Oleh: Sugeng Budiharsono

POJOKSATU.id - Jokowi telah turun tahta kepresidenan (lengser keprabon) sejak dua bulan yang lalu. Namun, dia masih dianggap cawe-cawe dalam penetapan tersangka Hasto Kristiyanto oleh KPK.

Bahkan PDIP, partainya Hasto, dalam konferensi persnya menyatakan bahwa Jokowi terkait dengan penetapan tersebut.

Menurut PDIP, penetapan tersebut terkait dengan sikap Hasto yang menentang upaya-upaya tidak demokratis dari Jokowi di akhir masa jabatannya.

Namun, Jokowi menyatakan bahwa dia tidak mungkin cawe-cawe karena sudah lengser keprabon alias sudah purna tugas sebagai presiden.

Tapi, betulkah Jokowi akan madeg pandito setelah lengser keprabon sesuai dengan tradisi raja-raja Jawa?

Kekuasaan Raja Jawa

Jokowi sangat kental dengan tradisi Jawanya, khususnya dalam membangun kekuasaannya.

Selama sepuluh tahun berkuasa, Jokowi penuh dengan simbol-simbol kekuasaan sebagai Raja Jawa. Mulai dari memilih istana Bogor daripada istana negara di Jakarta, dan lain sebagainya.

Memang, dalam memahami politik Indonesia perlu memahami politik raja-raja Jawa, karena semua presiden merupakan orang Jawa dan suku Jawa mendominasi penduduk Indonesia. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Benedict R. O'G.

Anderson (2018) dalam bukunya Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. Anderson menyatakan bahwa meskipun bangsa Indonesia masih muda, namun pada umumnya politik negara Indonesia sudah kuno.

Karena seperti diketahui, dominasi orang Jawa dengan budayanya telah mempengaruhi lanskap politik kekuasaan Indonesia.

Anderson juga menulis sebuah bab yang berjudul The Idea of Power in Javanese Culture dalam buku Culture and Politics in Indonesia yang diedit oleh Clare Holt (2019).

Dalam tulisannya tersebut, Anderson menyatakan bahwa sumber kekuasaan setiap orang Jawa berasal dari spiritualitas.

Berbeda dari konsep kekuasaan Barat yang melihat kekuasaan sebagai hasil interaksi sosial, kekuasaan Jawa berasal dari sumber-sumber simbolis, seperti status sosial, jabatan, kekayaan, kepemilikan senjata, dan lainnya.

Jokowi memahami dan menghayati betul tradisi raja-raja Jawa tersebut termasuk tradisi lengser keprabon.

Jokowi sebagai presiden merepresentasikan dirinya sebagai raja Jawa. Bahkan tanpa malu-malu, Jokowi menjadi "Raja Jawa" dalam setiap peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia.

Lengser Keprabon Madeg Pandito

Dalam tradisi raja-raja Jawa dikenal tradisi lengser keprabon madeg pandito, yang memiliki arti bahwa setiap pemimpin atau penguasa yang sudah mengakhiri masa kekuasaannya diharapkan banyak beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa untuk bertobat.

Tradisi ini sudah dimulai sejak kerajaan Jawa Hindu. Hal ini tersurat dalam Kitab Mahabharata, di mana Abiyasa (Visaya) menjadi begawan/brahmana setelah tidak lagi menjadi raja Astina.

Pada abad 11, Airlangga, raja terkenal pendiri kerajaan Medang Kahuripan, Panjalu dan Janggala, setelah turun tahta menjadi seorang pandita/brahmana yang bergelar Resi Aji Paduka Mpungku.

Pada masa kerajaan Islam ada raja Pajang, yaitu Sultan Hadiwijaya, juga madeg pandito sebagai ulama.

Sultan Hadiwijaya tersingkir dari kekuasaannya akibat serangan dari Panembahan Senapati dari kerajaan Mataram Islam. Akibat serangan tersebut, Sultan Hadiwijaya melarikan diri ke Madura.

Ketika berniat untuk melakukan serangan balik untuk merebut kembali kekuasaan, namun di sebuah pulau kecil di pantai Lamongan, Sultan Hadiwijaya berubah niat.

Sultan Hadiwijaya tidak lagi berniat untuk merebut kekuasaan tetapi berkeinginan untuk madeg ulama. Sultan Hadiwijaya kemudian mendirikan pondok pesantren yang menjadi cikal bakal pondok pesantren besar di Jawa.

Di era modern Indonesia, Presiden Soekarno tidak sempat madeg pandito karena menjadi tahanan rumah.

Demikian juga Presiden Soeharto; setelah dilengserkan tidak sempat madeg pandito karena setelah lengser sakit hingga meninggal dunia.

Habibie setelah lengser madeg pandito. Beliau menjadi guru bangsa. Demikian juga dengan Gus Dur; setelah dilengserkan madeg pandito.

Gus Dur ini mirip dengan Sultan Hadiwijaya; tidak melakukan perlawanan tetapi madeg pandito dan menjadi guru bangsa.

Megawati dan SBY setelah lengser keprabon tidak madeg pandito. Bahkan Mega masih berlaga dalam kontestasi pemilihan presiden walaupun kalah.

Sampai saat ini Mega masih aktif dalam dunia politik sebagai ketua umum PDIP. Demikian juga dengan SBY tetap aktif di dunia politik walau tidak seperti Mega; SBY hanya sebagai ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Jokowi Madeg Pandito?

Jokowi sepertinya belum mau madeg pandito. Hal ini dapat dilihat dari syahwat berkuasanya pada akhir masa jabatan keduanya.

Jokowi masih menunjukkan keinginan berkuasanya; dari keinginan tiga periodenya hingga memperpanjang masa jabatannya sampai 2027. Kedua usaha Jokowi tersebut menemui kegagalan.

Sampai akhirnya "merekayasa" UU melalui MK untuk menggolkan anaknya menjadi wakil presiden. Menurut PDIP, hal inilah yang ditentang oleh Hasto. Akibatnya Hasto "dikriminalisasi" sebagai tersangka oleh KPK.

Jokowi memang telah menyanggahnya; namun PDIP menganggap bahwa Jokowilah yang berperan dalam penetapan tersangka Hasto tersebut.

Jokowi harus menyadari tentang konsekuensi hal ini karena Mega akan melakukan perlawanan dan pembalasan baik kepada Jokowi maupun keluarganya.

Kalaupun Jokowi masih mau beraktivitas di dunia politik, dia harus mempunyai kendaraan partai yang cukup besar seperti SBY atau sekalian yang besar seperti Mega.

Di akhir masa jabatan keduanya, Jokowi telah berusaha untuk mempunyai partai yang besar; namun yang didapat hanya partai gurem PSI.

Mau membegal partai politik juga susah karena sudah lengser keprabon. Oleh karena itu daripada menjadi ronin politik, lebih baik madeg pandito.***