POJOKSATU.id, SUMUT- Indonesia memiliki ragam suku dan budaya, begitu pula dengan Sumatera Utara. Sama dengan provinsi lainnya, Sumatera Utara (Sumut) juga memiliki suku asli.

Pada umumnya publik mengenal Sumut dengan suku Batak, padahal provinsi ini memiliki banyak suku asli, bahkan tercatat ada 8 suku yang mendiami kawasan yang dikelilingi Bukit Barisan ini.

Berikut 8 suku asli Sumatera Utara yang dilansir oleh pojoksatu.id, melalui berbagai sumber:

BACA JUGA: Ketua YKI Sumut Ajak Masyarakat Karo Mau Deteksi Dini, Nawal Lubis: Kanker Stadium Awal Masih Bisa Diobati

1. Suku Melayu
Sumatera Utara, ada ragam suku Melayu berdasarkan daerahnya. Suku Melayu merupakan suku yang menghuni Semenanjung Malaya. Melayu sendiri berasal dari Kerajaan Melayu yang pernah ada di Sumatera.

Pertama, Suku Melayu Deli merupakan etnis yang tinggal di Kota Medan. Berabad-abad yang lalu, orang Melayu Deli tinggal di sekitaran pinggiran Sungai Deli yang mengalir di Kota Medan hingga Pantai Timur Sumatera tepatnya Muara Selat Malaka. Perkembangan Industri di Kota Medan membuat orang Melayu Deli tinggal di kawasan ini.

Kedua, Melayu Serdang. Etnis yang satu ini berasal dari bagian Timur Kabupaten Deli Serdang dan bagian Barat Kabupaten Serdang Bedagai. Dan ketiga, Melayu Langkat yang menetap di Kabupaten Langkat.

Bahasa khas Melayu tidak jauh berbeda dengan bahasa Melayu pada umumnya. Mayoritas orang Melayu beragama Islam. Sehingga hampir seluruh adat istiadat dan budaya suku Melayu ini berlandaskan agama Islam.

2. Suku Karo
Berdasarkan literatur, pada masa penjajahan Belanda suku Karo dimasukkan ke dalam keluarga Batak. Hal ini untuk mempermudah Belanda saat melakukan sensus penduduk. Maka dari itu suku Karo menganggap dirinya bukan bidang dari kekerabatan Batak, melainkan berdiri sendiri.

Suku Karo atau Kalak Karo merupakan salah satu suku terbesar di Sumatera Utara, bahkan etnis ini dijadikan nama kabupaten yaitu Kabupaten Karo. Kalak Karo menyebar di berbagai wilayah di Sumut, seperti Deli Serdang, Binjai, Langkat bahkan sebagian dari suku ini tinggal di daerah Aceh.

BACA JUGA: Duta Bahasa Sumut 2023, Libatkan Generasi Muda Lindungi Budaya Berbahasa

Bahasa yang digunakan oleh suku ini adalah Bahasa Karo atau Cakap Karo, dan memiliki salam yang khas yaitu Mejuah-juah. Konon, Kota Medan didirikan oleh seorang tokoh Karo bernama Guru Patimpus Sembring Pelawi.

Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Karo. Wilayah yang terkenal di kabupaten ini adalah Berastagi yang merupakan salah satu kota wisata dan Kabanjahe, kabupaten ini sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul.

3. Suku Batak Toba
Etnis Batak Toba meliputi Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Utara, dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Batak Toba adalah suatu kesatuan kultural.

Meski asal-muasal adalah Toba, namun etnis ini tidak mesti tinggal di wilayah geografis Toba. Sebagaimana suku-suku bangsa lain, etnis ini pun bermigrasi ke daerah-daerah yang lebih menjanjikan penghidupan yang lebih baik.

Daerah persebaran utama dari etnis ini adalah Kabupaten Dairi, Kabupaten Simalungun, Kota Pematangsiantar, Kota Sibolga, Kabupaten Asahan, dan Kota Medan.

BACA JUGA: Dorong Hakim Objektif Pada Sidang Kasus Pengancaman Jurnalis di Medan, AJI, PFI dan IJTI: Kami Tak Pernah Berdamai

Batak Toba sebagai kesatuan kultural pasti dapat menyebar ke berbagai penjuru melintasi batas-batas geografis asal leluhurnya, Si Raja Batak yakni wilayah Toba yang secara spesifik adalah Desa Sianjur Mulamula terletak di lereng Gunung Pusuk Buhit, kira-kira 45 menit berkendara dari Pangururan, Ibu kota Kabupaten Samosir sekarang.

4. Suku Mandailing
Suku Mandailing adalah masyarakat yang enggan disamakan dengan Batak karena keduanya memang suku yang berbeda. Etnis ini merupakan kelompok pribumi yang menghuni kawasan Tapanuli Selatan. Mereka pernah berada di bawah pengaruh Kaum Padri dari Minangkabau, sehingga secara kultural suku ini dipengaruhi oleh budaya Islam.

Suku Mandailing memiliki perbedaan bahasa yang cukup mencolok dengan bahasa Batak. Mereka secara resmi mengumumkan pada tahun 1922 bahwa masyarakatnya bukan Suku Batak, yaitu suku yang berdiri sendiri.

Saat ini suku Mandailing telah menyebar keberbagai wilayah di nusantara, kebanyakan dari mereka bekerja di bidang pertanian namun ada pula yang bekerja diluar dari pertanian. Etnis ini berpindah ke suatu tempat untuk mencari penghidupan yang lebih baik dari kampung halaman mereka.

