Oleh: Sugeng Budiharsono dan Lalu Niqman Zahir
Ini bukan tentang Pu Yi, kaisar terakhir China dari dinasti Qing. Pu Yi diturunkan secara paksa oleh Revolusi tahun 1911 yang dipimpin oleh Sun Yat Sen. Tetapi ini tentang kekaisaran dunia, Amerika Serikat, ysng saat ini dipimpin oleh Donald Trump.
Amerika Serikat merupakan pemegang kekuasaan tunggal dunia sejak Uni Soviet runtuh. Selama tiga dekade Amerika Serikat malang melintang menguasai dunia. Namun di awal kedua penggal perempat abad 21, telah muncul kekuatan baru dunia, seperti China dan Rusia. Akankah Trump merupakan penguasa terakhir kekaisaran dunia?
Trump sebenarnya jauh-jauh hari sudah menyadari tentang melemahnya kekuasaan Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari slogannya, yaitu "Make America Great Again". Slogan tersebut menyiratkan bahwa Amerika Serikat tidak seperti dulu lagi. Apalagi dunia telah berubah menjadi dunia yang multipolar.
Multipolaritas dan Tatanan Baru Dunia
Sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua (PD ke-2), dunia dibagi tiga. Dunia Pertama yaitu Amerika Serikat beserta sekutu Baratnya. Dunia Kedua, yaitu Uni Soviet beserta sekutunya. Terakhir adalah Dunia Ketiga adalah negara-negara bekas jajahan Amerika dan sekutunya yang berada di belahan bumi.
Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet terjadi sejak akhir PD ke-2 dalam rangka memperebutkan pengaruh di negara-negara Dunia Ketiga yang baru merdeka. Pada era Perang Dingin ini, dunia hanya dikuasai oleh dua kekuatan/kutub (polar) atau disebut juga bipolar.
Mikhail Gorbachev pada saat memimpin Uni Sovyet mencanangkan kebijakan glasnost (keterbukaan), dan perestroika (restrukturisasi). Glasnost bertujuan untuk meningkatkan transparansi dalam pemerintahan dan memberikan lebih banyak kebebasan berbicara dan informasi. Sedangkan perestroika berfokus pada reformasi ekonomi dan politik untuk mengatasi stagnasi yang dialami Uni Soviet. Alih-alih untuk memperkuat Uni Sovyet, yang terjadi malah sebaliknya. Uni Sovyet runtuh berkeping-keping pada tahun 1991. Berakhirnya Uni Sovyet, juga mengakhiri bipolaritas dunia.
Sejak tahun 1991 Amerika Serikat merupakan penguasa tunggal dunia. Karena negara kuat yang tersisa dari Uni Sovyet hanya negara federasi Rusia yang masih berkutat memulihkan negaranya.
Sebagai penguasa tunggal Amerika Serikat berlaku bak polisi dunia. Melakukan intervensi militer seperti dalam Perang Teluk I (1990-1991), Perang Irak atau Perang Teluk II (2003-2011), dan Afghanistan (2001-2021).
Ketiga perang tersebut menguras sumber daya Amerika Serikat. Di tempat lain, China di bawah Deng Xiao Ping, dan Rusia di bawah Putin mulai membangun. Juga India di bawah Manmohan Singh, Indonesia di bawah Pak Harto, Iran di bawah Ali Khamanei, dan Turkiye di bawah Erdogan juga mulai membangun. Demikian juga dengan negara Afrika Selatan setelah berakhirnya politik apartheid mulai berbenah. Negara-negara tersebut ini tumbuh menjadi polar-polar baru bagi kawasannya.
China dan Rusia yang tumbuh dengan pesat menjadi pesaing utama kekaisaran Amerika Serikat. Amerika Serikat dan NATO-nya, mereduksi kekuatan Rusia dengan adanya perang Rusia-Ukraina. Tetapi Rusia terlampau kuat baik dari sisi perekonomian, Sumber daya dan militernya. Perang ini malah merugikan Eropa Barat dengan membayar mahal energi, yang dulu dipasok oleh Rusia. Akibatnya daya saing produk Eropa Barat anjlok.
China digoyang dengan adanya perang dagang pada tahun 2018, yaitu periode pertama pemerintahan Trump. Perang Dagang dilanjutkan pada tahun 2021 di bawah pemerintahan Biden. Terakhir di awal pemerintahan kedua Trump perang dagang dilanjutkan. Bahkan bukan hanya China, tapi 160 negara di dunia, termasuk sekutunya di Eropa Barat, Amerika, Australia dan Asia.
Perang dagang ini sebagai bagian testing the waters-Trump tentang kekuasaan kekaisaran Amerika Serikat. Namun Trump menghadapi kenyataan pahit bahwa China dengan keras. China sudah menjadi raksasa ekonomi dunia.
Indonesia walaupun luas, kaya sumber daya dan penduduknya banyak, namun secara ekonomi dan militer merupakan negara yang lemah dibandingkan China, Rusia, India dan Iran. Sehingga Indonesia yang pertama diganggu. Indonesia yang baru tumbuh perekonomiannya dan stabil di akhir era Pak Herto, diruntuhkan pada tahun 1998. Diawali dengan krisis ekonomi yang diduga disponsori oleh George Soros. Krisis ekonomi tersebut berlanjut menjadi krisis multi dimensi yang berujung pada kejatuhan Pak Harto. Sampai beberapa tahun Indonesia berusaha memulihkan dan menstabilkan perekonomian, sosial dan politiknya.
