POJOKSATU.id, KARAWANG – Keranjang berisi donat dan aneka makanan ringan yang dibawa Ibu Rohati setiap hari bukan sekadar alat untuk mencari nafkah. Di balik setiap langkahnya menyusuri kampung-kampung di Kabupaten Karawang, tersimpan harapan besar agar anak semata wayangnya tetap bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.

Perempuan berusia 51 tahun yang tinggal di Dusun Rawagede I, Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang itu harus menjalani hidup sebagai orang tua tunggal setelah suaminya meninggal dunia empat tahun lalu.

Sejak saat itu, seluruh tanggung jawab keluarga berada di pundaknya. Tidak hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, Rohati juga harus memastikan putranya yang kini berusia 12 tahun tetap bisa bersekolah dan mengejar cita-citanya.

Setiap pagi, Rohati berangkat membawa dagangan berupa donat dan berbagai makanan ringan untuk dijajakan dari kampung ke kampung. Penghasilannya memang tidak besar, namun cukup untuk mempertahankan kehidupan sederhana mereka.

Baca Juga: Eksekusi Lahan Hotel Sultan Berakhir Ricuh, Massa Lempari Aparat dengan Batu dan Botol

“Alhamdulillah, modal sekitar Rp50.000. Kalau dagangan habis biasanya dapat keuntungan sekitar Rp50.000 sehari. Uang itu dipakai untuk kebutuhan makan dan sekolah anak,” ujar Rohati saat ditemui usai pencairan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP), Kamis (18/6/2026).

Bagi sebagian orang, nilai bantuan pendidikan sebesar Rp450.000 mungkin terlihat tidak terlalu besar. Namun bagi Rohati, dana tersebut memiliki arti yang sangat penting.

Bantuan itu datang pada saat yang tepat, ketika putranya akan memasuki masa kenaikan kelas dan membutuhkan berbagai perlengkapan sekolah, mulai dari buku hingga seragam baru.

Di tengah keterbatasan ekonomi yang dihadapinya, Rohati mengaku kerap kesulitan mencari tambahan modal usaha. Bahkan, dalam kondisi tertentu ia terpaksa meminjam uang kepada lembaga keuangan informal atau yang dikenal masyarakat sebagai bank keliling.

Pinjaman tersebut sering kali menjadi beban tambahan karena adanya bunga yang harus dibayar. Akibatnya, keuntungan dari hasil berdagang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan keluarga justru berkurang untuk menutupi cicilan.

Baca Juga: 15 Saham dengan Nilai Transaksi Terbesar Mei 2026, BBCA Kokoh di Posisi Teratas

Karena itu, bantuan PIP yang diterimanya menjadi angin segar yang sangat berarti bagi keberlangsungan usaha kecil dan pendidikan anaknya.

“Bantuan Rp450.000 ini sangat membantu rakyat kecil seperti saya. Bisa dipakai untuk tambahan modal dagang dan membeli kebutuhan sekolah anak,” tuturnya.

Meski harus menghadapi berbagai kesulitan hidup seorang diri, Rohati tidak pernah kehilangan semangat. Baginya, masa depan anak merupakan alasan utama untuk terus berjuang.

Setiap hari, ia berusaha bangun lebih pagi, menyiapkan dagangan, lalu berjalan menyusuri lingkungan sekitar demi mendapatkan penghasilan. Semua dilakukan agar putranya tidak mengalami hambatan dalam pendidikan.

Senyum dan semangat belajar sang anak menjadi kekuatan terbesar yang membuat Rohati tetap bertahan menghadapi berbagai tantangan hidup.

Di tengah perjuangannya, Rohati berharap program bantuan pendidikan dari pemerintah seperti Program Indonesia Pintar dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak keluarga kurang mampu.

Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya meringankan beban ekonomi, tetapi juga memberikan harapan bagi anak-anak dari keluarga sederhana untuk tetap melanjutkan pendidikan.

Ia ingin anaknya dapat menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi agar memiliki masa depan yang lebih baik dibandingkan kondisi yang ia alami saat ini.

“Harapan saya program ini terus ada, supaya anak saya bisa terus sekolah dan meraih cita-citanya,” ucap Rohati dengan mata berkaca-kaca.

Kisah Rohati menjadi gambaran nyata perjuangan banyak orang tua di berbagai daerah yang bekerja keras demi pendidikan anak-anak mereka. Di tengah keterbatasan ekonomi, mereka tetap percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan.

Bagi Rohati, setiap donat yang terjual bukan hanya menghasilkan uang untuk bertahan hidup. Lebih dari itu, setiap rupiah yang terkumpul adalah investasi untuk masa depan putranya agar tetap bisa melangkah menuju cita-cita yang diimpikan. ***