Oleh: Sugeng Budiharsono
POJOKSATU.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengklaim bahwa kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran akan segera dapat dicapai.
Namun kondisi di lapangan berkata lain. Israel sengaja memancing Iran untuk meningkatkan eskalasi dengan menyerang Lebanon Selatan.
Penyerangan terhadap Lebanon Selatan merupakan garis merah bagi Iran.
Sehingga Iran memberikan pembalasan dengan menghancurkan pangkalan militer Ramat David dan kota-kota di utara Israel.
Hal ini menunjukkan masih perlu waktu untuk mencapai kesepakatan.
Pertanyaannya, dapatkah Trump mengendalikan Israel untuk tidak menyerang Iran dan sekutunya?
Di sisi lain, apabila kesepakatan itu merugikan Israel, maka kelompok-kelompok di AS, seperti Zionis Kristen dan Zionis Yahudi akan menekan Trump.
Kesepakatan ini bertumpu pada kemampuan Trump untuk mengendalikan Israel.
Karena berlarutnya perang ini menyebabkan kemunduran ekonomi di dalam negeri AS dan dunia. Sehingga akan menekan posisi dan reputasi Trump di dalam negeri dan global.
Permasalahannya bagi Israel, apabila kesepakatan ini tercapai, dianggap sebagai kemenangan Iran.
Padahal Iran merupakan musuh Israel yang menjadi penghalang untuk mewujudkan Israel Raya.
Iran juga dianggap sebagai kepala ular, karena apabila bisa dipotong maka sekutunya seperti Hizbullah dan Houthi akan jatuh sendiri.
Tulisan ini menguraikan tentang alotnya persetujuan dan rapuhnya kesepakatan apabila disetujui karena faktor Israel dan dampaknya terhadap perubahan geoekonomi di Asia Tenggara (ASEAN).
Perang Eksistensial dan Energi
Bagi Iran dan Israel perang ini merupakan perang eksistensial atau perang terhadap keberadaan bagi bangsa dan negara Iran maupun Israel.
Trump sendiri pada pekan pertama bulan April 2026 menyatakan bahwa dapat memusnahkan peradaban Iran.
Tentu saja Iran akan mengerahkan segala daya upaya untuk mempertahankannya.
Israel juga menganggap perang ini sebagai perang eksistensial.
Selama masih ada musuh, bagi Israel dianggap sebagai sesuatu yang dapat memusnahkan Israel.
Hal ini telah dilakukan dengan menghancurkan Irak, Somalia, Sudan, Libya, Lebanon, Suriah, Yaman, dan terakhir Iran.
Tentu saja Israel melakukannya atas bantuan AS dan sekutu Baratnya. Israel dan AS melakukan hal ini dengan Taktik Pemotongan Salami (Salami Slicing Tactics).
Pemenggalan terhadap Iran, dilakukan saat Iran sudah dianggap lemah setelah mengalami sanksi AS dan internasional selama hampir 5 (lima) dekade.
Rencana perang singkat untuk mengganti rezim Iran, agar nantinya tunduk terhadap kemauan AS dan Israel, bagaikan jauh panggang dari api.
Iran negara yang berperadaban tua, sehingga pemimpin mati akan segera digantikan oleh yang lainnya.
Israel semakin agresif menghabisi musuh-musuhnya setelah menerapkan kebijakan "A Clean Break: A New Strategy for Securing the Realm".
Kebijakan disusun pada tahun 1996 oleh sekelompok pakar neokonservatif AS yang diketuai oleh Richard Perle dari The Institute for Advanced Strategic and Political Studies untuk Perdana Menteri Israel saat itu, Benjamin Netanyahu.
Israel mengubah strateginya dengan meninggalkan Perjanjian Damai Oslo, atau tanah untuk perdamaian dengan pendekatan agresif berbasis kekuatan militer.
Israel yang selama ini dianggap sebagai negara mitos dalam teknologi alutsista dan kehebatan prajuritnya, mulai menyerang Iran pada 13 Juni 2025 dan terjadilah perang 12 hari.
