POJOKSATU.id, JAKARTA—Kisah Presiden Soekarno seperti tak habis untuk ditulis. Termasuk kisah yang satu ini dimana pengawal presiden mencegat Soekarno dan minta korek api buat nyalakan cerutu.
Kisah pengawal presiden mencegat Presiden Soekarno gara-gara minta korek api ini tentu saja bukan di Indonesia, tetapi di Negara Kuba ketika Bung Karno berkunjung ke sana pada tahun 1960.
Seperti diketahui, Soekarno sudah dianggap sebagai guru oleh Presiden Kuba Fidel Castro.
Hubungan dekat keduanya terjadi karena dipicu renggangnya hubungan Indonesia dan Kuba dengan Amerika Serikat (AS) di akhir era 50-an.
Baca Juga: PBB Resmi Deklarasi Dukung Prabowo Subianto di Pilpres 2024, Yusril 'Fokus' ke Cak Imin
Pada tahun 1959, Fidel Castro mengunjungi Jakarta untuk membicarakan misi dagang dengan Indonesia.
Selang satu tahun berikutnya atau pada tahun 1960, Presiden Soekarno melawat ke Kuba. Fidel Castro menyambutnya di Bandara Havana.
Soekarno disambut meriah. Warga Kuba berdiri di sepanjang jalan membentangkan poster bertuliskan ‘Viva President Soekarno’.
Rombongan Kepresidenan RI sempat berhenti hanya karena petugas polisi Kuba yang memimpin konvoi ingin menghisap cerutu.
Cerita itu dituturkan ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko dalam buku ‘Sewindu Dekat Bung Karno’ terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.
Saat itu dalam konvoi Soekarno di Kuba, ada tiga polisi yang memimpin iring-iringan kepresidenan sekaligus membuka jalan.
Tiba-tiba polisi pemimpin konvoi menghentikan motornya dan menyuruh konvoi berhenti. Tentu saja semua peserta bertanya-tanya kenapa konvoi berhenti.
Baca Juga: Pandawa Ganjar Ajak Pemuda Hindari Kenakalan Lewat Turnamen Futsal di Bekasi
Polisi itu lalu mengeluarkan cerutu, dan menghampiri sopir Soekarno. Rupanya dia mau pinjam korek untuk menyalakan cerutu.
Setelah menyalakan cerutu, polisi Kuba itu lalu memberi hormat pada Soekarno. Dia menaiki motornya dan memimpin konvoi kembali dengan gagah. Sambil menghisap cerutu kuba tentu saja.
“Bung Karno tertawa berderai melihat itu. Rupanya dia cukup paham Kuba masih dalam revolusi,” ujar Bambang.
Saling Berbalas Kunjungan
Bung Karno yang mendapat cerutu Kuba memberikan keris dan kopiahnya pada Castro yang juga datang bersama Che Guevara pada kunjungan ke Jakarta pada tahun 1959.
Misi dagang Kuba-Indonesia akhirnya berhasil dicapai. Bung Karno menilai keramahan Kuba harus dibalas.
Pada 1960, Soekarno mengunjungi Havana dan disambut dengan sorak sorai warga setempat dengan spanduk bertuliskan "Viva President Sukarno".
Fidel Castro sangat gembira dengan kunjungan ini dan berdiskusi banyak soal marhaenisme dengan Soekarno.
Yang menarik, mereka berdua sempat saling bertukar penutup kepala.
Di Istana Kuba, Bung Karno berkata pada Castro "You tau, Tuan Castro..inilah yang menyatukan Indonesia" kata Bung Karno sambil menunjukkan peci-nya.
Lalu Castro berkata sambil tertawa "Yang Mulia Presiden Sukarno, Inilah yang membuat Batista merangkak-rangkak keluar Istana dan digebuk oleh Amerika" kata Castro sambil menunjukkan topi pet-nya yang bergambar bintang itu.
Lalu mata Castro tertumbuk pada tongkat yang dibawa Sukarno. "Nah, kalau ini untuk apa Tuan Presiden?".
Sukarno dengan gaya kocak mengelus-elus tongkatnya dan memberikan pada Castro :"Kalau kamu pegang ini akan keluar Jin" Castro dan semua yang ada disana tertawa terbahak-bahak. Castro mengelus-elus tongkat komando Bung Karno tapi tentu saja tidak keluar jin.
Bung Karno kemudian mengajak Castro bertukar aksesoris, Castro memakai peci dan tongkat komando Soekarno, dan Soekarno memakai topi pet Castro. Dari foto tersebut bisa terlihat kedekatan diantara mereka berdua.
DALAM buku ‘Total Bung Karno’ karya Roso Daras diceritakan Soekarno dan Fidel Castro tertawa saat bertukar penutup kepala.
Soekarno menukar kopiahnya dengan topi ala komandan militer yang menjadi ciri khas Castro. Castro mengenakan kopiah Soekarno.***




