POJOKSATU.id, KARAWANG - Di sebuah sudut Dusun Cimider, Desa Pasir Mulya, Kecamatan Telagasari, Karawang, deru mesin penggiling kedelai dan kepulan uap dari tungku besar bukan sekadar suara dan pemandangan biasa. Di kampung kecil ini, bunyi mesin dan aroma kedelai rebus menjadi denyut ekonomi yang menghidupi puluhan keluarga.
Warga setempat menyebutnya Kampung Tahu Cimider. Sebuah sentra industri tahu rumahan yang telah lama menjadi penopang ekonomi masyarakat desa. Dari pagi hingga malam, aktivitas produksi tak pernah benar-benar berhenti. Tangan-tangan terampil bekerja dalam ritme yang nyaris tanpa jeda, menggiling kedelai, merebus sari, mencetak, hingga memotong tahu untuk didistribusikan ke pasar.
Di balik kepulan uap panas itu, tersimpan cerita tentang kerja keras, pengorbanan, dan harapan. Ada keluarga yang bertahan dari hasil produksi tahu, ada anak-anak yang sekolah dari jerih payah orang tua di dapur produksi, dan ada masa depan yang perlahan dijaga dari penghasilan harian yang tak seberapa.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Berkah UMKM Karawang, Produksi Tahu-Tempe Naik 6 Kali Lipat
Salah satu yang merasakan betul denyut ekonomi Kampung Tahu Cimider adalah Marusin (44). Pria ini sudah lebih dari satu dekade bekerja di industri tahu rumahan tersebut. Sejak 2013, hidupnya tak pernah jauh dari aroma kedelai rebus dan panas tungku produksi.
Bagi Marusin, pekerjaan itu bukan sekadar rutinitas. Di balik peluh yang menetes setiap hari, ada dua anak yang harus ia besarkan. Ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. Ada pula beban hidup yang kini semakin berat setelah sang istri memilih merantau menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri demi membantu ekonomi keluarga.
Setiap hari, Marusin memulai aktivitas sejak pukul 06.00 WIB. Jam pulangnya tak pernah pasti. Semua bergantung pada banyaknya pesanan dan ritme produksi hari itu. Jika permintaan tinggi, ia bisa bekerja hingga malam.
Namun bagi Marusin, kelelahan bukan hal yang paling berat.
Baca Juga: Bupati Karawang Pastikan Perbaikan Jalan Tak Sekadar Cepat, Tapi Berkualitas
“Kalau ditanya lelah, namanya kerja pasti capek. Tapi di sini sukanya banyak teman dan saudara, bisa saling bercanda. Itu yang bikin lelah jadi hilang,” ujarnya saat ditemui di sela aktivitas produksi.
Di tempat itulah, Marusin menemukan lebih dari sekadar pekerjaan. Ia menemukan lingkungan yang akrab, suasana kekeluargaan, dan kebersamaan yang membuat beban kerja terasa lebih ringan.
Dari pekerjaannya itu, Marusin membawa pulang sekitar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per hari. Jumlah yang mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi sangat berarti untuk menjaga dapur rumahnya tetap mengepul.
Penghasilan itu menjadi satu-satunya sumber nafkah utama yang menopang kehidupan keluarganya di kampung.
Cerita serupa datang dari Supriyat, warga asli Cimider yang juga menggantungkan hidup dari industri tahu rumahan. Bedanya, Supriyat tak hanya bekerja, tetapi juga ikut mengelola UMKM kecil berbasis produksi tahu.
Baca Juga: Alumni SMK TK 76 Nurul Falah Karawang Tertipu Jutaan Rupiah, Berawal dari Rekomendasi Guru
Bagi Supriyat, usaha tahu bukan sekadar pekerjaan turun-temurun, melainkan tumpuan utama ekonomi keluarga. Bersama istrinya, ia menjaga usaha kecil itu tetap berjalan di tengah naik-turunnya harga bahan baku dan fluktuasi permintaan pasar.
Supriyat mengaku, dalam beberapa waktu terakhir, produksi tahu di Cimider mengalami peningkatan cukup signifikan. Permintaan pasar naik, terlebih sejak adanya tambahan pesanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, kehadiran program tersebut memberi dampak langsung bagi pelaku usaha tahu rumahan.
“Biasanya untuk pengiriman ke pasar pagi itu sekitar 3 kuintal sehari. Tapi kalau ada tambahan pesanan seperti untuk MBG, produksi bisa naik sampai 5 kuintal,” ungkap Supriyat.
Kenaikan produksi itu bukan sekadar angka. Di balik tambahan dua kuintal tahu per hari, ada tambahan jam kerja, ada tambahan tenaga yang dibutuhkan, dan tentu ada tambahan penghasilan yang sangat berarti bagi para pekerja.
Bagi Supriyat yang memiliki tiga anak, peningkatan produksi berarti napas yang lebih lega bagi ekonomi rumah tangga. Kebutuhan sekolah anak, biaya dapur, hingga kebutuhan harian sedikit lebih tertopang ketika pesanan bertambah.
Istrinya pun turut terlibat langsung dalam operasional usaha. Dari membantu proses produksi hingga memastikan distribusi berjalan lancar, keduanya menjadi pasangan yang sama-sama menopang roda ekonomi keluarga.
Di Kampung Tahu Cimider, pemandangan seperti itu bukan hal baru. Banyak rumah tangga yang bertahan karena usaha tahu dijalankan bersama seluruh anggota keluarga. Suami bekerja di dapur produksi, istri membantu pengemasan atau penjualan, anak-anak tumbuh dengan pemandangan tungku dan cetakan tahu sebagai bagian dari keseharian.
Inilah wajah ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya. Sederhana, kecil, tetapi nyata menghidupi.
Meski begitu, jalan yang mereka tempuh tidak selalu mudah. Harga kedelai yang kerap naik, biaya produksi yang ikut membengkak, dan jam kerja yang sering molor hingga malam menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.
Baca Juga: DPRD Karawang Masih Sepi, Pedagang Sudah Siaga di Pintu Gerbang
Namun di tengah keterbatasan itu, para pekerja tetap bertahan. Sebab mereka tahu, industri tahu rumahan ini bukan hanya soal produksi pangan, melainkan soal keberlangsungan hidup.
Pendapatan harian yang berkisar antara Rp70 ribu hingga Rp100 ribu memang jauh dari kata mewah. Tetapi bagi warga Cimider, angka itu cukup untuk menjaga ekonomi keluarga tetap berjalan.
Harapan besar kini mereka gantungkan pada keberlanjutan program-program yang mampu menyerap produk lokal. Permintaan berskala besar seperti MBG dianggap menjadi angin segar yang memberi ruang tumbuh bagi UMKM desa.
Bagi para pekerja seperti Marusin dan Supriyat, program semacam itu bukan sekadar tambahan pesanan. Itu adalah peluang agar usaha kecil tetap hidup, agar dapur produksi terus menyala, dan agar ekonomi desa tetap bergerak.
“Saya hanya pekerja, harapannya usaha ini lanjut terus. Kalau pesanan banyak, ekonomi kecil seperti kami sangat terbantu. Semoga ke depan makin bertambah dan berkembang lagi,” kata Marusin.
Dari Kampung Tahu Cimider, kita melihat satu hal yang sering luput dari perhatian: ekonomi desa sesungguhnya dibangun dari kerja-kerja kecil yang tekun dan konsisten.
Di balik tahu yang tersaji di meja makan, ada peluh yang mengalir sejak subuh. Ada harapan yang digantungkan pada setiap cetakan. Dan ada denyut ekonomi yang terus hidup dari kampung kecil bernama Cimider. ***




