Oleh: Sugeng Budiharsono & Lalu Niqman Zahir

Ini bukan membahas salah satu episode film Star Wars. Tetapi ini tentang pembalasan Iran kepada Israel, yang telah menyerang Iran pada hari Jumat 13/05/2025. Israel menyerang Iran dengan alasan yang dibuat-buat, yaitu mencegah Iran untuk memproduksi bom nuklir yang akan membahayakan keamanan dan stabilitas kawasan Timur Tengah. Padahal yang seringkali merusak keamanan dan stabilitas kawasan Timur Tengah adalah Israel sendiri, dan Iran belum terbukti sedang memperkaya uranium untuk membuat bom nuklir.

Para pengamat Barat, meyakini bahwa serangan Israel pada hari Jumat yang telah membunuh salah satu pimpinan IRGC dan merusak sejumlah instalasi militer telah melemahkan Iran. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Balasan Iran sejak hari Jumat sampai hari Senin telah meluluhlantakan kota-kota Palestina yang diduduki Israel seperti Tel Aviv dan Haifa. 

Barat telah memandang sebelah mata terhadap kemampuan bangsa Iran. Walaupun telah diberikan sanksi yang berat, ketat dan telah berlangsung bertahun-tahun, akibat program nuklirnya.  Namun Iran telah menunjukkan kemampuan yang sebenarnya. Iran yang dulunya dijuluki Persia adalah bangsa yang besar dan tangguh. Dan wilayah kekuasaan kekaisaran Persia membentang luas, sejak berdiri pada 500 tahun sebelum masehi.

Serangan balik Iran yang telah menghancurkan Israel, juga merupakan panggung pertunjukan bagi Iran. Iran telah mampu mengembangkan alutsistanya, sehingga menjadi negara yang mandiri secara militer. Juga menunjukkan bahwa Iran merupakan negara yang memiliki kekuatan militer yang tangguh di Timur Tengah. Implikasinya secara geopolitik, Iran merupakan polar baru yang perlu diperhitungkan Barat di Timur Tengah. Moncernya pengaruh geopolitik  Iran di Timur Tengah inilah yang membuat kecemburusn proxy Barat, yaitu Israel. 

Israel selama puluhan tahun dikenal memiliki kemampuan militer yang hebat. Sehingga ditakuti oleh tetangga negara-negara Arabnya. Namun akibat perang di Gaza, telah sirna mitos dan kekuatannya. Tentara IDF yang dikenal bak Superman, dibuat ketakutan okeh milisi Al-Qasam. Alutsista Israel yang hebat seperti Merkava dapat mudah dihancurkan oleh senjata produksi UMK, Yasin 105. Demikian juga Iron Dome dibuat mainan oleh roket-roket  buatan home industry. Sehingga Israel tidak mampu mengalahkan Gaza dalam waktu singkat, bahkan sampai hampir dua tahun Gaza tetap survive. 

Kondisi tersebut membuat Israel frustrasi. Sehingga Israel semakin brutal  menyerang Gaza dan tidak memandang bulu sipil atau militer, laki-laki ataupun perempuan dan anak-anak. Akibatnya puluhan ribu penduduk Gaza telah tewas dan 100 ribu terkuka, yang 70 persen diantaranya adalah perempuan dan anak-anak. Sehingga Amnesti Internasional (2024) dan University Network on Human Right (2024) di Amerika juga menyatakan Israel melakukan genosida. Bahkan International Court of Justice telah menetapkan PM Benjamin Netanyahu dan petinggi militernya sebagai penjahat perang. 

Perubahan geopolitik yang drastis bagi Israel dan semakin kuatnya peran Iran beserta proxy-proxynya tentu sangat mengkhawatirkan posisi Amerika Serikat dan sekutu Baratnya di Timur Tengah. Jadi penyerangan Israel ke Iran adalah atas restu dan didukung Amerika Setikat dan sekutu Baratnya, walaupun secara verbal mereka menyangkalnya.

Bangkitnya Kekaisaran Lama

Iran, bukan satu-satunya kekaisaran lama yang bangkit dan ditakuti oleh Barat. Iran yang merupakan penjelmaan kekaisaran Persia, kebangkitannya bersamaan dengan keksisaran kuno lainnya, yaitu China, Rusia dan Turkiye. Keempat negara ini memang dulunya merupakan kekaisaran yang mendominasi dunia pada masanya. 