Perang selanjutnya dimulai lagi pada tanggal 28 Februari 2026 selama 39 hari.
Perang dengan intensitas lebih rendah masih berlangsung sampai saat tulisan ini ditulis.
Pada perang kedua ini membongkar mitos-mitos Israel tersebut.
Alutsista Israel seperti David's Sling, Arrow, dan Iron Dome tidak mampu menghadapi serangan Iran.
Sehingga wilayah pendudukan Israel yang selama ini tidak tersentuh menjadi wilayah yang tidak ada tempat aman (no safe zone) lagi.
Israel luluh lantak. Tentara Israel (Israel Defense Forces-IDF), juga tidak sekuat yang dimitoskan.
Bahkan menghadapi pejuang-pejuang Hamas di Gaza saja, IDF kedodoran.
Nasib Israel saat ini sangat tergantung kepada AS. Dan AS meresponsnya dengan cepat.
Saat ini Kongres AS sedang membahas RUU Pertahanan untuk tahun 2027. Pada Pasal 224 memuat mengenai United States-Israel Defense Technology Cooperation Initiative.
Aturan ini dirancang untuk mengintegrasikan industri dan teknologi pertahanan antara AS dan Israel, bukan menggabungkan tentara IDF secara langsung ke dalam kesatuan militer AS. Tapi yang terjadi di lapangan seringkali berbeda.
Perang AS-Israel dengan Iran selain perang eksistensial bagi Iran dan Israel, juga telah menjadi perang energi.
Akibat blokade Selat Hormuz dan blokade AS telah mengurangi pasokan energi dunia.
Selain itu perang juga telah merusak infrastruktur penyediaan BBM di Iran maupun di seluruh negara Teluk (Saudi, UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman).
Tujuan AS-Israel dalam perang ini, selain untuk memenggal Iran dalam rangka menjaga eksistensi Israel, juga untuk memotong pasokan energi kepada China. Seperti yang telah dilakukan kepada Venezuela.
Dengan putusnya pasokan energi murah dari Venezuela dan Iran, maka daya saing ekonomi China akan menurun.
Dan pergerakan China menjadi raksasa ekonomi dunia yang akan menjadi pesaing AS akan terhambat.
Alih-alih China yang terdampak, malah AS yang menuai dampak buruk dari gangguan pasokan energi dunia ini.
Harga BBM di dalam negeri AS meningkat. Sedangkan pasokan energi China relatif stabil karena mendapatkan energi murah dari Rusia.
Bahkan AS untuk mendapatkan energi murah dari Rusia sampai melakukan pengurangan sanksi terhadap Rusia.
Perubahan Geoekonomi ASEAN
Perang AS-Israel melawan Iran kemungkinan akan berlangsung lama.
Kalaupun akan terjadi kesepakatan, diperkirakan akan menjadi kesepakatan yang rapuh.
Kesepakatan tidak berarti penghentian perang, karena sesungguhnya AS dan Israel tidak menginginkan penghentian perang.
Iran pun tahu betul hal tersebut dari pengalaman sebelumnya maupun belajar dari kesepakatan antara AS dan Rusia tentang perang di Ukraina.
Adanya perdamaian dengan Iran sama dengan memberikan panggung kepada Iran sebagai aktor tangguh di Asia Barat dan dunia Islam.
Israel tentu tidak menginginkan hal itu, dan Israel akan bertarung sekuat tenaga untuk mengeliminasi kekuatan Iran.
Namun Iran dan sekutu utamanya, Rusia dan China, tentu tidak akan berdiam diri.
Konflik dan ketegangan politik serta militer yang berlarut di rantau Asia Barat akan semakin menekan perkembangan ekonomi dunia.
Karena terganggunya 20% lebih pasokan energi dunia.
Dampaknya pun sudah langsung dirasakan oleh sebagian besar penduduk di berbagai belahan dunia antara lain kenaikan harga BBM, melemahnya mata uang, dan lonjakan harga pangan, termasuk di negara-negara di Asia Tenggara.
Di antara negara-negara ASEAN, Thailandlah yang paling terdampak dalam kaitannya dengan ketersediaan energi yang berasal dari Timur Tengah.