Sekutu Amerika Serikat hilang sejak runtuhnya monarki Iran di bawah kekuasaan Shah Reza Pahlevi oleh Revolusi Islam Iran. Walaupun di awal revolusi Amerika Serikat tidak bersahabat dengan Iran, tetapi pada tqhun-tahun selanjutnya ada hubungan rahasia antara Iran, Amertika Serikat dan Israel (Economictimes, 13/06/2025), Trita Parsi (2007).
Israel mulai melihat bahwa Iran di bawah para mullah menunjukan kemajuan pembangunan yang signifikan. Mulai akhir tahun 90-an Israel, mulai menyuarakan kekhawatirannya akan program pengayaan uranium Iran.
Sekutu Israel, Amerika Serikat melalui instrumen PBB menjatuhkan sanksi pada tahun 2006. Kekuatan militer dan ekonomi Iran yang semakin menyebabkan Iran dan Amerika Serikat semakin khawatir karena posisi geopolitik Israel akibat genosida penduduk Palestina di Gaza.
Selain itu performa IDF dan alutsistanya hanyalah mitos belaka. Hal-hal inilah sebagai salah satu penyebab penyerangan Israel ke Iran pada Jumat 13/06/2025. Namun dibalas oleh Iran yang membuat Israel hancur. Dan Amerika Serikat walau berkoar-koar, namun masih menahan diri, karena bisa saja Rusia dan China dapat membela Iran,
Dunia yang multipolaritas saat ini adalah suatu keniscayaan historis dan realitas. Dalam Munixh Security Report (February 2025) yang bertema "Multipolarization", menyatakan bahwa dunia sudah hidup dalam tatanan multipolar. Penilaian ini sejalan dengan konsensus yang berlaku di komunitas internasional. Hal ini berarti bahwa kekaisaran Amerika Serikat segera berakhir. Trump mungkin penguasa dunia yang terakhir.
China, Rusia, India, dan Brazil menyadari betul bahwa negaranya tidak kuat menghadapi blok Uni Eropa, apalagi digabung dengan Amerika Serikaf, Kanada, Australia, Jepang dan Korea.
Negara-negara tersebut bergabung dalam aliansi ekonomi, BRICS pada tahun 2009. Saat ini ada 11 negara anggota, termasuk Indonesia. Tujuan utama BRICS adalah kerja sama, pengembangan, dan pengaruh dalam urusan internasional. BRICS berusaha membangun hubungan di antara negara-negara anggota dan bekerja sama dalam ekspansi ekonomi, termasuk perdagangan. Dalam arti kata lain negara-negara polar baru ini bersatu padu menghadapi gempuran ekonomi dari Amerika Serikat dan sekutu Baratnya. Sejalan dengan pertumbuhan perekonomian yang kuat, diharapkan akan memperkuat aspek geopolitik, geoekomi dan geoekonomi masing-masing negara.
Apakah Dunia yang Multipolar Baik atau Buruk?
Dunia yang multipolsr tentu memiliki dua sisi yang berbeda, yaitu baik dan buruk. Beberapa kebaikannya sebagai berikut:
Pertama, terjadinya distribusi kekuatan yang seimbang sehingga tidak ada yang bisa mendominasi. Diharapkan tercipta dunia yang lebih adil.
Kedua, banyak pusat kekuatan, dapat menciptakan lingkungan yang lebih stabil dengan menyeimbangkan satu sama lain. Sehingga lebih sulit bagi satu kekuatan untuk memulai konflik skala besar.
Ketiga, semakin besarnya peluang berkolaborasi dan aliansi yang lebih beragam.
Beberapa keburukan dari dunia multipolar sebagai berikut:
Pertama, risiko konflik yang meningkat. Sistem multipolar rentan terhadap ketidakstabilan dan konflik, karena berbagai kekuatan bersaing untuk mendapatkan pengaruh dan sumber daya.
Kedua, sulitnya membangun kerjasama. Di dunia multipolar, mungkin lebih sulit untuk mencapai konsensus dan kerja sama mengenai isu-isu global karena adanya kepentingan dan prioritas yang bersaing di antara berbagai kutub.
Ketiga, multipolaritas dapat menyebabkan persaingan dan kompetisi yang ketat di antara kekuatan-kekuatan besar, yang berpotensi meningkat menjadi konflik proksi atau bahkan konfrontasi langsung.
Keempat, Sistem multipolar dapat lebih tidak stabil dan tidak dapat diprediksi daripada sistem unipolar atau bipolar, sehingga lebih sulit untuk mengantisipasi dan mengelola peristiwa-peristiwa global.
Dunia yang multipolsr dengan kebaikan dan kebutuhannya, sudah menjadi realitas. Negara-negara yang menjadi polar baru adalah negara yang memiliki sumber daya alam ysng kaya dan sumber daya manusia yang memiliki tekad yang kuat untuk menjafi negara besar. Indonesia merupakan negara besar, sumber daya alamnya melimpah, juga jumlah sumber daya manusianya nomor empat terbesar di dunia, lalu kapan menjadi polar dunia yang baru dan kuat? Selama pemimpinnya hanya memikirkan kekuasaan dan kekayaan untuk diri dan keluarganya, serta mau jadi jongos asing denu sekepeng uang, mustahil terwujud sampai kapan pun. ***
Penulis adalah pendiri dan peneliti senior NAISD



