Oleh: Sugeng Budiharsono
Pada tanggal 17 Januari 2025, IMF dan Bank Dunia secara bersamaan menerbitkan prediksi pertumbuhan negara-negara di dunia. Kedua lembaga internasional memiliki persamaan dalam memprediksi perekonomian dunia, yaitu pertumbuhan ekokomi yang rendah.
Tulisan ini menguraikan kecenderungan pertumbuhan ekonomi dunia dan Indonesia menurut IMF dan Bank Dunia pada tahun 2025 dan 2026.
Perekonomian Dunia
Laporan IMF tentang World Economic Outlook (WEO) edisi 17 Januari 2020 diberi judul Pertumbuhan Global yang Berbeda dan Tak Menentu. IMF memprediksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,3 persen. Perkiraan ini jauh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi dari awal abad ke-21 sampai tahun 2019 (2000-2019), yaitu sebesar 3,7 persen.
Berbeda dengan IMF, Bank Dunia dalam Global Economic Prospects (GEP) edisi 17 Januari memprakirakan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2025 dan 2026 hanya sebesar 2,7 persen. World Bank menegaskan bahwa pertumbuhan sebesar itu tidak mencukupi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Negara-negara pasar berkembang dan negara berkembang akan memasuki kuartal kedua abad ke-21 dengan pendapatan per kapita pada lintasan yang menyiratkan ketertinggalan yang lemah terhadap pendapatan negara-negara maju. Sebagian besar negara berpendapatan rendah tidak akan naik ke status negara berpendapatan menengah pada tahun 2050.
World Bank selanjutnya menyatakan bahwa diperlukan kebijakan di tingkat global dan nasional untuk mendorong lingkungan eksternal yang lebih baik, meningkatkan stabilitas ekonomi makro, mengurangi kendala struktural, mengatasi dampak perubahan iklim, dan dengan demikian mempercepat pertumbuhan dan pembangunan jangka panjang.
Perekonomian Indonesia
WEO IMF edisi Januari 2025, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 dan 2026, masing-masing sebesar 5,1 persen. Prediksi ini tidak berubah dari prediksi pada WEO edisi Oktober 2024. Angka pertumbuhan sebesar itu tidak jauh dari pertumbuhan tahun 2023 dan 2024 yang masing-masing hanya sebesar 5,0 persen.
Prediksi GEP edisi Januari 2025 dari World Bank pun sama dengan prediksi IMF, yaitu masing-masing sebesar 5,1 persen untuk tahun 2025 dan 2026. Prediksi GEP edisi Januari ini sama dengan prediksi GEP pada edisi Juni 2024. Jadi baik IMF maupun World Bank memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mentok di angka psikologis 5 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih stagnan di angka 5 persen tersebut, sebenarnya masih cukup baik bila dibandingkan dengan pertumbuhan ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand). IMF memprediksikan pertumbuhan ASEAN-5 pada tahun 2025 dan 2026 masing-masing hanya sebesar 3,5 dan 3,9 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 dan 2026 juga masih lebih baik bila dibandingksn dengan negara-negara utama BRICS, kecuali India.
Pertumbuhan ekonomi India pada tahun 2025 dan 2026 diprediksikan IMF masing-masung sebesar 6,5 persen. Sedangkan China hanya sebesar 4,6 dan 4,5 persen, Brazil masing-masing 2,2 persen, Afrika Selatan masing-mading sebesar 3,3 dan 4,1 persen, dan Rusia masing-masing hanya sebesar 1,4 dan 1,2 persen.
Target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo yang sebesar 8 persen, memang masih jauh dari prediksi IMF dan Bank Dunia. Hal ini karena Kabinet Merah Putih di bawah Presiden Prabowo baru mulai bekerja.
Prabowo yang berusaha untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan ekonomi biaya tinggi baru dimulai. Ini tantangan besar bagi Prabowo dan kabinetnya untuk menunjukkan kepada rakyat Indonesia dan dunia dapat menunjukkan kinerjanya yang baik. Sehingga bukan sekedar omon-omon.
Biang kerok penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi adalah ekonomi biaya tinggi. Hal ini ditandai dengan nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) mencapai 6,33 pada tahun 2023.
Penyebab tingginya ICOR ini antara lain karena tata kelola yang kurqng baik, dan pemerintahan yang kurang bersih alias tingginya korupsi.
Pemerintahan di bawah Jokowi mewariskan tingkat korupsi yang tinggi. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) dari Transparency International selama berapa tahun terakhir sebelum tahun 2024, nilai skornya hanya 34 (peringkat 115 dari 180 negara). Saking buruknya kondisi korupsi Indonesia, OCCRP menetapkan Jokowi sebagai finalis tokoh terkorup dunia dan kejahatan terorganisasi tahun 2024.
Pergantian pemerintahan telah membawa angin segar dalam pemberantasan korupsi. Transparency Internasional pada tanggal 11 Februari 2025 yang lalu telah menerbitkan IPK 2024.
IPK Indonesia pada tahun 2024 skornya meningkat menjadi 3,7 dengan peringkat meningkat menjadi 3,9. Kecenderungan peningkatan skor IPK diharapkan akan terus meningkat di bawah pemerintahan Presiden Prabowo. Karena Prabowo berkomitmen untuk menurunkan tingkat korupsi. Sehingga Prabowo menargetkan ICOR pada tahun mendatang menjadi 4. Sehingga ekonomi akan lebih efisien dan pertumbuhan ekonomi lebih meningkat
Peningkatan pertumbuhan ekonomi selain dengan menurunkan ICOR, juga dapat dilakukan dengan meningkatkan rasio investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Seluruh pihak baik pusat maupun daerah harus berusaha menarik investasi baik dari luar negeri maupun dalam negeri.
Prabowo yang memiliki jaringan luas di dunia, apalagi setelah bergabungnya dalam BRICS, harus dapat dimanfaatkan oleh para pembantunya untuk dapat menarik investasi. Para pembantunya harus bekerja ekstra keras untuk menjemput investor, agar pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi.
Menjadi pejabat di era Prabowo memang harus berkhidmat untuk rakyat. Tidak ada lagi privilege sebagai pejabat, apalagi setelah adanya penghematan anggaran sesusi yang tertuang dalam Inpres No 1 Tahun 2025 dan jangan pula coba-coba korupsi, karena tentu akan disikat oleh Ptabowo.
Penurunan biaya tinggi dan peningkatan rasio investasi terhadap PDB akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan Prabowo, yaitu sebesar 8 persen dapat dicapai. Apabila ditargetkan ICOR-nya 4,0, maka dipetlukan rasio investasi terhadap PDB srkurang-kurangnya sebesar 32 persen.
Target pertumbuhan ekonomi 8 persen ini adalah sebagai akselerasi untuk pencapaian Indonesia Emas tahun 2025. Selain akan menjadi negara maju, juga diharapkan masyarakatnya sejahtera pada pendapatan yang tinggi dan merata. ***
Penulis adalah Pengamat sosial ekonomi dan politik dari Komunitas Betbagi Ilmu.



