Oleh: Sugeng Budiharsono
Generasi Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997-2012 atau mereka yang saat ini berusia antara 12 tahun sampai dengan 27 tahun. Generasi Z inilah yang akan menjadi tumpuan bangsa Indonesia masa mendatang.
Namun dalam beberapa ini sedang viral, ketika BPS menyatakan bahwa ada 9,9 juta dari Generasi Z yang termasuk sebagai orang muda yang sedang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan (youth Not in Employment, Education and Training - NEET). Gen Z yang termasuk NEET tersebut sekitar 22-25 persen dari total penduduk yang berusia antara 15-24 tahun.
Penyebab sebagai NEET antara lain adslah: (1) putus asa; (2) kurangnya akses transportasi dan pendidikan; (3) keterbatasan keuangan; (4) kewajiban rumah tangga; dan (5) disanilitas.
BPS juga menyatakan bahwa berdasarkan hasil SAKERNAS Februari 2024, bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi yaitu ada pada Gen Z yang masuk ke dalam NEET. TPT dari NEET ini mencapai 16,42 persen
Bonus Demografi atau Bencana Demografi?
Gen Z, yang diharapkan sebagai bonus demografi, karena masih muda dan produktif, malah sebaliknya, yaitu nenjadi bencana demografi
Dampak negatif dari NEET antara lain sebagai berikut: (1) Rendahnya produktivitas kaum muda ini akan berdampak pada kinerja perekonomian nasional; (2) menurunnya kreativitas dan inovasi, karena biasanya kaum muda inilah yang sebagai penghela kreativitas dan inovasi. Padahal kreativitas dan inovasi inilah yang menjadi motor penggerak perekonomian; dan (3)
NEET, sebagai kaum muda dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab baik dari dalam maupun luar negeri unruk mengganggu kestabilan sosial, ekonomi, politik dan keamanan.
Kondisi di atas tentu tidak dapat dibiarkan, dan harus segera ditangani dengan baik. Karena hal ini dapat merugikan kondisi sosial, ekonomi, politik, dan keamanan nasional, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Indonesia Emas, sebagai negara maju dan sejahtera, yang digadang-gadang dapat dicapai pada tahun 2046, mungkin hanya akan sebatas angan-angan.
Strategi Penanganan NEET
Berdasarkan penyebab utama terjadinya NEET yang telah dikemukakan BPS maka ada beberapa strategi untuk menangani NEET tersebut.
1. Peningkatan Keberagamaan (religiousity)
Gen Z ternyata sangat rentan secara sosial secara individual, yaitu mudah putus asa. Namun kerentanan sosial ini diduga bukan hanya di aras individual, namun di aras keluarga maupun kumitas. Peran keluarga dalam rangka meningkatkan keberagamaannya sangat penting agar putra-putrinya ini tidak cepat putus asa.
Peran pemuka agama juga tidak kalah pentingnya. Merekalah yang diharapkan meningkatkan resiliensi sosial baik di aras induvidu, keluarga, maupun komunitas. Jangan sampai energi para pemuka agama ini habis untuk urusan politik, atau hanya untuk memperbanyak jemashnya selayaknya artis, tapi melupakan esensi tugas mereka sebagai penverah
2. Akses ke Pendidikan
Akses ke pendudukan ini merupakan salah satu penyebab terjadinya NEET. Untuk kelompok umur 15-24, berarti mereka yang seharusnya sedang sekolah di SMA/SMK/ atau yang sederajat maupun yang sedang kuliah.
Kurangnya akses ke pendudikan baik dapat dilihat dari Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk sekolah menegah/MAN pada tahun 2023 sebesar 81,68 persen. Sedangkan APK untuk perguruan tinggi hanya sebesar 26,92 persen.
Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya APK tersebut. Di aras sekolah menengah antara lain disebabkan; (1) masalah finansial untuk membiayai biaya transportasi dan peralatan untuk sekolah; (2) aksesibilitas dari rumah ke sekolah; (3) bekerja dan atau membantu keluarga.
Sedangkan rendahnya APK untuk perguruan tinggi antara lain diduga karena: (1) Biaya pendidikan (UKT) yang semakin tidak terjangkau oleh masyarakat; (2) Biaya hidup dan kebutuhan kuliah lainnya; dan (3) beketja dan atau membantu rumah tangga.