Hal ini dikarenakan porsi impor energi Thailand dari negara-negara Teluk mencapai 56% atau sebesar USD 43 miliar pada tahun 2024.
Bandingkan dengan negara tetangganya seperti Malaysia 29% (USD 44 miliar), Singapura 27% (USD 86 miliar), Filipina 26% (USD 16 miliar), dan Indonesia yang paling kecil ketergantungannya terhadap minyak dari Timur Tengah hanya sebesar 15% (USD 35 miliar).
Indonesia telah mendiversifikasi sumber impor energi agar tidak tergantung pada salah satu negara maupun kawasan.
Indonesia dalam rangka mengurangi ketergantungan energi pada negara lain mempunyai kebijakan B50 (50% solar dan 50% CPO).
Kebijakan biodiesel B50 akan diterapkan pada 1 Juli 2026. Penerapan kebijakan ini diperkirakan akan mengurangi impor solar sebanyak 4 juta kilo liter.
Dengan berkurangnya impor solar, maka akan menghemat devisa USD 10,84 volatile miliar atau setara dengan Rp192,95 triliun (1 USD = Rp17.800).
Sebagian besar solar diimpor dari Singapura sebesar 65,06%, dan Malaysia sebesar 27,26%.
Penghentian impor ini akan menyebabkan Indonesia terlepas dari ketergantungan energi dari Singapura dan Malaysia.
Di sisi lain, penghentian impor tentu akan menghantam industri penyulingan minyak di kedua negara tersebut.
Penerapan kebijakan Biodiesel B50 juga secara kebetulan dibarengi dengan penetapan kebijakan ekspor satu pintu sumber daya alam strategis oleh PT DSI, dan memudahkan pengontrolan ekspor CPO.
Sehingga penerapan B50 juga tidak akan mengganggu kebutuhan minyak goreng dalam negeri.
Diharapkan kasus kelangkaan minyak goreng pada akhir tahun 2021 sampai pertengahan 2022 tidak akan terulang.
Perang bukan hanya mengganggu pasokan energi, tapi kurs mata uang juga terdepresiasi.
Hampir sebagian besar mata uang di negara-negara ASEAN terkena imbasnya.
Dampaknya bervariasi. Rupiah selama awal April sampai awal Juni mengalami depresiasi dari Rp17.000/USD menjadi Rp18.000.
Namun di akhir pekan kedua mengalami rebound menjadi Rp17.800 pada 12 Juni.
Pola yang sama terjadi pada Peso Filipina.
Peso Filipina bergerak mengalami pelemahan selama awal April sampai Mei hingga mencapai PHP 61,9.
Pada pekan kedua Juni mengalami penguatan, dan pasar 12 Juni ditutup sebesar PHP 60,73/USD.
Pola sebaliknya terjadi pada Ringgit Malaysia, Baht Thailand, Dong Vietnam, bahkan Dolar Singapura.
Ringgit Malaysia mengalami penguatan di bulan April, Mei, dan awal Juni mencapai RM 4,03.
Namun di pekan kedua Juni mengalami pelemahan menjadi RM 4,06/USD. Baht Thailand mengalami penguatan di bulan April dan Mei yaitu sebesar THB 31,9.
Namun di awal sampai pekan kedua Juni terjadi pelemahan, pada 12 Juni Baht ditutup sebesar THB 32,72/USD.
Dong Vietnam di awal April berkisar VND 26.200, pada Mei mengalami apresiasi hingga VND 26.190.
Namun di awal Juni hingga pekan kedua Juni terdepresiasi mencapai VND 26.310/USD pada 12 Juni.
Dolar Singapura merupakan mata uang yang relatif stabil di ASEAN.
Pada awal April sempat mengalami penguatan hingga mencapai SGD 1,268.
Namun di bulan Juni cenderung terjadi pelemahan mencapai SGD 1,283/USD pada 12 Juni.
Peningkatan harga BBM dan barang-barang lainnya serta gangguan rantai pasok menyebabkan peningkatan inflasi.
