Oleh: Hazairin Sitepu
Perjalanan —dengan mobil— dari Bandara Radin Inten II ke pusat kota Bandar Lampung kurang-lebih 50 menit. Jalanan agak sepi.
"Belum serame hari-hari normal," kata sopir mobil yang mengantar saya.
Lampung memang belum normal. Aktivitas ekonomi, sosial, pendidikan, lalulintas di jalan raya, belum 100 persen.
Kota ini termasuk sangat terdampak akibat erupsi Gunung Anak Krakatau Sabtu (5/9/26) dinihari.
Sisa-sisa abu vulkanik masih menempel di permukaan jalan, tembok, dinding bangunan, bahkan di atas meja makan restoran.
Kalau di Bogor, Sukabumi dan beberapa wilayah di Banten warna abunya agak putih keabu-abuan, di Bandar Lampung agak cokelat kehitam-hitaman.
Jarak Bandar Lampung dengan Anak Krakatau memang cukup dekat. Kurang-lebih 80 km.
Satu hari berada di kota berpenduduk 1,2 juta jiwa ini, saya menyaksikan Lampung seperti sedang murung. Langitnya masih mendung. Suhu udaranya 28-29 derajat.
Murung mungkin karena dua hal. Pertama, dampak negatif erupsi Anak Krakatau ke sektor-sektor penting, termasuk bisnis pariwisata.
Saya makan siang di salah satu restoran seafood besar dekat pantai. Tampak baru empat meja yang terisi. Sisa-sisa debu erupsi masih menempel di atas meja.
Kedua, tampak antrean panjang mobil di SPBU-SPBU. Juga bis-bis, truck-truck. Solar dan pertalite sedang langka di Lampung.
"Mulai pukul sepuluh (22:00)," kata sopir Gokar yang mengantar saya ke bandara.
Antrean solar dan pertalite sebenarnya tidak hanya di Lampung. Tetapi juga daerah lain, termasuk di Bogor.
Langka apakah karena barangnya belum ada, tidak ada, atau BBM subsidi itu dikurangi ketersediaannya agar konsumen beralih ke BBM non-subsidi?
Semacam trik bisnis? Kira-kira begitu?
Tetapi erupsi Anak Krakatau yang melontarkan abu vulkanik ke atas langit yang tinggi dan menjatuhkannya ke bumi Lampung, Banten dan Jawa Barat rasanya tidak bisa disebut trik.***




