POJOKSATU.id, JAKARTA— Presiden kedua RI Soeharto dikenal suka mengisap cerutu. Beberapa mantan menteri dan ajudan memberi kesaksian soal gaya mengisap cerutu Pak Harto dan tafsirnya.

Menurut mantan Menteri Dalam Negeri periode 1988-1993, Jenderal Rudini, jika Soeharto sedang mengisap cerutu, apalagi jalan mondar-mandir di tempat tatkala menteri menghadap, itu pertanda dia sedang good mood atau suasana baik.

"Kalau kita lapor, suasananya pasti enak," ujarnya dalam buku : Dari Soekarno Sampai SBY karya Tjipta Lesmana.

Baca Juga: Diinisiasi Prabowo Subianto, Pembangunan Food Estate di Kalteng Malah Mandek

Sementara mantan Menteri Perhubungan periode 1988-1993 dan Menko Kesra periode 1993-1998, Azwar Anas, memberikan kesaksian senada soal cerutu ini.

Tetapi jika Soeharto cuma menggigit-gigit kecil cerutu, seorang menteri yang tengah menghadap harus bersikap lebih hati-hati.

"Karena itu pertanda pikirannya penuh masalah dan yang hidup di hatinya tak dapat diduga," kata Azwar dalam biografi Teladan dari Ranah Minang yang ditulis sastrawan Abrar Yusra.

Ajudan Disembur Asap Cerutu

Kenangan ini tak pernah hilang di benak Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat, Letnan Jenderal (Purn) Soerjadi.

Baca Juga: KKB Berulah, Penembakan di Pos Brimob Polda Papua BKO Polres Yahukimo, Begini Kondisinya Sekarang

Hari pertama ia bertugas menjadi ajudan Presiden RI kedua, Soeharto. Suatu hari di tahun 1981, pangkatnya masih Letnan Kolonel.

Ia satu mobil bersama Soeharto. Soerjadi duduk di depan, di samping sopir, Soeharto di belakang.

Mobil saat itu melaju di dekat rel kereta api Jalan Cut Meutia, Jakarta. Lalu terjadilah sebuah dialog. Soerjadi yang membuka percakapan itu.

"Mohon maaf Pak, kalau laporan saya berlainan dengan sebelumnya, ada yang kurang berkenan."

Rupanya sebelum hari H-nya itu, Soerjadi bertemu dengan mantan-mantan ajudan Pak Harto. Pesan mereka satu: laporkan yang baik-baik saja.

Waktu itu Soerjadi masih berpangkat Letkol dan belum tahu apa-apa dan baru dipanggil dari Singapura.

Tak disangka, bukan jawaban yang ia dapatkan dari penguasa Orde Baru itu.

“Semburan asap cerutu. Saya deg-degan tidak berani menoleh ke belakang," kenang Soerjadi, Selasa 7 Juni 2011.

Namun, saat perjalanan pulang ke Cendana, juga di dalam mobil, Soeharto memberi jawaban. "Di sini memang tempatnya belajar."

Soerjadi pun mengaku bisa menarik nafas lega dan merasa plong usai mendengar jawaban dari Soeharto saat itu.

Ada lagi yang tak bisa dilupakan Soerjadi tentang Soeharto.

Hampir lima tahun menjadi ajudan Soeharto atau dari tahun 1981 sampai 1985, dia tak pernah tahu kapan Pak Harto tidur.

Setiap Soerjadi melapor baik pada pagi, siang, maupun tengah malam sekalipun, Soeharto selalu ada atau siap menerima laporan.

Tangan Soeharto juga tak pernah lepas dari buku.

"Di tangannya selalu ada buku, entah koran, laporan, atau buku. Bahkan ketika saya datang beliau sedang ganti baju, selalu ada buku, di meja, di lantai, ada saja buku yang terbuka," kata Soerjadi.

Kenangan lain Soerjadi terkait Soeharto adalah sebagai pemimpin yang percaya pada bawahan.

Salah satu contohnya, akhir Maret 1981, saat itu pesawat Garuda Indonesia Penerbangan 206 dibajak di Bandara Don Mueang, Bangkok.

Insiden itu dikenal dengan Peristiwa Woyla.

"Jam 03.00 dini hari ada telepon dari Bangkok minta petunjuk. Saat saya hendak lapor, di pintu kamar sudah ada Pak Harto. Jam segitu, artinya memang selama itu pikirannya hanya tugas," kata Soerjadi.

Namun, bukan petunjuk yang langsung diberikan sang Presiden, namun jawaban.

"Benny wis ngerti."

Benny yang dimaksud Soeharto adalah LB Moerdani.

"Itu bentuk kepercayaan beliau pada bawahan," kenang Soerjadi.

Soerjadi memberikan kesaksian tentang Soeharto ini untuk pembuatan buku : Pak Harto, The Untold Stories, yang diluncurkan, Rabu 8 Juni 2011.***