POJOKSATU.id, KARAWANG - Suasana malam Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) di Yayasan KH Hasanuddin Djalil, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, berubah menjadi lautan tawa dan tepuk tangan. Kobaran api unggun yang menjadi pusat kegiatan malam itu semakin menghangatkan suasana ketika para peserta mendapat tantangan dadakan dalam sesi bertajuk "Unggun Ceria".
Kegiatan yang dirancang untuk melatih keberanian, kreativitas, dan kekompakan tersebut membuat seluruh peserta harus berpikir cepat. Mereka hanya diberi waktu 10 menit untuk membentuk kelompok kecil, menyusun konsep sederhana, lalu tampil di hadapan seluruh peserta dan pembina yang hadir.
Waktu yang sangat terbatas membuat sebagian peserta sempat panik. Namun di sisi lain, tantangan tersebut justru memunculkan antusiasme dan semangat yang luar biasa. Berbagai ide spontan lahir dalam hitungan menit demi menyuguhkan penampilan terbaik di depan api unggun.
Ketika satu per satu kelompok mulai tampil, suasana malam langsung pecah. Ada kelompok yang berhasil menyuguhkan penampilan cukup matang dengan nyanyian dan yel-yel yang kompak. Namun tidak sedikit pula yang tampil apa adanya dengan modal keberanian dan spontanitas.
Baca Juga: HS Hey Slank Berani Kita Beda Tour Guncang Bandung, Libatkan Band Lokal dan Dukung Industri Kreatif
Justru penampilan yang jauh dari sempurna itu menjadi hiburan tersendiri. Salah gerakan, lupa lirik lagu, hingga tingkah lucu para peserta yang gugup di depan teman-temannya membuat gelak tawa tak henti terdengar sepanjang acara berlangsung.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam rangkaian Persami KKRI Klari. Selain menghibur, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk membangun rasa percaya diri dan memperkuat solidaritas antar peserta.
Siti, salah seorang peserta Persami KKRI, mengaku sempat terkejut ketika panitia memberikan tantangan tersebut. Menurutnya, waktu persiapan yang hanya 10 menit membuat seluruh anggota kelompok harus berpikir cepat dan bekerja sama secara maksimal.
"Kami kaget karena cuma dikasih waktu 10 menit," ujar Siti.
Ia mengaku sempat bingung saat harus langsung berkreasi dan tampil di depan banyak orang. Namun pengalaman tersebut justru menjadi salah satu momen paling menyenangkan selama mengikuti kegiatan Persami.
Baca Juga: Kuliah Umum di UNDIP, Menkeu Purbaya Paparkan Peran APBN Wujudkan Indonesia Maju 2045
"Rasanya campur aduk antara bingung dan seru. Kami langsung disuruh menyanyi dan menampilkan sesuatu di depan semua orang. Walaupun tampil apa adanya dan banyak lucunya, dari sini terlihat kekompakan dan keberanian kami. Ini pengalaman yang tidak akan terlupakan di KKRI Klari," katanya.
Di bawah langit malam Klari yang cerah, para peserta tampak duduk melingkar mengelilingi api unggun sambil menyaksikan penampilan teman-teman mereka. Sesekali terdengar sorakan semangat dan tepuk tangan yang menambah semarak suasana.
Kegiatan Unggun Ceria tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga bagian dari proses pembentukan karakter yang menjadi salah satu tujuan utama dalam pendidikan dan pelatihan KKRI.
Pasiter Kodim 0604/Karawang, Kapten Inf Kihajar, memberikan apresiasi atas semangat yang ditunjukkan para peserta. Menurutnya, tantangan spontanitas tersebut memang sengaja dirancang untuk menguji kemampuan para kadet dalam beradaptasi dan bekerja sama di bawah tekanan waktu.
"Materi Unggun Ceria dengan tantangan spontanitas ini sengaja diberikan untuk melihat sejauh mana mental, jiwa kepemimpinan, dan kerja sama para kadet dalam waktu singkat," ujarnya.
Kapten Inf Kihajar menilai seluruh peserta telah menunjukkan sikap positif selama kegiatan berlangsung. Baik yang tampil dengan persiapan matang maupun yang tampil seadanya, semuanya memperlihatkan keberanian untuk mencoba dan semangat untuk tampil di depan umum.
"Kami bangga melihat semangat mereka. Mau yang siap ataupun yang tampil apa adanya, semuanya menunjukkan kelucuan yang jujur dan mental pantang menyerah. Inilah wujud nyata pembentukan karakter generasi muda yang tangguh dan berani," tegasnya.
Melalui kegiatan seperti ini, KKRI berharap para peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman berkemah, tetapi juga memperoleh pelajaran berharga tentang kerja sama, kepemimpinan, keberanian, dan kemampuan menghadapi situasi yang tidak terduga.
Tawa yang pecah di sekitar api unggun malam itu mungkin akan segera berlalu. Namun pengalaman berharga yang tercipta dari tantangan sederhana selama 10 menit tersebut dipastikan akan terus dikenang oleh para peserta sebagai bagian dari perjalanan mereka dalam membangun karakter dan jiwa kepemimpinan di masa depan. ***