Tingkat inflasi di negara-negara ASEAN selama periode April hingga Juni 2026 bervariasi, berkisar antara 1,8% hingga 6,8% (data tahun ke tahun/YoY).
Inflasi tertinggi terjadi di Filipina sebesar 7,2% pada April, yang kemudian sedikit melandai menjadi 6,8% pada Mei 2026.
Kemudian diikuti oleh Vietnam yang mengalami tren kenaikan dari 5,46% pada April menjadi 5,6% pada Mei 2026.
Inflasi Thailand berada di level 2,89% pada April, kemudian turun menjadi 2,79% pada Mei 2026.
Inflasi Indonesia berada di level 2,42% pada April, kemudian naik menjadi 3,08% pada Mei 2026.
Inflasi Malaysia mencapai angka 1,9% pada April 2026, level tertinggi dalam 18 bulan terakhir akibat kenaikan harga bahan bakar.
Sedangkan Singapura inflasinya relatif stabil di angka 1,8% pada April 2026.
Krisis energi, depresiasi mata uang, dan inflasi berakibat pada pertumbuhan ekonomi.
IMF dalam World Economic Outlook edisi April 2025 telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN pada kurun waktu 2026-2029.
Negara yang terdampak di ASEAN adalah Thailand.
Dampak perang tersebut semakin menghantam perekonomian Thailand yang setelah Covid-19 belum mengalami pemulihan secara signifikan.
IMF memperkirakan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) pada tahun 2026-2029 hanya berkisar 1,50%-2,40%.
Memang terjadi kecenderungan peningkatan, namun pada angka yang rendah.
LPE Thailand pada kurun waktu 2026 sampai dengan 2029 berturut-turut sebesar 1,50%, 2,10%, 2,29%, dan 2,40%.
Pola pertumbuhan ekonomi Thailand ini mirip dengan Indonesia dan Filipina.
LPE Indonesia pada periode waktu 2026-2029 berturut-turut sebesar 4,95%, 5,07%, 5,17%, dan 5,19%.
Filipina berturut-turut sebesar 4,07%, 5,77%, 6,08%, dan 6,06%.
Sedangkan pola pertumbuhan ekonomi Vietnam dan Singapura terjadi penurunan.
LPE Vietnam pada tahun 2026-2029 berturut-turut sebesar 7,10%, 6,70%, 6,20%, dan 5,60%.
LPE Singapura berturut-turut sebesar 3,51%, 2,67%, 2,52%, dan 2,49%. LPE Malaysia mengalami penurunan kemudian stagnan, yaitu berturut-turut sebesar 4,70%, 4,30%, 4,30%, dan 4,30% (IMF, April 2026).
Perang yang berkelanjutan akan semakin menekan pertumbuhan ekonomi negara-negara yang tidak memiliki sumber migas seperti Singapura dan Filipina, dan atau negara yang impor energinya sebagian besar dari Asia Barat seperti Thailand.
LPE yang sudah diproyeksikan IMF mungkin akan terkoreksi khususnya untuk Singapura, Filipina, Thailand, bahkan Malaysia.
Singapura dan Malaysia bukan hanya menghadapi dampak perang, tapi juga akan menghadapi badai yang lebih dahsyat, yaitu kebijakan penerapan biodiesel B50 dan ekspor SDA satu pintu dari Indonesia. LPE Singapura akan terkoreksi besar dari perkiraan IMF.
Sebaliknya bagi Indonesia, kebijakan penerapan biodiesel B50 dan ekspor SDA satu pintu merupakan game changer perubahan geoekonomi di ASEAN.
Dengan penerapan kebijakan tersebut secara konsisten, bersih dari korupsi, dan tegas dalam pelanggaran hukum, bisa saja perkiraan LPE Indonesia dari IMF bisa sama atau bahkan lebih tinggi dari perkiraan tersebut.
Alih-alih #sellIndonesia, malah kemungkinan besar yang terjadi sebaliknya, yaitu #sellSingapore.
*Pendiri dan peneliti senior pada Geoconomic Assessment Institute of Nusantara (GAIN)




