Oleh: Rendi Nur Setiaji (1) dan Sugeng Budiharsono (2)

Kopi bagi masyarakat Aceh bukan hanya memiliki nilai-nilai yang memberi kehidupan, tetapi juga nilai-nilai heroik. Barangkali kita masih ingat ucapan legendaris dari Teuku Umar, Pahlawan Nasional, tentang kopi.

Sebelum gugur dalam pertempuran di Meulaboh (11 Februari 1899), ia berkata dengan penuh semangat "Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keudee Meulaboh atawa ulon akan syahid". Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: "Besok pagi kita akan minum kopi di Meulaboh atau aku akan mati syahid".

Ucapan ini menunjukkan betapa budaya minum kopi sudah sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Aceh, bahkan di saat akan peperangan melawan penjajahan Belanda.

Kopi Gsyo, salah satu jenis kopi yang terkenal dari Aceh, bukanlah hal asing bagi pecinta kopi, Kopi Gayo bukan hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Bahkan dikenal sejak zaman kolonial Belanda. Karena kopi Gsyo telah dipasarkan di Rotterdam pada masa itu.

Kopi Gayo diproduksi di dataran Gayo., yang saat ini terbagi menjadi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Gayo Luwes dan Kabupaten Bener Meriah.

Tulisan ini dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional dan mengupas potret kehidupan masyarakat produsen kopi Gayo di kabupaten Bener Meriah.

Produksi Kopi Gayo di Bener Meriah

Sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbesar di kawasan Gayo, Bener Meriah memiliki luas perkebunan kopi yang signifikan serta produktivitas yang cukup untuk ukuran dataran tinggi. Data terbaru menunjukkan bahwa PDRB per kapita (atas dasar harga berlaku) di kabupaten ini mencapai sekitar Rp 37,9 juta per tahun. Selain itu, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bener Meriah tercatat sebesar ± 5,22 % pada 2023, salah satu tertinggi di Aceh.

Namun, produksi kopi di Bener Meriah tak tanpa hambatan. Banyak petani kopi di sini masih menggunakan metode tradisional dalam proses penanaman dan pengolahan pasca panen. Skala produksi kecil dan terbatasnya fasilitas modern membuat kualitas kopi sering kali tidak maksimal, sehingga sulit untuk bersaing secara global. Ketergantungan petani pada satu komoditas kopi juga memperbesar kerentanan ketika harga kopi jatuh atau panen terganggu oleh cuaca buruk, pendapatan petani langsung terdampak.

Kesejahteraan Masyarakat

Meskipun Kabupaten Bener Meriah memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama melalui komoditas kopi Gayo, kenyataan sosial di daerah ini menunjukkan adanya ketimpangan dan kemiskinan yang masih menjadi masalah serius. Berdasarkan data 2024, persentase penduduk miskin di Bener Meriah tercatat sekitar 18,18%, yang berarti hampir 18 dari 100 penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan Provinsi Aceh yang memiliki persentase penduduk miskin 12,64% pada 2024, dan jauh di atas rata-rata nasional yang tercatat sebesar 8,57% pada tahun yang sama.

Berbeda dengan kondisi kemiskinan, indikator kesejahteraan lainnya cukup bagus. Rata-rata lama sekolah penduduk Bener Meriah tercatat sekitar 10,13 tahun, lebih tinggi sedikit dari Provinsi Aceh yang rata-rata lama sekolahnya hanya 9,95 tahun. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang tercatat hanya 9,07 tahun pada 2024, menunjukkan bahwa di Bener Meriah, masyarakat cenderung memiliki akses pendidikan yang sedikit lebih baik dibandingkan dengan provinsi dan negara secara keseluruhan.

Dari segi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Bener Meriah tercatat dengan IPM sekitar 75,01 pada 2024, yang menunjukkan kategori pembangunan manusia yang tinggi. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Provinsi Aceh yang memiliki IPM sebesar 74,03 pada tahun yang sama, dan lebih baik dibandingkan dengan IPM nasional yang tercatat 74,20 pada 2024. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Bener Meriah memiliki tantangan besar, kualitas hidup di daerah ini sedikit lebih tinggi dari rata-rata provinsi dan nasional.

Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Bener Meriah sangat rendah, hanya 2,2% pada 2024, yang lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi Aceh yang memiliki TPT sebesar 5,75% pada tahun yang sama. Di tingkat nasional, TPT tercatat 4,91% pada 2024, yang menunjukkan bahwa meskipun angka pengangguran di Bener Meriah rendah, tantangan ketenagakerjaan di Aceh dan Indonesia masih cukup signifikan.

Beberapa faktor menjadi penyebab terjadinya fenomena tersebut ialah:

  1. Distribusi kesejahteraan yang belum merata meski kopi menjadi komoditas unggulan, sebagian besar petani masih beroperasi dalam skala kecil dan menghadapi kendala akses terhadap modal, pelatihan, dan teknologi yang memadai.
  2. Infrastruktur dan akses pasar yang terbatas wilayah dataran tinggi seperti Gayo sering menghadapi kendala transportasi dan logistik, sehingga biaya distribusi tinggi dan harga yang diterima petani kerap lebih rendah.
  3. Ketergantungan pada satu komoditas dengan produksi masih dominan kopi, fluktuasi harga atau gangguan produksi langsung berdampak pada seluruh ekonomi petani.
  4. Keterbatasan dalam sektor nonmoneter meskipun angka pengangguran relatif rendah, banyak pekerja berada di sektor informal yang pendapatan dan jaminannya terbatas hal ini turut memengaruhi kesejahteraan dan kemampuan investasi dalam pendidikan atau kesehatan.

Menatap Masa Depan

Untuk mendorong kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat Bener Meriah dan sekaligus mengangkat potensi kopi Gayo ke level lebih tinggi beberapa saran langkah dapat dilakukan:

  1. Peningkatan kualitas pengolahan kopi: pelatihan budidaya modern, pengolahan pasca panen lebih baik, penggunaan teknologi fermentasi dan pengemasan premium dapat meningkatkan mutu, sehingga kopi Gayo bisa masuk pasar spesialti dengan margin lebih tinggi.
  2. Penguatan koperasi dan kemitraan pasar: membentuk atau memperkuat koperasi petani, serta mempertemukan petani langsung dengan eksportir atau kafe spesialis, agar petani kecil dapat memperoleh harga yang lebih adil.
  3. Diversifikasi pendapatan petani: selain kopi, petani dapat diberdayakan untuk menanam tanaman pendukung atau mengembangkan industri kreatif, dan ekowisata kopi. ini membantu menurunkan risiko terkait fluktuasi harga kopi.
  4. Peningkatan infrastruktur dan akses pasar: perbaikan jalan, transportasi, serta logistik di kawasan dataran tinggi akan mengurangi biaya distribusi dan memperluas akses petani ke pasar nasional maupun internasional.
  5. Peningkatan pendidikan dan kapasitas SDM: dengan ratarata lama sekolah yang masih sekitar 10 tahun, perlu ada program peningkatan kemampuan masyarakat terutama generasi muda agar bisa mengakses peluang ekonomi yang lebih luas, termasuk dalam bidang pengolahan nilai tambah.
  6. Fokus pada pembangunan manusia secara menyeluruh: upaya yang ditujukan pada aspek pendidikan, kesehatan, dan penghidupan layak harus berjalan sejajar agar IPM terus naik dan kemiskinan bisa ditekan lebih lanjut.

Kopi Gayo bukan sekadar komoditas, tetapi juga bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat Bener Meriah. Potensi yang besar ini agar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Afirmasi dari seluruh stakeholder untuk pengembangan kopi Gayo sangat diperlukan, termasuk para konsymennya. Jadi setiap meneguk kopi Gayo, ingatlah, bahwa di situ terdapat semangat kepahlawanan dan perjuangan hidup dan kehidupan masyarakat Gayo. ***

Penulis adalah:
1) Mahasiswa S2 Program Studi Ekonomi Kelautan Tropika, IPB University
2) Peneliti senior pada Divisi Pengembangan Kebijakan Pertanian, Ketransmigrasian, dan        Kelembagaan Ekonomi Perdesaan, PSP3-IPB University