POJOKSATU.id - Saat ini kita sedang dipertontonkan dengan sebuah permainan dagang yang dilakukan oleh Trump yang mewakili negara Amerika Serikat dan pemerintah Xi Jing Ping yang mewakili negara Tiongkok.
Didalam permainan ini, masing-masing negara akan dihadapkan pada beberapa pilihan antara lain bagi AS, menaikkan tarif yang tinggi bagi produk-produk Tiongkok yang masuk ke AS yang akan berdampak terhadap naikknya harga produk tersebut di AS, atau tetap mempertahankan tarif yang sudah berlaku, sehingga tidak aka nada gejolak di pasar global dan kegiatan ekonomi akan berjalan seperti biasanya, atau mungkin juga akan turunkan tarif dari biasanya menjadi lebih rendah.
Namun saat ini, AS telah mengambil pilihan yang pertama yaitu menaikkan tarif yang tinggi bagi produk impor dari Tiongkok yang kemudian di respon reaktif oleh pemerintah Tiongkok.
Setelah pemerintah AS menaikan tarif impor atas produk dari Tiongkok, kemudian direspon balik oleh Tiongkok dengan membuat kebijakan yang sama yaitu menaikkan tarif terhadap produk yang impor dari AS.
Meskipun dalam sebuah teori permainan (Game Theory), Tiongkok bisa saja melakukan negosiasi ulang atas tarif yang ditetapkan oleh AS terhadap produk TIongkok tersebut, atau tetap bertahan tanpa balasan dengan kebijakan yang dilakukan oleh AS.
Namun rupanya Tiongkok tidak mau dianggap sebagai anak kecil yang mau nurut atau tunduk terhadap permainan AS.
Kalaupun Tiongkok mengambil keputusan untuk melakukan negosiasi, hasilnya bisa menang bisa juga kalah.
Maka daripada negosiasi yang berisiko menurunkan martabat Tiongkok, maka Xi Jing Ping mengambil Keputusan melawan kebijakan AS dengan melakukan kebijakan tarif yang sama.
Di dalam teori permainan dikenal istilah Nash Equilibrium, dimana kondisi ini terjadi ketika kedua negara tidak punya insentif untuk mengubah kebijakannya secara sepihak.
Misalnya ketika AS menaikkan tarif impor terhadap produk Tiongkok, dan pemerintah Tiongkok membalas dengan menaikkan tarif yang tinggi terhadap produk AS yang masuk ke Tiongkok, maka dalam hal ini kedua negara akan mengalami kerugian dalam jangka pendek akibat kebijakan yang diambil tersebut, karena masing-masing negara tidak mampu menjual barang dagangannya dengan harga yang kompetitif.
Sehingga barang dagangan tersebut tidak lagu di pasar kedua negara, kecuali mereka menjual ke pasar yang lain.
Namun untuk bisa melakukan itu, tentu butuh waktu yang tidak sedikit untuk mendapatkan pasar yang baru.
Akan tetapi jika salah satu dari kedua pemain ini mundur, dia bisa dianggap lemah (losing face), dan dalam jangka panjang bisa merugi secara geopolitik.
Dalam hal ini, Presiden Donald Trump mungkin berharap tarif impor yang dikenakan kepada Tiongkok akan bisa memaksa Tiongkok menyerah (atau setidaknya membuka pintu negosiasi ulang), tapi kalau Tiongkok tidak menyerah dan malah membalas, maka AS akan masuk ke dalam kondisi yang disebut Prisoner's Dilemma, Dimana dalam kondisi ini, kedua belah pihak bisa berakhir rugi karena kedua belah pihak sama-sama gengsi untuk mengalah, walaupun kedua belah pihak punya niat yang sama yaitu untuk membela kepentingan nasional.
Komitmen dan Reputasi
Dalam game theory, ada konsep "komitmen yang kredibel". Trump sering menggunakan gaya komunikasi yang keras sebagai sinyal bahwa dia berkomitmen kuat pada kebijakan tarif, untuk memperkuat posisinya dalam negosiasi.
Tapi ini bisa berdampak buruk jika dianggap tidak fleksibel atau sulit dinegosiasikan. Melihat reaksi dari negara-negara yang dikenakan kenaikan tarif oleh AS yang tidak reaktif, bisa jadi menjadi faktor yang menyebabkan Trump menunda kenaikan tarif tersebut.
Sebagai negara yang merasa besar tentunya ingin negara-negara lain tunduk dan patuh terhadap kebijakannya.
Lewat kebijakan tarif ini adalah bentuk strategi dalam game theory, di mana ia mencoba memaksimalkan posisi AS dengan menekan lawan lewat ancaman ekonomi.