BACA JUGA: Ancam Jurnalis Saat Laksanakan Tugas, PN Medan Gelar Sidang Pada Terdakwa Rakes

Seperti kebanyakan masyarakat di dunia, masyarakat Mandailing adalah patrilineal, yaitu mengikuti nasab keturunan ayah. Karena itu, hanya laki-laki saja bisa menyambung marga orang tuanya. Orang Mandailing mempunyai pengetahuan mengenai silsilah mereka sampai beberapa keturunan sekaligus riwayat nenek moyang mereka, dalam istilah Mandailing sering disebut Bona Pasogit.

5. Suku Simalungun
Selanjutnya adalah Suku Simalungun, sepanjang sejarah suku ini terbagi ke dalam beberapa kerajaan. Etnis Batak satu ini menetap di Kabupaten Simalungun, dengan marga asli Damanik. Sementara, tiga marga pendatang yaitu Saragih, Sinaga, dan Purba.

Masyarakat Batak Simaungun mayoritas bekerja sebagai bercocok tanam. Dan bahasa yang digunakan adalah Batak Simalungun. Derasnya pengaruh dari etnis-etnis di sekitarnya mengakibatkan beberapa bagian dari bahasa Batak Simalungun menggunakan bahasa Melayu, bahasa Batak Karo, bahasa Batak Toba, dan sebagainya.

BACA JUGA: Dipakaikan Kain Ulos, Ganjar Ikut Nari Tor-Tor Bareng Santri Ponpes Al Kautsar Al Akbar Medan

Saat ini, mayoritas suku Batak Simalungun memeluk ajaran Kristen sekitar 90% Protestan dan 10% Katolik, dan pemeluk agama Islam cukup signifikan dengan jumlah 34%, dan sekitar 1% masih memeluk sistem kepercayaan tradisional.

Suku Batak Simalungun, masih sangat kental dengan adat istiadat. Pada masyarakat Simalungun, tari disebut dengan Tortor. Dimana Tortor ini mempunyai peranan penting dalam aktivitas kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan kehidupan spritual dan sosial kemasyarakatannya.

6. Suku Pesisir
Suku Pesisir merupakan etnis yang tersebar di pesisir barat Sumatera Utara. Nama ini diberikan untuk membedakan masyarakat Batak pedalaman dengan masyarakat pesisir. Penamaan Pesisir untuk kelompok masyarakat yang mendiami
pesisir barat Sumatera Utara tidak pernah dikenal hingga akhir abad ke-20.

Rupanya, istilah ini dikemukakan untuk membedakan kelompok masyarakat di pesisir Barat Sumatera Utara dengan masyarakat Batak di pedalaman. Berdasarkan ruang geografis etnisitas yang disusun oleh peneliti di pesisir barat Sumatra Utara terdapat kelompok masyarakat yang bukan merupakan bagian dari etnis Batak. Suku Pesisir biasanya tersebar di Tapanuli Tengah, sebagian Tapanuli Selatan, Mandailing Natal dan Medan.

BACA JUGA: Ini 3 Tempat Rekomendasi Sarapan Pagi di Kota Medan

Sejarah terbentuknya kelompok suku ini tidak jauh berbeda dengan sejarah terbentuknya suku Aneuk Jamee di pantai Barat Aceh, masyarakat Negeri Sembilan di Semenanjung Malaya, dan beberapa kelompok masyarakat lainnya, yang merupakan diaspora dari para perantau Minang sejak berabad-abad yang lalu.

Bahasa yang digunakan oleh kelompok masyarakat Pesisir merupakan salah satu dialek dari Bahasa Minangkabau. Terdapat beberapa kosakata yang diambil dari Bahasa Batak dan Bahasa Aceh. Percampuran bahasa ini dikenal dengan Bahasa Pesisir yang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari (lingua franca) di pesisir Barat Tapanuli.

7. Suku Pakpak
Suku di Sumatera Utara selanjutnya yakni Suku Pakpak. Suku ini juga sering disebut Suku Batak Pakfak. Suku ini masuk ke dalam sub-suku Batak.

Orang Suku Pakpak ini tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatra Utara dan Aceh. Rinciannya di Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, serta sebagian Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam Aceh.

Masyarakat Pakpak diikat oleh struktur sosial yang dalam istilah setempat dengan Sulang Silima, yaitu Sinina tertua, Sinina penengah, Sinina terbungsu, Berru dan Puang. Kelima unsur ini sangat berperan dalam proses pengambilan keputusan dalam berbagai aspek kehidupan terutama dalam sistem kekerabatan, upacara adat maupun dalam konteks komunitas lebbuh atau kuta.

BACA JUGA:Mengenal Sosok Mbah Sadiman, Pahlawan Lingkungan Selamatkan Warga Dari Kekeringan 

8. Suku Nias
Suku Nias berasal dari Pulau Nias, dan termasuk suku tertua di Sumatera Utara. Masyarakat Nias menyebut dirinya sebagai ‘Ono Niha’ atau anak manusia.

Mereka menjunjung adat yang tinggi, bahkan aturan adatnya meliputi seluruh aspek kehidupan mulai lahir, hidup, hingga tiada. Sedangkan kasta Suku Nias mengenal sistem tingkatan, yang mana tingkatan kasta tertinggi adalah ‘Balugu’.

Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik, dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang.

Bahasa Nias adalah bahasa yang dituturkan oleh orang Nias. Umumnya bahasa Nias dianggap memiliki tiga dialek. Dialek utara dituturkan di daerah Gunungsitoli, Alasa dan Lahewa. Dialek Selatan dituturkan di Nias Selatan. Sementara itu, dialek tengah dituturkan di Nias Barat, khususnya di daerah Sirombu dan Mandrehe. (TIK/pojoksatu)

BACA JUGA: Satu-Satunya di Sumut, Puskesmas Teluk Karang Tebing Tinggi Terima Penghargaan Satiyasa dari Kemenkes RI