China bangkit dengan kekuatan geopolitik, geoekonomi, dan geoteknologi. Sehingga China telah menjadi raksasa (polar) baru  dunia di bidang militer, ekonomi, dan teknologi. Di bawah kekuasaan Xi Jin Ping, China makin mengukuhkan kekuasaannya di dunia.

Rusia yang sangat kaya sumber daya alam dan kehebatan teknologinya telah bangkit kembali setelah terpuruk akibat pecahnya Uni Sovyet. Vladimir Putin telah mengubah Rusia menjadi negara tangguh secara ekonomi dan militer.

Terakhir Turkiye, yang dulunya pusat dari Kekaisan Utsmaniyyah, telah bangkit kembali di bawah pimpinan Recep Tayyip Erdogan. Turkiye yang dulunya diejek sebagai "negara sakit di Eropa", telah berubah. Erdogan telah membawa kemajuan nyata bagi Turkiye baik dalam bidang ekonomi maupun teknologi militer. 

Keempat negara yang merupakan penjelmaan kembali dari kekaisan lama telah tumbuh menjadi polar baru. Dan tentunya merupakan ancaman  bagi dominasi Barat. Seperti biasanya Barat melabeli keempat negara dengan label buruk. Seperti negara authoritarian, demokrasi semu, kekaisaran setan dan lain sebagainya (Brands, 2024; dan Novo, 2022). Bahkan Novo memberi judul artikelnya bernada sinisme dan provokatif, "The Empires Strike Back: A New Age of imperialiam". Padahal seluruh dunia tahu bahwa Amerika Serikat dan Eropa Barat lah yang telah menjadi imperialis sejati sejak abad 15 sampai abad 20. Bahkan walaupun secara fisik sudah hengkang dari negara-negara jajahannya, tapi secara sosial politik dan ekonomi masih menguasainya.

Bangkitnya keempat negara-negara tersebut tentu akan memperkecil dominasi geopolitik dan geoekonomi Amerika Serikat dan sekutu Baratnya. Sehingga mereka tentu ingin mengeliminasi polar-polar baru yang muncul yang merupakan pesaing mereka.

Amerika Serikat dan sekutu Baratnya tidak siap menghadapi multipolaritas dunia, khususnya Amerika Serikat. Amerika Serikat telah  mendominasi dunia sejak runtuhnya Uni Sovyet tahun 1991. Sebagai penguasa tunggal dunia Amerika Serikst seenaknya mencampuri urusan dalam negeri suatu negara. Dan seringkali menggunakan kekuatan militer dengan alasan yang dibuat-buat. Seperti yang terjadi di Irak maupun Afghanistan dan Yaman.  

Eliminisi kepada kekuatan empat negara sudah sering dilakukan. Baik secara militer secara langsung, seperti kepada Iran, ataupun melalui proxy Barat, yaitu perang Rusia-Ukraina. Ataupun melalui rongrongan dari dalam negeri, seperti kudeta dan demo besar-besaran yang gsgal kepada Erdogan di Turkiye. 

China yang sudah sangat kuat dalam militer, ekonomi, dan teknologi pun tidak luput dari gempuran Ametika Serikat. Presiden Donald Trump sejak tahun 2018 sudah melakukan perang dagang dengan China. Dan terakhir pada awal April 2025.  Trump melakukan perang tarif lagi. Tetapi ternyata ditantang  balik oleh China, dan serangan tersebut berakibat buruk bagi negara AS sendiri.

Bangkit Kembalinya Kerajaan Nusantara?

Sejak abad ke-7' sampai abad 15, di bagian timur dunia, Nusantara, sudah berdiri Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Pengaruh kedua kerajaan tersebut meliputi Asia Tenggara. Pasifik Selatan sampai bagian pantai Timur Afrika.  Artinya sebelum berdirinya kekaisan Utsmaniyyah dan Rusia, di Nusantara sudah berdiri Kerajaan yang besar dan pengaruhnya sangat luas. Bahkan negara sekuat Mongol saja tidak mampu mengalahkan kerajaan di Nusantara. Keempat kekaisaran lama sudah bangkit menjadi negara maju dan modern serta telah menjadi polar baru dunia. Kapan Kerajaan Nusantara yang menjelma menjadi Indonesia menjadi polar baru dunia?