Perang dagang bukan satu kali main dan selesai. Ini seperti permainan berulang (repeated game), di mana tindakan hari ini memengaruhi strategi lawan pada masa yang akan datang.
Dalam hari ini ketika AS mencoba menaikkan tarif impor terhadap produk Tiongkok, maka Tiongkok melakukan hal sama yaitu memberlakukan tarif yang tinggi pula terhadap produk AS yang masuk ke Tiongkok dalam selang waktu yang tidak lama setelah AS menaikan tarif.
Jika kondisi ini terus berulang tanpa kompromi, bisa memunculkan equilibrium yang merugikan kedua belah pihak dalam jangka panjang.
Dampak bagi Indonesia
Lalu bagaimana dampak perang tarif antara AS dan Tiongkok terhadap Indonesia. Indonesaia yang bukan pemain utama dalam pasar global bisa dilihat dari berbagai sisi, baik dari sisi positif maupun negatif, tergantung pada sektor dan respons kebijakan dalam negeri.
Dengan adanya perang dagang ini sudah pasti akan memicu perlambatan ekonomi secara global, termasuk Indonesia.
Ketika dua ekonomi terbesar dunia bersitegang, maka akan berdampak terhadap tingkat konsumsi secara global, arus investasi yang melambat, harga komoditas (seperti kelapa sawit, batu bara, karet, dan komoditas andalan ekspor Indonesia lainnya) bisa ikut turun.
Hal ini bisa mengurangi ekspor Indonesia secara keseluruhan.
Indonesia banyak terlibat dalam rantai pasok global, misalnya, ekspor komponen elektronik atau bahan mentah ke Tiongkok untuk kemudian diekspor ke AS.
Saat Tiongkok terkena tarif tinggi dari AS, maka pabrik-pabrik di Tiongkok yang selama ini mengimpor bahan baku dari Indonesia, bisa mengurangi pembeliannya karena penurunan jumlah produksi.
Dampaknya akan terasa ke pemasok bahan baku dari Indonesia. Begitu juga dengan pemasok komponen lainnya dari negara lain, sudah pasti akan mengalami hal yang sama yaitu penurunan volume perdagangan global.
Ketidakpastian pasar global ini akan membuat para investor menjadi lebih hati-hati. Arus modal asing bisa keluar dari pasar negara berkembang (termasuk Indonesia) yang berpotensi penyebab resesi di dalam negeri.
Kemudian Rupiah bisa tertekan ke angka yang lebih rendah lagi karena devisa yang menurun, termasuk indeks saham juga menjadi volatile atau tidak menentu.
Dampak Positif (Peluang)
Perusahaan-perusahaan AS yang kesulitan mengimpor barang dari Tiongkok, bisa mencari alternatif sumber lain, dan Indonesia bisa jadi salah satu opsi bagi mereka untuk mendapatkan barang pengganti dari Tiongkok tersebut.
Misalnya AS butuh produk tekstil, furnitur, atau komponen elektronik dari luar Tiongkok. Indonesia juga bisa ambil ceruk pasar itu jika mampu bersaing dalam kualitas dan harga.
Begitu juga sebaliknya, Tiongkok mungkin butuh bahan baku yang sebelumnya didapat dari AS, tapi kini mencari pemasok baru seperti Indonesia.
Beberapa perusahaan Tiongkok (atau multinasional yang basisnya di Tiongkok) mungkin akan melakukan relokasi pabrik ke negara-negara Asia Tenggara untuk menghindari tarif.
Vietnam sudah banyak mendapat limpahan ini, tapi Indonesia juga berpotensi menarik investasi, jika Regulasi investasi membaik, kemudian didukung oleh Infrastruktur yang memadai, dan upah tenaga kerja yang kompetitif.
Kondisi ini bisa menjadi momentum baru bagi Indonesia untuk bisa mempercepat atau memperluas kerja sama dagang dengan AS atau Tiongkok.
Yang bisa manfaatkan oleh Indonesia misalnya melalui Preferensi tarif bilateral, RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership), atau memperkuat posisi di ASEAN.
Dengan demikian, dampak perang dagang AS-Tiongkok bagi Indonesia bersifat dua sisi, yaitu ada risiko dari penurunan permintaan dan tekanan global.
Tapi juga peluang besar untuk menarik investasi dan mengekspansi pasar ekspor.
Kebijakan pemerintah Indonesia jadi kunci, apakah bisa memanfaatkan peluang tersebut melalui reformasi struktural, perbaikan iklim usaha, dan penguatan daya saing ekspor?