Semakin tidak terjangkaunya biaya pendidikan oleh masyarakat tersebut, knapa tidak menjadi perhatian para rektor maupun para guru besar yang selama pemilu kemarin banyak bersuara. Namun menyangkut masalah pendidikan, mereka diam saja dan atau pura-pura tidak tahu. Padahal ini masalah yang serius untuk bangsa dan negara ini baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Setelah mereka luluspun, tidak semuanya diserap oleh pasar tenaga kerja. Berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan. TPT yang terbesar pada mereka yang menamatkan SMK sebesar 8,62 persen, diikuti SMA sebesar 6,73 persen, dan DIV, S1, S2, S3 sebesar 5,63 persen
Tingginya TPT tersebut disebabkan antara lain: (1) tingkat kompetensi yang tidak sesuai dengan kebutuhan; (2) jumlah kebutuhan tenaga lebih sedikit dari pasokan tenaga kerja; dan (3) faktor informasi tenaga kerja.
Agar kompetenai lulusan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja, maka pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja nasional dan luar negeri. Baik untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Demikian juga untuk pelatihan, kompetensi pelatihan juga harus sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dalam negeri dan luar negeri.
Berdasarkan lapangan usahanya, ada tiga sektor tertinggi yang menyerap tenaga kerja yang besar, yaitu sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 28,64 persen, sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perswatan Mobil dan Sepda Motor sebesar 19,95 persen, dan Industri Pengolahan sebesar 13,28 persen. Industri pengolahan yang berperan adalah Industri pengolahan yang padat tenaga kerja.
3. Investasi dan Menumbuhkan Peluang Berusaha
Tiga sektor terbesar penyerap tenaga kerja adalah sektor yang padat tenaga kerja, bukan padat modal. Oleh karena itu Indonesia saat ini memerlukan investasi yang padat karya yang dapat segera menyerap NEET.
Pada tahun 2023, penanaman modal asing di sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan hanya 4,1 persen, Perdagangan dan Reparasi 1,9 persen, dan Industri Makanan, Minuman, tekstil, alas kaki sebesar 7,0 persen. Nilai PMA ketiga sektor tersebut hanya sebesar 13,0 persen.
Pada tahun 2023, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), di Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 10,1 persen, sektor Perdagangan dan Reparasi 7,2 persen, dan Industri Makanan, Minuman, tekstil, alas kaki sebesa 9,1 persen. Nilai PMA ketiga sektor tersebut hanya sebesar 26,4 persen. Presentase PMDN ketiga sektor tersebut melebihi presentasi PMA.
Selain investasi di sektor padat tenaga kerja, pemerintah juga diharapkan mendorong pelaku usaha pemula, di bidang pertanian, industri pengolahan berbasis pertanian, industri kreatif dan pariwisata yang berbasis komunitas. Tumbuhnya para pelaku usaha pemula ini diharapkan dapat menumbuhkan perekonomian, menyerap tenaga kerja dan memperkuat struktur perekonomian.
Ketiga strategi di atas memerlukan waktu lama untuk dapat menyerap NEET. Usaha-usaha yang dapat dilakukan agar dapat menyerap NEET dalam waktu segera antara lain adalah:
- Pelatihan tenaga kerja untuk kebutuhan pasar dalam dan luar negeri;
- Penyaluran dan penempatan tenaga kerja baik di dalam maupun luar negeri;
- Pelatihan untuk peningkatan kesempatan berusaha harus; dan
- Penyerapan tenaga ketja di sektor jasa pemerintah.
Penanganan NEET ini harus dilakukan secara segera dan serius oleh pemerintah. Karena kalau hal ini tidak ditangani secara baik dan cepat dapat menimbulkan hal-hal yang tidak menguntungkan bagi negara, baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Semoga di sisa waktu pemerintahan presiden Jokowi dapat memberikan legacy yang baik dalam penanganan NEET ini. ***
Penulis adalah dosen pasca sarjana UI dan IPB, Pengamat Sosial Ekonomi dan Politik dari Komunitas Berbagi Ilmu.