Sejak masuknya VOC ke Indonesia pada awal abad 17, Indonesia telah memasuki masa suram. Sampai saat ini yang akan memasuki 80 tahun kemerdekaan, negara yang kaya sumber data dab lokasi yang strategis masih dilihat kemiskinan.

Bank Dunia (April 2025), melalui "Macro Poverty Outlook" menyebutkan bahwa pada tahun 2024 lebih dari 60,3 persen penduduk Indonesia atau setara dengan 171,8 juta jiwa hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini karena Bank Dunia menyetarakan Indonesua sebagai negara berpendapatan menengah atas. Sehingga kriteria batas kemiskinannya adalah US$ 6,85 per kapita per hari. Selain kemiskinan juga terjadi kesenjangan antar golongan pendapatan yang mencapai Gini  Rasio 0,4. Itu pun tidak menggambarkan sebenarnya karena BPS menghitung Gini Rasio dengan menggunakan pengeluaran, bukan pendapatan. Kalau menggunakan pendapatan, maka nilai Gini Rasio jauh lebih dari nilsi 0,4. Itu bisa seperti puncak gunung es 

Masalah kemiskinan, kesenjangan dan kemajuan negara di Era Industri 5.0 dapat diatasi apabila kondisi sumber daya manusianya dapat ditingkatkan. Kondisi sumber daya manusia ini meliputi kompetensi, etos kerja, dan etika.

Kompetensi sumber daya manusia Indonesia apabila dilihat dari  rerata lama sekolah pada tahun 2024 hsnya mencapai 9,22 tahun alias setingkat kelas 2 SMP. Hal lainnya terkait dengan kompetensi adalah IQ orang Indonesia pada tahun 2024 hsnya 84. Kombinasi inilah yang menyebabkan SDM Indonesia memilki kemampuan yang kurang dalam menghasilkan invensi dan inovasi. Padahal invensi dan inovasi ini sangat dibutuhkan untuk peningkatan produktivas ekonomi dan pengembangsn industri militer. Selain kurangnya kompetensi SDM, juga lembaga penelitian msupun perguruan tingginya malah lebih asyik bermain politik daripada menghasilkan invensi dan inovasi baru 

Etos kerja di Indonesis juga sangat  rendah jika dibandingkan dengan bsngsa-bangsa lain di Asia. Hal ini sebenarnya sudah diteliti oleh ekonom Belanda Julius H. Boeke, pada tahun 1930-an, Boeke mengungkapkan bahwa orang Nusantara saat itu merasa cepat puas, sehingga terjadi "backward banding supply of lsbour"  Artinya setelah bekerja dan mendapatkan hasil tertentu langsung istirahat, d an tidak mengoptimalkan waktu kerjanya. Etos kerja seperti ini menyebabkan produktivitas tenaga kerja yang rendah dan kurang bisa bersaing secara internasional 

Terakhir adalah masalah etika alias moral. Para pemimpin dari aras pusat sampai desa, terjangkit hedonisme. Sehingga terjadi penyalahgunaan wewenang, yang salah satunya adalah terjadinya korupsi yang akut. Pada beberapa tahun di akhir jabatan Jokowi kondisi korupsi sangat buruk. Sehingga Indeks Persepsi Korupsi (Corription Persception Index) hanya mencapai 34 dari 100. Indonesia bertengger di peringkat 115. Bahkan Jokowi sendiri oleh OCCRP (2024) sebagai finalis orang terkorup sedunia tahun 2024. Korupsi inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia mau jadi kacungnya bsngsa lain, untik menguras kekayaan Indonesia. Sehingga  bangsa Indonesia tidak dapat menkmati kekayaan sumber daya alamnya. Kesadaran dari seluruh rakyat Indonesia untuk memperbaiki dan meningkatkan kompetensi, etos kerja, dan etika, diharapkan akan mampu membangkitkan kejayaan bangsa Indonesia. ***


Penulis adalah pendiri dan peneliti senior NAISD