tahun 1942 kota Yogyakarta diduduki oleh Tentara Jepang dan pangkalan udara Maguwo di ambil alih Tentara Jepang dari Pemerintah Hindia Belanda.
Baca Juga: Syekh Panji Gumilang Resmi Ditahan Selama 20 Hari ke Depan di Rutan Bareskrim Polri
Bulan November 1945 lapangan terbang beserta fasilitasnya dapat di kuasai oleh Badan Keamanan Rakyat (BKR) YogYakarta Timur yang di pimpin oleh Umar Slamet.
Pada tahun 1945 Pangkalan Udara Maguwo di ambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia dan dijadikan Pangkalan Angkatan Udara untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Lapangan terbang ini digunakan untuk operasional pesawat-pesawat AURI, serta untuk latihan terbang bagi kadet sekolah penerbang di Maguwo yang dipimpin oleh Agustinus Adisucipto.
Bandar Udara Adisucipto adalah bandar udara utama yang melayani daerah Yogyakarta.
Bandar udara ini berjarak sekitar 9 km dari Stasiun Yogyakarta, dan dapat dicapai dalam kurang lebih 20 - 30 menit menggunakan kendaraan bermotor.
Namun per tanggal 29 Maret 2020, seluruh penerbangan domestik dan internasional yang dipusatkan di bandara ini pindah ke Bandar Udara Internasional Yogyakarta (YIA) yang terletak di Temon, Kulon Progo.
Setelah pindah, bandara ini hanya digunakan untuk keberangkatan dan kedatangan pesawat baling-baling, kargo dan non komersial.
Kiprah Perjuangan Adisucipto
Agustinus Adisucipto nama lengkapnya adalah pahlawan nasional yang memelopori gagasan-gagasan untuk TNI AU di masa mendatang.
Jasanya terhadap dunia penerbangan Indonesia membuat dirinya dijuluki sebagai Bapak Penerbangan Indonesia. Adisucipto meninggal di usia belia, yakni 31 tahun.
Selain berkarier di dunia militer, Adisucipto merupakan diplomat yang bertugas menangani masalah-masalah, khususnya sarana pertahanan udara dengan luar negeri.
Salah satu bukti kerja Adisucipto saat itu, Indonesia berhasil mendapat bantuan pelatih dan instruktur dari negara-negara sahabat, seperti Filipina dan India untuk sekolah penerbangan yang dia bina.
Suatu waktu, TNI AU perlu pesawat terbang baru. Adisucipto melakukan berbagai macam cara, salah satunya dengan melakukan kunjungan ke luar negeri. Ia berkunjung ke India, dan bertemu Perdana Menteri India, Sri Jawaharlal Nehru.
Nehru memperkenalkan Adisucipto kepada seorang industrialis bernama Patnaik, untuk mencari pesawat sesuai kebutuhan TNI AU. Dalam pertemuan itu, Patnaik meminjamkan sebuah pesawat model Dakota VL-CLA.
Pesawat itu akan digunakan untuk mengangkut obat-obatan kebutuhan Palang Merah Indonesia (PMI).
Setelah dari India, Adisucipto ditemani Prof Dr Abdurrachman Saleh, bertolak ke Singapura untuk meminta izin kepada penguasa negara pada saat itu, Belanda dan Inggris, melanjutkan membawa obat-obatan.
Tanggal 29 Juli 1947, Adisucipto berangkat dari Singapura untuk mengantar obat-obatan ke Yogyakarta.
Namun, mendekati Yogyakarta, pesawat Kittyhawk punya Belanda menembakkan peluru ke pesawat Indonesia. Hal ini mengakibatkan pesawat jatuh menabrak pohon dan terbakar.
Penembakan terjadi di dekat daerah Jatingarang. Adisucipto bersama 7 orang lainnya gugur dalam insiden tersebut.
Jenazah para pahlawan itu kemudian dimakamkan di pemakaman Pakuncen, Yogyakarta.
Saat itu bendera Indonesia, bendera Inggris dan bendera India berkibar setengah tiang tanda berduka cita.
TNI AU telah kehilangan salah seorang pelopor dan pahlawannya demi menjalankan sebuah misi mulia.***




