POJOKSATU.id, JAKARTA-- Bung Hatta bertemu Bung Karno untuk pertama kalinya di Bandung tahun 1932. Sejak itu keduanya seolah menjadi simbol perlawanan bangsa Indonesia hingga proklamasi kemerdekaan.

Bung Hatta dan Bung Karno berjuang bersama dan puncaknya adalah ketika membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Sebelum bertemu dengan Bung Karno, Bung Hatta sudah aktif di Indische Vereeniging yang salah satu perjuangannnya adalah mewujudkan nama Indonesia.

Setelah menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda tahun 1926, Bung Hatta semakin aktif mempropagandakan Indonesia ke berbagai kawasan di Eropa.

Baca Juga: Sebar Fitnah dan Ujaran Kebencian, Haters Aktor Lee Junho Didenda Rp3 Juta Won

Dalam berbagai kesempatan ia menuntut penggunaan kata Indonesia dan bukan Hindia Belanda.

Berbagai konggres ia hadiri, terutama yang berkaitan dengan gerakan antikolonialisme, sampai akhirnya sepulang menghadiri konferensi Liga Internasional Wanita yang diselenggarakan di Swis, Bung Hatta beserta tiga rekannya ditangkap polisi Belanda.

Muhammad Hatta dituduh menghasut untuk menentang Kerajaan Belanda. Selama lima setengah bulan mereka ditahan dan diinterogasi berulang kali sampai akhirnya diajukan ke sidang pengadilan.

Baca Juga: 17 Kegiatan Ramaikan Festival Merah Putih Kota Bogor Selama Agustus 2023, Kirab Merah Putih Masih Icon

Bung Hatta menolak didampingi seorang pengacara, ia akan melakukan pembelaan oleh dirinya sendiri.

Sidang di pengadilan akhirnya memutuskan bahwa tuduhan terhadap Bung Hatta dan rekan-rekannya tidak dapat dibuktikan. Mereka dibebaskan.

Sebelas tahun lamanya pemilik nama asli Muhammad Athar ini menempuh pendidikan di Belanda. Dan tanggal 5 Juli 1932 ia dinyatakan lulus sebagai sarjana ekonomi. Seminggu setelahnya dia kembali ke tanah air dengan membawa 16 peti besi berisi buku.

 

Momen Pertemuan Bung Hatta dan Bung Karno


Dari tempat yang berjauhan, keduanya membangun reputasi sebagai aktivis pergerakan nasional yang diperhitungkan.

Bung Hatta lewat Perhimpunan Indonesia yang dipimpinnya (1926-1931) di negeri Belanda dan Bung Karno melalui Perserikatan Nasional Indonesia atau kemudian berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikannya di Bandung pada tahun 1927.

Perjumpaan pertama kali secara fisik kedua tokoh pergerakan itu baru terjadi di Bandung pada tahun 1932 sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai ketua Perhimpunan Indonesia dan menyelesaikan pendidikannya.

Sukarno kala itu baru saja keluar dari penjara Sukamiskin setelah menjalankan setengah dari vonis masa hukumannya selama empat tahun.

Seperti termuat dalam buku Untuk Negeriku : Sebuah Otobiografi (2015), Haji Usman, seorang kerabat jauh Bung Hatta, adalah orang yang mengingatkan Hatta tentang pentingnya pertemuan dengan Sukarno.

“Anak gadang Hatta ‘kan belum bertemu dengan Sukarno. Dia sudah kira-kira setengah tahun keluar dari Penjara Sukamiskin. Anak gadang tentu belum bertemu dengan dia. Sungguh pun berlalinan partai, baik juga belajar kenal dengan dia,” kata Haji Usman.

Hatta menjawab, “Memang, aku ingin berjumpa dengan dia, tetapi sampai sekarang belum ada waktu. Sejak kembali dari negeri Belanda banyak saja pekerjaan. Kapan kita pergi ke Bandung?”

“Kalau anak gadang tidak keberatan, lusa Sabtu sore kita berangkat ke Bandung,” kata Haji Usman.

Perjalanan ke Bandung mereka lakukan berdua. Menurut Bung Hatta, mereka pergi pukul dua siang menggunakan rute Karawang dan Cikampek dan tiba di Bandung sekitar pukul lima sore.

Setalah menitipkan koper di penginapan, keduanya segera menuju ke rumah Sukarno di Astanaanyar. Sayang, Sukarno tidak berada di tempat, Setelah meninggalkan pesan, Hatta dan Haji Usman kembali ke penginapan.

Perjumpaan keduanya baru terjadi sekitar pukul sembilan malam di sebuah hotel di Jalan Pos Timur.

Sukarno datang dengan Maskoen, sedangkan Hatta ditemani Haji Usman. Mungkin karena kehadiran Haji Usman yang dianggap sebagai orang luar partai, perbincangan pertama keduanya sambil minum teh dan kopi.

Tidak membicarakan masalah Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) dan Partai Indonesia (Partindo).

Bung Hatta dan Bung Karno saat itu hanya bercerita mengenai pengalaman masing-masing. Sukarno bercerita pengalamannya selama ditahan di Sukamiskin.

Bung Hatta bercerita tentang pemeriksaan buku-buku yang dibawanya dari Belanda saat mendarat di Tanjung Priok, Jakarta.

Kesaksian lain tentang pertemuan pertama dua bapak bangsa ini dikisahkan oleh Maskoen Soemadiredja dalam tulisannya di buku Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan.

Menurut Maskoen, perjumpaan itu terjadi pada bulan Agustus 1932. Seusai makan malam sekitar pukul sembilan, Sukarno dan Maskoen datang memenuhi undangan Hatta yang sebelumnya pada sore hari datang ke rumah Sukarno.

Mereka berdua berangkat naik delman menuju Hotel Semarang di Jalan Kebonjati, tak jauh dari sekolah Kesatriaan Institut yang dipimpin Douwes Dekker.

Masih menurut Maskoen, perjalanan ditempuh sekitar seperempat jam dalam kondisi cuaca Bandung yang sedang turun hujan gerimis.

Sesuai dengan kenangan Bung Hatta, Maskoen juga menyebut bahwa perbincangan pertama itu tidak membahas masalah politik pergerakan.

Bung Hatta bercerita tentang pemeriksaan buku-buku yang dibawanya dari Belanda saat mendarat di Tanjung Priok, sedangkan Sukarno berkisah tentang kegiatannya selama dalam penjara di Sukamiskin.

Perjumpaan pertama nan bersejarah antara Mohammad Hatta dan Sukarno itu, menurut Maskoen, berakhir sekitar pukul 10 malam.***