POJOKSATU.id, KARAWANG – Sejumlah petani di Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap rencana dan aktivitas proyek pengarugan lahan milik PT Pertamina EP Bambu Besar yang berada di wilayah Desa Ciranggon, Kecamatan Majalaya.

Kekhawatiran tersebut muncul karena lokasi lahan yang sedang dilakukan pengarugan berbatasan langsung dengan area persawahan milik warga. Para petani menilai aktivitas alat berat dan proses penimbunan tanah berpotensi mengganggu habitat tikus yang selama ini berada di kawasan tersebut.

Jika hal itu terjadi, para petani khawatir hama tikus akan berpindah secara massal ke area persawahan yang saat ini sudah mulai ditanami padi.

Perwakilan petani Plawad, Haji Acam Suhendra, mengatakan pihaknya tidak menolak keberadaan maupun operasional proyek yang dijalankan perusahaan milik negara tersebut. Namun, ia berharap waktu pelaksanaan pekerjaan dapat dipertimbangkan kembali agar tidak menimbulkan dampak terhadap sektor pertanian warga.

Baca Juga: Tak Ada Istilah Kebal Hukum, Kejagung Bakal Periksa Ketua BGN yang Menyeret 24 Nama Besar di Kasus Korupsi MBG

Menurutnya, kondisi tanaman padi yang saat ini sedang memasuki masa pertumbuhan sangat rentan terhadap serangan hama tikus. Apabila populasi tikus berpindah ke area persawahan akibat terganggunya tempat tinggal mereka, kerugian petani diperkirakan akan cukup besar.

“Kami khawatir tikus-tikus yang selama ini bersarang di area lahan Pertamina akan keluar dan mencari tempat baru ketika proses pengarugan berlangsung. Sawah yang sudah ditanami bisa menjadi sasaran utama mereka,” ujar Haji Acam, Selasa (23/6).

Ia menjelaskan bahwa para petani saat ini tengah berupaya menjaga produktivitas lahan pertanian sebagai bagian dari kontribusi terhadap ketahanan pangan daerah. Karena itu, mereka berharap seluruh pihak dapat memperhatikan kondisi yang ada di lapangan.

Haji Acam menegaskan, aspirasi yang disampaikan petani bukan bentuk penolakan terhadap proyek perusahaan. Sebaliknya, para petani hanya menginginkan adanya penyesuaian jadwal pekerjaan agar tidak berbarengan dengan masa tanam dan pertumbuhan padi.

Baca Juga: 22 Kali Menguntit dan 133 Kali Tekan Bel Rumah Jungkook BTS, Fans asal Brasil Ini Dijatuhi Hukuman Setahun Penjara, Terancam Dideportasi dari Korsel

Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi solusi yang menguntungkan semua pihak tanpa menghambat kegiatan perusahaan maupun aktivitas pertanian masyarakat.

“Kami tidak menghalangi proyek. Kami hanya berharap pengerjaannya bisa dilakukan setelah musim panen selesai sehingga risiko terhadap tanaman padi dapat diminimalkan,” katanya.

Ia menambahkan, apabila pengarugan tetap dilakukan dalam waktu dekat, para petani khawatir akan menghadapi peningkatan serangan hama yang dapat mengganggu hasil panen mendatang.

Selain berpotensi menurunkan produktivitas pertanian, serangan tikus juga dapat menambah biaya yang harus dikeluarkan petani untuk pengendalian hama.

Karena itu, para petani berharap PT Pertamina EP Bambu Besar maupun pihak pelaksana proyek dapat mempertimbangkan masukan tersebut dan membuka ruang komunikasi dengan masyarakat sekitar.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari manajemen PT Pertamina EP Bambu Besar maupun kontraktor pelaksana proyek terkait permintaan dan kekhawatiran yang disampaikan para petani di Kelurahan Plawad.

Warga berharap solusi terbaik dapat ditemukan sehingga aktivitas proyek tetap berjalan tanpa mengganggu sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat. ***